<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jusron[at]Faizal.WEB/INDONESIA &#187; Jelajah</title>
	<atom:link href="http://faizal.web.id/tag/jelajah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://faizal.web.id</link>
	<description>Learning is Journey for Freedom of Life</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Apr 2010 20:22:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Amanda Ratu di Ujung Genteng</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/amanda-ratu-ujung-genteng.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/amanda-ratu-ujung-genteng.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 16:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[fauna]]></category>
		<category><![CDATA[laut]]></category>
		<category><![CDATA[wisata alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[
Pada hampir separoh malam, kita berempat akan melaju  menuju 200 km arah Timur Laut (ngawur) menuju Ujung Genteng. Perjalanan darat di malam hari memang sangat menarik,  tapi lebih menarik lagi kalo disamping saya ini badannya gak terlalu gendut sehingga butuh parkiran yang cukup luas  ditambah lagi mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya. Krrrookkk&#8230;krrokkk, serasa menginap di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="amandaratu ujung genteng" src="/doc/amandaratu.jpg" alt="" width="550" height="230" /></p>
<p>Pada hampir separoh malam, kita berempat akan melaju  menuju 200 km arah Timur Laut (<em>ngawur</em>) menuju Ujung Genteng. Perjalanan darat di malam hari memang sangat menarik,  tapi lebih menarik lagi kalo disamping saya ini badannya gak terlalu gendut sehingga butuh parkiran yang cukup luas  ditambah lagi mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya. Krrrookkk&#8230;krrokkk, serasa menginap di kandang ya perjalanan kali ini.  Mas..mas&#8230; bangun dong mas, atau setidaknya Tone-nya dipelanin dikit, atau bisa gak nadanya diganti dengan salah satunya lagunya Ridho Rhoma??.   Sampean ngoroknya kenceng banget sih,  ini kan lagi musim Flu Babi!!! bisa nularin yang lainnya lho mas.</p>
<p><span id="more-86"></span></p>
<div  style="text-align: left;"  class="xmlgmdiv" id="xmlgmdiv_2"><iframe class="xmlgm" id="xmlgm_2"src="http://faizal.web.id/wp-content/plugins/xml-google-maps/xmlgooglemaps_show.php?myid=2" style="border: 0px; width: 560px; height: 300px;" name="My_XML_Google_Maps" frameborder="0"></iframe></div>
<p>Kita memang harus menempuh perjalanan selama 6 jam dengan Kijang Innovanya Boss Richie, pilihan jadi penumpang yang paling nyaman adalah bisa tidur sepanjang perjalanan. Mau liat pemandangan juga gak mungkin gelap-gelap gini, mau maen pesbuk kayak teman saya di belakang  juga gak bisa, lha hari gene punya hape yang layarnya masih <em>Black White</em> bukannya yang berjudul nama buah-buahan.  Beli buah sekarang tidak harus di pasar buah lho, di toko komputer atau peralatan komunikasi juga tersedia. Saking namanya buah,  dulu sempat mikir  belinya bisa kiloan.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img title="Amandaratu Resort" src="/doc/villaamanda.jpg" alt="Kalo mandi di kolam renang, enaknya malam-malam.. sepiiii" width="550" height="272" /><p class="wp-caption-text">Kalo mandi di kolam renang, enaknya malam-malam.. sepiiii</p></div>
<p>Memang udah zamannya penuh  <em>fenomena</em>,  di jalan-jalan raya kita mudah ketemu segala macam <em>kewan-kewanan</em> berkeliaran dari tempat asalnya Hutan belantara, mulai dari jenis mamalia &#8211; kuda, kijang, kancil, karnivora &#8211; jaguar, tiger hingga  sampe ke kodok dari Jerman. Dan kini pasar elektronik kita akan segera dibanjiri dari jenis tanaman cuci mulut.</p>
<p><a title="duren.inc" href="http://duren.web.id" target="_blank"><img title="duren inc" src="/doc/duren.gif" alt="duren.inc" hspace="5" width="364" height="164" align="right" /></a>Teman baik saya yang juga bukan petani, <a title="Rony Hakim" href="http://ronyhakim.com" target="_blank">penthol</a> namanya.  Yang hidup dari zaman <a title="pentholitikum" href="http://profiles.yahoo.com/pentholitikum" target="_blank">pentholitikum</a>,  adalah dunia tentang kreatifitas dan seni olah digital,  sekarang juga sudah mulai mencoba menanam. Terpilih adalah buah duren, buah buruk rupa tapi kuning, bersih dan manis isinya, kira-kira itu lah sebuah pesen yang pengen disampaikan kepada calon pembelinya. Logonyapun diambil mentah-mentah langsung dari wujud aslinya, buah Durian dan sekedar eksyen dibuatnya keroakan bekas gigitan dibagian atasnya. Itu kalo Codot (kelelawar) yang makan pasti codotnya Batman, dan kalo manusia yang makan pasti Batmannya Codot. Sedikit berbeda dengan petani buah yang lain,  Duren.Inc yang satu ini bermain di perangkat lunak bukan hardware. Dengan ini Tukang Duren bersumpah bahwa <a title="duren.inc" href="http://duren.web.id" target="_blank">duren.inc</a> adalah  &#8220;<em>the right partner to optimize your communication strategy</em>&#8220;, artine opo iki tol? Sukses besar ya tol!! dadi bakul duren! kerja bareng terus karo tukang <a title="spider-web" href="http://register.spider.web.id" target="_blank">jaring laba-laba</a>.</p>
