Nov 28
Fenomena Alam

Kisah ini hanya dikhususkan buat para pencinta alam, kalo anda bukan seorang pencinta alam, sebaiknya baca lainnya aja dari pada sakit hati, tidak enak hati atau hati-hati ada banyak galian disepanjang perjalanan anda…lho!!!. Kebanyakan para pencinta alam menyukai musik rock hingga dangdut, fenomena alam memang sudah biasa terjadi.
“Dulu saya ini anak punk, rock jenis hardcore yang lebih keras dari rock biasa. Gun N’Roses itu bagi saya kurang keras,” kata Alam yang ditemui di Hotel Indonesia.
Fenomena Alam itu sebenarnya sudah biasa di blantika musik. Praktisi industri musik selalu mencari terobosan baru untuk meramaikan pasar. Demikian pula konsumen musik membutuhkan semacam kejutan di tengah bahan dengaran yang dianggap monoton. Alam dengan kolaborasi rock-dangdut itu nyatanya mampu merebut perhatian publik. Sebagai pendatang baru, album kaset yang diedarkan Blackboard sejak Februari sampai September 2002 ini terjual sekitar 400.000. Namun, menurut Alam, versi bajakan jauh lebih banyak beredar di pasar.
Secara formal, sukses Alam dikukuhkan dengan gelar Penyanyi Dangdut Pendatang Baru Pria Terbaik dari Anugerah Dangdut Televisi Pendidikan Indonesia (ADTPI) 2002 pada 5 September lalu.
Sehari kemudian Alam mendapat empat penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) Sharp 2002, termasuk untuk kategori Artis Pendatang Baru Terbaik, dan Artis Solo Pria Dangdut Terbaik.
Yang paling kasat mata dari larisnya Alam adalah tingkat keseringannya ia tampil dalam pertunjukan di berbagai daerah. Dalam bulan September ini Alam tampil 20 kali di berbagai daerah seperti Klaten, Wonogiri, Boyolali, Sragen, Kediri, dan Banjarnegara. Sampai juga ia ke luar Jawa seperti Madura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, serta ke negeri tetangga Brunei Darussalam.
Tawaran untuk manggung mulai berdatangan sekitar bulan Mei, atau sekitar tiga bulan setelah rilis album Mbah Dukun. Pada bulan Mei Alam tampil “cuma” enam kali. September lalu, dia memenuhi 20 undangan menyanyi. Hajjah Enok Erni, ibu kandung sekaligus manajer Alam, dengan telaten meladeni datangnya tawaran. Sewaktu ditemui di sebuah kamar di Hotel Indonesia, wanita yang akrab disapa Ibu Haji itu sedang menemui seorang penyelanggara dari Banjarnegara, Jawa Tengah, yang akan memanggungkan Alam bulan Oktober ini. Dua tamu lain datang meminta Alam tampil di Banjarmasin.
Telepon seluler Ibu haji berkali-kali berdering untuk keperluan yang sama. Ketika sang manajer sibuk melayani tawaran manggung, Alam, sampai pukul 13.00 masih tidur setelah semalam manggung di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ritme tidur Alam memang membiasakan Alam untuk begadang hingga jauh malam. Alam yang lulus program diploma satu, jurusan mesin, Itenas, Bandung, memang betah melek.
***
ALAM boleh dibilang sebagai meteor yang melesat di jagat hiburan musik. Dengan satu album yang diterbitkan pada Februari lalu, suara Alam dengan cepat dikenali dan digemari publik. Musiknya diperdengarkan di angkutan umum, rumah-rumah di gang padat di Jakarta, sampai ke MTV, pangkalan hiburan musik yang peka menangkap gejala baru di blantika musik itu. Termasuk Alam yang membawa vokal metal ke pentas dangdut.
Vokal metal Alam terbentuk lewat pergaulan dengan band-band metal yang hidup di Bandung. Untuk mempertegas kesan metal dari vokalnya, Alam pernah menggunakan cara digorok. Dia menggunakan daun yang dimasukkan ke hidung lalu keluar dari mulut. Cara tersebut memang menyakitkan, namun menurut Alam, pernapasan menjadi lebih lega karena kotoran di tenggorokan keluar.
