Jun 15
Tingginya Gunung kan KuDaki, Derasnya Sungai kan KuArungi

Jeep 4x4 Tjap Sabar Mas dengan nomor dada 02
Kuda besi terbitan antara tahun 1960-1985 ini kerap dapat julukan “Toyota Hardtop”, udah keras kepala dan pasti top , terkenal tangguh dalam sejarah Land Cruiser dalam menjajaki medan-medan yang tidak bersahabat, wajar jika kendaraan ini identik dengan Tentara dan Proyek. Seri FJ/BJ 40 yang model awalnya menggunakan mesin F 3878 cc ini masih saja terlihat keluyuran bebas di pelosok-pelosok daerah, dengan berbagai model mulai dari model Hardtop, Canvas Top (short dan medium wheelbase), Pick up, Station Wagon serta Troopwarrior berpacu menandingi mobil-mobil era 2000-an. Tiga model terakhir memang sudah mulai jarang terlihat, mungkin karena jarang diminati oleh pemilik perorangan.
Beruntung saya pernah berkesempatan menikmati beberapa waktu yang cukup lama Hardtop dengan model Pickup medium wheelbase, mendapatkannya juga tidak gampang dengan bentuk fisik yang masih lumayan bagus, terpaksa harus sedikit bersabar menunggu waktu yang cukup lama dan mencari dibeberapa lokasi proyek, kalo toh dapat menemukan belum tentu juga si empunya bersedia melepas. Entah kenapa harus fanatik dengan seri yang satu ini, sementara pabrik eropa juga sudah banyak memproduksi model yang lebih kinyis dan macho, tapi emang jika pernah membandingkan dedikasinya di medan berat jadi gak salah kok kalo sampe bener-bener gandrung dengan model yang satu ini. Memang handal, peminum bensin nomor wahid ini sepertinya hanya bisa dihentikan lajunya oleh pedagang besi tua atau kolektor mobil antik, suatu waktu nanti…

Jalan Putus karena Pohon Tumbang, yah kudu mandeg pak...
Suatukali di daerah Gunung Pananjakan, sekitar wilayah Gunung Bromo, di dataran tinggi yang kemiringannya bisa bikin tubuh kita ikut condong jika berdiri itu, Toyota model Canvas Medium Wheelbase masih bisa berjalan dengan tenang dengan memuat lebih dari kapasitas beban yang tertulis di body sampingnya, sekitar 25 orang lebih ikut memberi semangat laju mobil..Ayoo..kamu bisul!!…Bersama, Kita Bisulan!!!, mereka berteriak kencang dari atap mobil, sementara yang didalam cuman bisa ho-o aja sambil empet-empetan diantara ketiak para penumpang lain. Ini mobil atau Tank sih? pikirku, atau..jangan-jangan tank yang lagi menyamar? Tank-Ronk-Ris..gawat!!!!
Bagaimana kalo dia dikota? wah rasanya gak kepikiran pengen punya kalo gak sekalian bisa bikin pom bensin sendiri, sangat tidak ramah lingkungan, khususnya di lingkungan yang BBM-nya baru naik akhir-akhir ini. Pedagang eceran macam saya ini disarankan jangan jauh-jauh dari rumah apalagi kelayapan di jalur truk logging yang ban serepnya aja bisa lebih dari satu, jika tunggangan pake bebek model suprafit sebaiknya paling jauh 3 setopan (baca=trafic light) dari rumah. Pulang pergi cukup dengan sepuluh ribu rupiah untuk premium.
Terjang Jeram ke Hulu Sungai
Jika diatas saya menceritakan tentang kendaraan tumpangan paling seksi yang bergerak di atas tanah (darat), lalu kendaraan jenis apa yang paling lincah dan cekatan untuk jenis angkutan di air (sungai) ?, berdasar pada pengalaman saya sendiri, tanpa ragu saya menjawabnya dengan Jukung!!. Jukung adalah sebutan untuk perahu kecil dengan motor tempel yang cukup ringan berbahan bakar Bensin atau minyak tanah, versi lebih besar umumnya orang menyebutnya dengan Kelotok, bermesin diesel, umumnya dikenal dengan Dongpeng, meskipun dongpeng sendiri adalah salah satu merk mesin diesel ini diantara sekian banyak merk lainnya produksi china.

