Feb 25

Parkour dan Jumpolitan

Parkour

Traceur, photo by baston, original in flickr cc

Ini adalah kisah tentang kebebasan, sekawanan pemuda kota yang sudah jenuh dengan kondisi, mulai mencari sesuatu yang benar-benar baru dan tidak membosankan yang bisa dilakukan sepulang sekolah. Di ceritakan secara khusus mulai tahun 1987 oleh David Belle, pria kelahiran Vietnam dan berwarganegara Prancis (French Indochina) sebagai pendiri Klub Yamakasi yang dikenal juga sebagai klub pertama dari olahraga ini, Parkour. Yamakasi juga sebagai film pertamanya untuk olah raga ini.

Parkour, biasa disingkat PK, berasal dari kata “parcours du combattant” yang berarti halang rintang untuk latihan militer. Aktifitas para Traceurs (sebutan bagi para pelaku Parkour) bergerak dari titik A menuju titik B dengan gerakan bebas, dan seefesien mungkin, mengedepankan seni olah tubuh dan kelenturan fisik, bukan saja kekuatan fisik, kekuatan imaginasi justru yang menjadi utama bagi olah raga ini untuk menghasilkan gerakan-gerakan indah, terjadi karena perpaduan dari atletik, gymnastik, beladiri dan seni. Dikenal juga oleh kebanyakan sebagai seni melarikan diri.parkour dan free running

Akrobatik Traceur photo by Safe Solvent, on Flickr

Masyarakat London mengenal olah raga ini dengan sebutan Free Running, yang dikembangkan oleh Sebastien Faucan, yang pada awalnya kedua istilah ini adalah aktifitas yang sama, namun karena kedua pendiri ini mempunyai perbedaan pada prinsip-prinsipnya, akhirnya berakhir menjadi dua aktifitas yang berbeda. Aktifitas Free Running di dokumentasikan dalam bentuk film “Jump London”

free running and parkour are separate, distinct concepts — a distinction which is often missed due to the aesthetic similarities. Parkour as a discipline comprises efficiency, whilst free running embodies complete freedom of movement — and often includes many acrobatic maneuvers. Although often times the two are physically similar, the mindsets of each are vastly different.

Meskipun aktifitasnya terlihat sama, tapi secara konsep bisa berbeda. Kedua olah raga ini tidak memerlukan alat apapun untuk berlaga, mereka hanya mengandalkan kekuatan Kaki dan Tangan kosong, menggunakan ketrampilan yang unik dalam menjelajah kota dan menggunakan inspirasi bebas mereka guna menemukan jalur dan celah alternatif, bergerak se efisien dan seindah mungkin.

Parkour

Melompat,photo by amf on Flickr

Zorro inspirator Parkour, sebelum David Belle dan kawan-kawannya melakukan aktifitas ini, Douglas Fairbanks dalam filmnya Zorro pahlawan bertobeng pada tahun 1915-1920, malah sudah memprak
tekkan aktifitas ini, salah satu petikannya dikisahkan saat Zorro lagi dikejar-kejar gerombolan penjahat yang berupaya menangkap dan membunuhnya. Bisa jadi sang Zorro inilah Inspirator sekaligus Mahagurunya para Traceurs…sapa tau?

Gerakannya akan terlihat memukau bagi kalangan awam, terkesan liar dan kasar, cenderung ugal-ugalan, melewati segala rintangan dengan cara yang unik, melompat, salto, meluncur, memanjat dan beberapa macam teknik yang secara terus menerus dikembangkan sesuai dengan filosofi kebebasan mereka. Tidak salah sehingga beberapa kalangan menggolongkan olah raga ini sebagai olahraga ekstrem yang beresiko tinggi. Meski demikian para Traceur merasa lebih senang jika Parkour digolongkan sebagai urban sport, karena mereka menegaskan bahwa aktifitas ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang berminat untuk belajar dan berlatih. Resiko pasti ada, tapi semuanya dicoba di kurangi melalui proses berlatih terus menerus.