“Bolongan hidung jadi lebih besar, napas tidak tersendat dan tidak ada tekanan yang bisa menyumbat hidung. Suar
a menjadi berlendir, serak-serak besar, heahhh…” kata Alam memberi contoh.
Suara Alam itu memang tidak lazim di khazanah dangdut yang antara lain dikenali dengan vokal mendayu-dayu. Namun, begitulah Alam mengakrabi metal sebagai realitas dengaran dalam lingkup pergaulan kaum muda. Sementara itu, di lingkungan keluarga, Alam tumbuh dengan tradisi orkes Melayu yang belakangan dikenal sebagai dangdut. Ayah Alam, Haji Ibrahim-yang mampu memainkan saksofon dan klarinet-pernah bergabung dengan orkes Melayu. Sang ibu, Hajjah Enok Erni, pernah menjadi penyanyi pop dangdut pada era tahun 1970-an yang dikenal di sekitar Tasikmalaya. Mereka kini tak lagi aktif bermusik, tapi mempunyai usaha, antara lain toko material.
Dari orangtua yang tergolong orang dangdut itu, lahirlah Vetty Vera, penyanyi dangdut yang dikenal sejak awal tahun 1990-an. Sepuluh tahun kemudian Alam menyusul ke pentas dangdut. Alam yang berjarak usia tujuh tahun dari Vetty Vera itu semula sering diajak manggung, meski sebatas sebagai pengawal sang kakak. Alam sesekali diberi kesempatan menyanyi satu lagu.
“Waktu itu saya cuma hafal satu lagu dari Meggy Z, Benang Biru. Saya menyanyikan dengan suara metal dan orang ada yang suka.”
Suatu kali pada tahun 2000, Vetty merekam album Gerimis di Studio Soneta milik Rhoma Irama, di Depok. Pada kesempatan itu Alam diperkenalkan dengan pencipta lagu dangdut Endang Kurnia. Alam kemudian diminta mencoba dua lagu dari Kurnia, dan baru setahun kemudian Alam mempersiapkan pembuatan album dangdut. Hasilnya adalah sebuah kejutan, yaitu ketika suara metal yang dikemas dalam musik dangdut, ternyata diterima publik.
“Dulu saya enggak mau ke dangdut. Tapi, ya, apa boleh buat, keluarga saya di dangdut semua. Tapi, di dangdut saya tidak mau diatur. Dangdut saya tetap dengan suara rock,” tutur Alam.
***
ALAM kini boleh disebut selebritis, dalam pengertian orang yang dikenal publik. Pelayan Hotel Indonesia hingga tamu hotel berdasi mengenali sosok Alam dengan menyapa sebagai “Mbah Dukun.” Namun, dia masih ingin berlaku sebagai Alam. Dia juga menolak predikat superlatif pada dirinya. Alam menolak ketika diminta membuat iklan pertunjukan yang akan disiarkan di radio yang mengharuskan Alam menyebut diri sebagai “penyanyi terheboh”.
“Jangan meminta saya mengatakan diri sebagai ‘penyanyi terheboh’, dong. Itu sama halnya saya mengagungkan diri sendiri.”
Alam mengakui masih baru di dunia hiburan yang penuh basa-basi “protokoler.” Termasuk harus tampil rapi dan menjaga gengsi. Popularitas Alam sendiri memang masih harus diuji di waktu mendatang.
“Kalau orang sudah terkenal itu seakan harus shopping, atau refreshing. Kalau saya, mah, mancing saja,” tuturnya.
Selain bermain PlayStation atau mengutak-atik komputer, menurut Hajjah Enok, Alam masih suka menjalani hobi lamanya di Tasikmalaya. Dengan logat Sunda yang kental, sang ibu mengatakan, “Alam, mah, sukanya ngobor belut.”
Maksudnya, Alam suka mencari belut malam-malam dengan obor. Alam, “Mbah Dukun” yang nge-rock itu, rupanya masih alami. (frans sartono)