Uuggghhhhh udah ucjan, betcek tak ada otjeg
Kelincahan Jukung bisa disetarakan dengan motor bebek (kendaraan roda dua), jika di belantara Ibu Kota, motor bebek mampu bergerak dengan gesit dan tidak beraturan diantara sela-sela mobil, bis dan kedaraan roda empat lainnya, bisa menembus segala rintangan kemacetan lalu lintas, sejauh masih ada celah sempit yang masih bisa dimanfaatkan untuk melaju. Jika dibandingkan dengan mobil, sudah jelas mesin motor punya kemampuan lebih kecil, tetapi jika beradu kecepatan di jalan raya ibu kota, motor bisa menandingi 2 kali lebih cepat dari kecepatan mesin yang bergerak dengan empat roda ini, karena body yang besar bisa menjadi hambatan, khususnya ditengah padatnya arus lalu lintas kota. Demikian kiranya saya mencoba menggambarkan ketangguhan dan kelincahan kendaraan yang dibikin sendiri oleh masyarakat tanpa karoseri ini.

Ini masih di Indonesia kok
Saya menyebutnya bukan Arung Jeram tetapi lebih pas dengan Terjang Jeram, istilah arung jeram yang kita kenal sebagai olah raga alam bebas yang menggunakan perahu karet, dengan penumpang lima orang pendayung ini aktifitasnya adalah mengikuti arus sungai, mereka sebagai team harus bisa mengendalikan perahu karet tersebut melewati rintangan dan celah dari ketinggian menuju posisi yang lebih rendah, sedangkan mereka semua yang nampak di photo ini sedang menerjang arus, bergerak dari bawah menuju tempat tertinggi, mereka sering menyebutnya tempat dimana air menetes atau mata air.

Buih Putih
Perjalanan mereka adalah..
Perjalanan untuk pemenuhan kebutuhan hidup, kebutuhan untuk bekerja dan bekerja untuk hidup. Perjalanan yang mereka lakukan tidak saja bergerak dari titik A menuju titik B, berpindah tempat dan waktu, juga berpindah dimensi, karena ada dampak dan akibat karena proses perpindahan tersebut. Rintangan dan hambatan sudah menjadi kawan akrab mereka tetapi dengan Semangat dan Tujuan menjadi bekal utama untuk dibawa kembali ke rumah mereka masing-masing, menyongsong harapan masa depan lebih cerah dan ceria dari hari ini.

Ini masih di Indonesia, ujung bumi Khatulistiwa
Ini memang bukan di negeri Antah Berantah, ini masih di Indonesia, di antara gunung dan mata air yang melimpah sehingga bisa membentuk aliran sungai, dari hulu mengaliri hilir dan akhirnya ke lauuuuutttt… Tempat mereka yang sulit terjangkau karena sulitnya kondisi topografi dan alam. Kondisi, selalu saja dengan mudah dapat dipakai sebagai alasan untuk ketertinggalan informasi juga uluran tangan, meski hanya butuh sedikit keberanian untuk mencapainya, butuh sedikit berarti tidak banyak.

Perahu kok naik heli?, cara jitu dan cepat pengarungan sungai
Ada satu aturan tidak tertulis tapi sudah menjadi kesepakatan bersama bagi para pemanfaat jalur sungai, di sungai pun juga ada tingkat kepadatan arus lalu lintas, tentunya perlu sebuah pengaturan bersama untuk mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi. Meski jalur di sungai cukup lebar untuk dipergunakan bersama, tapi adakalanya beberapa titik jeram, jalur mulai menyempit sehingga cuman bisa dipergunakan hanya untuk satu buah perahu saja, ini seperti ada di perempatan jalan raya, empat arus bertumpuk menjadi satu pada satu titik, lampu merah, setopan atau traffic light sebagai alat kontrol dan pengendali biar tidak saling serobot, perlu diatur satu-satu bergantian untuk memenuhi kebutuhan bersama.
Tentu saja tidak perlu membangun Traffic Light di sungai, atau memasang polisi cepek di tiap-tiap tikungan dan jeram, mereka hanya membuat kesepakatan bersama jika ada pertemuan dua perahu dari arah yang berlawanan pada satu arus penyempitan, yang layak didahulukan adalah Jukung yang dari atas (meluncur) terlebih dahulu, sedangkan jukung yang sedang melaju ke Hulu, diharapkan berhenti sejenak menunggu sampai Jukung tersebut melintas dengan selamat. Kenapa harus didahulukan yang diatas? jawabnya cukup sederhana kok, karena perahu gak ada remnya…. apalagi klakson!!
conkie: mayn ayyer yuucc.. ewnack.. pasty addhemm