Free Running

Photo by nfg on Flickr 

Olahraga tentang seni, kreatifitas dan kebebasan ini rupanya juga telah sampai di Indonesia, yang awalnya mengetahui informasi ini dari internet, saat ini parkour telah menyebar ke kota-kota besar di Indonesia, untuk mempersatukan mereka juga telah membangun situs informasi bersama di www.parkourindonesia.web.id. Dari sinilah komunitas Parkour Indonesia saling mengenal dan berkembang bersama.

Latihan parkour

Berlatih photo by Marco Gomes on Flickr 

Jenis-jenis olah raga yang bisa berkembang dan bertambah di kota-kota besar biasa di kelompokkan dalam Urban Sport, olah raga kaum urban yang biasanya muncul karena keinginan ber kompetisi atau kebutuhan akan kreatifitas yang cenderung berlebih, atau keterbatasan akses. Sebagai salah satu contoh misalnya aktifitas berlatih mengenal tebing dari olah raga Rock Climbing yang dikenal dengan Bouldering yang berarti aktifitas panjang tebing yang bergerak menyamping, mengalami pengembangan menjadi Buildering, contoh lainnya adalah Street Stunts, Tricking, Soliton dan masih banyak yang lainnya.

Saya, sebagai kalangan yang ikut mensukseskan Urbanisasi, mencoba ingin ikut berpartisipasi dengan mengingat aktifitas yang sering saya lakukan saat sekolah menengah pertama di Surabaya, setidaknya menjadi aktifitas sehari-hari sepulang sekolah selama kurang lebih dua tahun dari kelas 2 sampai lulus. Menempuh jarak kurang lebih 20 Km dari Wonokromo ke Tanjung Perak. Sapa tau bisa menginternasional dan diikuti oleh kaum urban dunia, minimal bisa di catet di wikipedia indonesia hehhehehehe, simak aja tulisan berikutnya, dan jangan lupa mohon dukungannya.

Binatang apakah Jumpolitan itu?

Jelas bukan binatang atau spesies langka karena ini adalah olah raga rintisan. Kita bahas istilahnya terlebih
dahulu, saya yakin anda baru mendengarnya (yakin 100%), karena memang belum pernah ada, karena ini masih dalam taraf ide dan usulan, proposalnyapun lagi dikonsep dan sayangnya masih dalam angan-angan. Pada tahap ini, Saya masih mengira-ngira mungkin seperti inilah nama Parkour dikenal oleh dunia. Si Pelakon tentunya perlu sebuah sebutan ringkas, sebuah nama aktifitas untuk saling berkomunikasi dengan komunitasnya dan yang penting bisa saling mengerti dan dimengerti sesuai dengan kaidah dan tatacara berkomunikasi yang baik dan benar.

Satu kata “Parkour” bisa lebih dimengerti oleh komunitasnya sebagai bentuk penjelasan, ajakan, sebutan, dan tentu saja penerjemahan dari serangkaian aktifitas tersebut, memang akan sedikit asing pada awalnya karena istilah ini belum pernah ada sebelumnya, tapi lambat laun istilah pasti dikenal khalayak karena seringnya dipakai. Dari pada kita menyatakannya dengan kalimat panjang, ayo prend, kita berlari, melompat, menerjang dan berakrobat dari sini ke sana…nah ribet kan!!?? oke, kita sederhanakan aja dengan Parkour, wusshhh…

Nah, sekarang saatnya Jumpolitan, istilah ini berasal dari gabungan 2 (dua) kata, Jump dan Metropolitan, ada sedikit gubahan dari bahasa ibunya “Jempalitan” biar gak kelihatan ndeso dan biar punya harapan akan bergaung International, juga karena yakin pasti akan ada Olimpiadenya. Isin to pak ne, kalo ditanya sama Bu le tentang asal bahasa ini, terus kita njawabnya, soko Wonokromo Pak le.

Jumpolitan, arti bebasnya adalah Lompatan di Kota Metropolitan. Olahraga ini adalah gabungan dari Lari cepat, Lompat jauh, Pencak Silat, Pernafasan dan tentu saja Seni. Para Jompoliter, harus memulai startnya dari lampu merah (bang jo), setopan kereta api atau tikungan-tikungan karena olahraga ini membutuhkan selain sepatu yang daya cengkramnya cukup bagus, juga benda bermesin dan berbahan bakar bensin atau solar yang bergerak dengan kecepatan rata-rata antara 50-100 km/jam, bisa berbentuk Mobil Pickup (bak terbuka) atau Truk Diesel, tentang merk sesuai pilihan dan selera, karena sangat beragam mulai dari Colt Diesel, Kuda, Kijang, Panther dan segala macem nama Margasatwa lainnya yang berkeliaran di jalan raya, yang prinsip adalah punya bak dibelakangnya, diusahakan kosong dan tidak tertutup oleh terpal atau barang lain.

Jumper, sebutan ringkas buat lakon olah raga ini, sudah pasti pantang bilang, Bang, numpang yah…atau melambaikan tangan sebagai isyarat untuk kendaraan agar memperlambat kecepatan, karena Jumper adalah gesit, tangkas, cepat, kuat dan yang pasti adalah irit, karena tidak mengeluarkan ongkos sepeserpun untuk balas budi tumpangannya. Jumper segera naik ke bak berjalan dengan caranya masing-masing, tentu saja dengan sentuhan seni melompat ke atas bak kosong tersebut.

Solidaritas, ketangkasan dan kecepatan

Melompat ke bak pick up, tidak dilakukan secara individu, karena semangat kerja Team disini sangat dijunjung tinggi, bisa dilakukan bertiga, berempat atau lebih. Target utamanya adalah jangan sampai ada rekan Team yang ketinggalan tercecer dijalan raya karena tidak ikut terangkut, jika ini terjadi maka team yang sudah berhasil terpaksa harus turun lagi dan mengulang dari awal, masalah tersebut bisa terjadi karena orang pertama kurang cekatan membantu rekan lain atau kendaraan melaju terlalu kencang. Sebenarnya tidak terlalu sulit, asal tangan kita tertangkap sama rekan yang sudah berada di kendaraan, hanya dengan lompatan kecil saja, dan oleh efek momentum yang tepat, badan kita akan terangkat dengan cepat dan mudah ke atas bak. Kondisi akan terkendali jika semuanya sudah berkumpul diatas bak, tinggal mengikuti laju kendaraan hingga sampai ke tujuan.

Tantangan olahraga ini yang sebenarnya adalah saat harus turun, karena mobil tiba-tiba belok arah tidak sesuai dengan tujuan akhir kita atau memang kita sudah sampai pada lokasi yang ditetapkan sebelumnya. Pengalaman sih mengatakan sangat jarang tujuan ditempu
h langsung sekali jalan, kebanyakan harus berganti-ganti kendaraan karena memang dari awal kita pantang tanya sama pak sopirnya, mau ke arah mana pak?

Sedikit berbeda dengan Lompat Jauh, statis dan aman karena yang bergerak hanya pelompatnya, Jumper lebih dinamis karena semua komponennya ikut bergerak bersama, belum lagi tantangan kendaraan yang ada di belakang, bisa jadi posisi landing aman dan selamat tapi justru tertabrak mobil atau motor yang juga sedang melaju. Arah melompat bisa lurus dengan catatan arus Lalin dibelakang lagi kosong (sepi), tapi kalo pas lagi padat, Jumper harus punya keahlian bergerak menyamping, melompat dari sudut kanan atau kiri bak, mantap man…karena hal ini sering membuat panik pengemudi dibelakangnya, seakan menantang untuk saling berbenturan.

Pengalaman Masa SMP

Setidaknya saya dan gang melakukan kegiatan ini selama kurang lebih 2 tahun, sayangnya belum sempat bikin klub, apalagi filmnya. Hanya dua tahun karena setelahnya lulus dan masuk tahun ajaran baru tingkat SMA, jarak sekolah SMA yang baru dengan rumah sangat dekat, akhirnya Bapak kasih modal transpor cukup dengan Sepeda Pancal saja.

Ada juga kelompok lain yang mengembangkan olahraga yang sejenis dengan ini yang banyak dikenal dengan “Bajing Loncat”, meskipun sama aktifitasnya tapi beda niatannya. Jika para Jumper bermotivasikan cari tantangan sekaligus nyari tumpangan sedangkan Bajing Loncat memang dasar Bajingan, soalnya beraktifitas kriminil, soale nyolong barang/sesuatu di truk, kalo ketangkep bisa digebukin massa dan berakhir di bui. Dari dasar tersebut, kami tetap memisahkan kedua istilah ini sebagai aktifitas yang berbeda.

Sisi Menariknya

Rasa yang paling menantang dan bikin ketagihan dari kedua aktifitas ini adalah pas kita berada di udara, sesaat dalam hitungan beberapa detik sebelum kembali mendarat di landasan pacu, kembali ke mem-Bumi. Rasa-rasa hilang sesaat dari peredaran, meski detik berikutnya kita sudah menapakkan lagi kebumi, dengan selamat ataupun tidak.
Baiklah, saatnya memilih dan memihak, kalo anda ingin bergabung dengan para Traceur indonesia, silahkan bergabung di Parkour Indonesia, dan kalo tertarik beraktifitas dengan jumper silahkan bergabung melalui isian komentar dibawah ini, itung-itung nambah amal bikin saya tambah ngetop sebagai pencipta (founder) aktifitas urban sport yang baru di indonesia ini.

Congkie: jangan banyak loncat-loncat mas, bisa susah pipis….

Bookmark and Share

10 Jabat Erat

  1. dudi February 25th, 2008 2:13 pm

    hahaha. iku pengalaman kok podo persis karo aku pas sma? lek mbiyeng aku nyebut’e BM (baca: be em). alias nebeng. tapi keren juga lek dikasih jeneng “jumpolitan” =))

  2. pentholitikum February 25th, 2008 8:38 pm

    anyang-anyangen;

  3. roim March 19th, 2008 4:58 pm

    hahhahah kalau pas smp dulu, kami sering nyebut aktivitas ini dengan “nggandol”. Maunya berangkat atau pulang sekolah, tapi sering kali nyasar dan akhirnya mbolos atau pulang malam-malam pakai seragam … kalau ditanya tetangga, tinggal njawab habis keluar kota … hehehhe. Yang paling seru pas turun dari kendaraan, sementara kenderaan masih melaju … weeerrr.

  4. navyk May 17th, 2008 11:02 am

    kayaknya semua orang pernah mengalami nasib yang sama ya. pas SMP aku pernah jatuh pas turun mobil yang melaju kencang. sakitnya gak seberapa, malunya yang gak ketulungan..

  5. anung July 18th, 2008 11:55 pm

    wih keren! cape euy latihannya…

  6. noel August 28th, 2008 8:17 pm

    saya suka parkour,saya lg bisnis kaos yang skalian publikasiin parkour.mudah mudahan kalangan traceur bsa terima

  7. noel August 28th, 2008 8:23 pm

    oh ia klw ga keberatan pnya chanel distro ga, ataw anda mau pake kaos saya,ataw komunitas jumpolitan mau pake,jadi bisa saling mendukung.makasih 02292762641

  8. ndee September 15th, 2009 8:52 am

    wahaha..jd inget waktu smp .dulu kalo jaman gw dulu namanya ngompreng,,yang paling extrem waktu naek truk puso yang gwede banget …wissss kalo sekarang mah kaga bakalan berani deh gw,,,

  9. alex October 19th, 2009 7:42 am

    hihihi…di bandung dulu kita nyebutnya “DOGAR” atau kepanjangannya ngajedog teu mayar…artinya duduk manis kagak bayar…emang kaga bayar naek mobilnya…sih tapi berisiko…bibir jontor ato lutut lecet..hihi..asik jumpolitan….

  10. uconk October 23rd, 2009 1:07 pm

    @ alex, emang kaya yah negeri kita… warna-warni dengan ciri khas masing-masing.

Tinggalkan Jejak Disini!

XHTML:Jangan bunuh apapun kecuali waktu, Jangan ambil apapun kecuali gambar dan kesan, Jangan tinggalkan sesuatu kecuali kata-kata manis, baik hati dan tidak Sombong. Untuk itu silahkan menyisipkan ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Google
 

Jusron Faizal Banner uconk