<p><a title="amandaratu resort ujung genteng" href="http://amandaratu.com" target="_blank"><img src="http://profile.ak.facebook.com/object3/625/63/n202752155290_7662.jpg" alt="Amandaratu Resort Ujung Genteng" hspace="5" width="200" height="267" align="right" /></a></p>
<p>Eiitsss.. ngomongin tentang buah, sebenernya ada kaitan juga dengan yang akan kita datangi kali ini, tidak berbeda jauh profesinya, juga sebagai tukang buah.  Tapi yang ini tukang buah beneran,  jenis buah yang dipilih untuk dikembangkan adalah Kelapa dengan payung utamanya dikelola oleh PT. Wira Citaspong, yang mengelola perkebunan Kelapa sebanyak 200-an ribu pohon di luas lahan 100-an hektar di sepanjang Muara Sungai Cikarang Ujung Genteng.</p>
<p>Kelapa yan g dikelola oleh perkebunan ini sebagian besar akan diambil Niranya dan di jual dalam bentuk Gula Kelapa/Gula Merah/Gula Jawa melalui proses pengolahan sebelumnya.</p>
<h2>Tanah Lot Amanda Ratu</h2>
<p>Pada bagian ujung lahan yang dikelola oleh perkebunan ini, persisnya di Muara Sungai Cikarang pesona alamnya cukup menarik dan menawan, lebih-lebih bagi anda yang hobby ngintip di balik perangkat penangkap <em>moment.</em> Ada pulau kecil di ujung sungai Cikarang, dari kejauhan jika melihat bentuk pulau penghadang tersebut pasti akan teringat Tanah Lot di Bali.  Jadi, kalo gak pernah ke Pulau Bali, melihat bentuk pulau tersebut pasti gak ingat apa-apa, ke Bali sana dulu biar cepet sembuh ingatannya&#8230;. lho!!!????</p>
<p>Kira-kira begitulah prosesnya bagaimana tempat ini memiliki nama Tanah Lot, biar membedakan karena letakknya bukan di Bali dan deket lokasinya dengan Amanda Ratu Resort Ujung Genteng (<em>menulisnya kudu lengkap, pesan sponsor rek</em>), maka tempat tersebut ditandai oleh publik dan masyarakat setempat sebagai Tanah Lot Amanda Ratu.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img title="Tanah Lot Amandaratu" src="/doc/tanahlot.jpg" alt="Bukan di Bali, apalagi di Balitar" width="550" height="211" /><p class="wp-caption-text">Bukan di Bali, apalagi di Balitar</p></div>
<p>Karena pemandangannya menarik bagi masyarakat setempat, pihak perkebunan pada tahun 1981 mencoba membuka lokasi ini sebagai lokasi wisata dan penginapan yang dibuka untuk umum dan di kelola secara terpisah sebagai usaha lain dari bidang perkebunan hingga saat ini (<em>maaf, saya potong prosesnya karena terlalu panjang</em>).</p>
<p>Umumnya orang mengenal kata <em>Sunrise </em>(matahari terbit)<em> </em>di gunung dan <em>Sunsite </em>(matahari terbenam)<em> </em>di pantai. Tapi itu tidak berlaku di Amanda Ratu,  justru banyak orang lebih menikmati pemandangan <em>sunsite</em> terindah di kawasan Resort ini. Untung saja kami tiba di lokasi pas sebelum Subuh, jadi sempet menyaksikan dengan mata sendiri dan mata kamera pesona indah yang dijanjikan sebelumnya.  Mayan penat juga sih, padahal udah istirahat banyak sambil kopi malem di salah satu Restorant Pelabuhan Ratu. Kentang goreng, Pisang Goreng Keju dan Kopi Jahenya mayan bikin melek mata dan mulut.  Seperti apa kata pepatah.. Melek Matane, Melek Cangkeme.</p>
<h2>Anak Pantai Suka Santai</h2>
<p>&#8230;dan setelah puas menikmati pesona <em>sunrise</em>, saatnya tidur sebentar buat kumpulin energi untuk jalan-jalan di pantai beberapa jam nanti, sambil nunggu langit dan laut berwarna lebih biru.  Iya kenapa langit kok warnanya biru sih? terus kalo pas Sunsite warnanya berubah jadi merah dan kuning dan kadang-kadang juga jadi putih. Ada hubungannya gak dengan warna laut yang ikut-ikutan jadi biru?.. biar dijawab sama <a title="Langit Biru" href="http://nineta.multiply.com/journal/item/50/Kenapa_Langit_Biru_Bu_Guru" target="_blank">Ibu Guru TK</a> mu aja yah adik-adik, kakak udah ngantuk, mau bobok duyu.</p>
<p>Sebelum panas, kita tuntaskan pekerjaan senang-senang kita disini sampe besok Minggu.  Hari ini menjelajah mulai dari Dermaga Tua di wilayah Pantai Ujung Genteng yang juga dikenal sebagai Pantai Aquarium, di saat laut surut air masih tersisa se mata kaki orang dewasa.  Kita dapat melihat banyaknya ikan-ikan hias yang terperangkap di batu-batu karang, menyaksikan mereka berkejar-kejaran dalam air seperti melihatnya di Aquarium.  Dan dilanjut di pantai-pantai sekitar seperti Pantai Cibuaya, Pantai Mina Jaya terakhir berhenti di Pantai Pangumbahan.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img title="keong macan" src="/doc/keongmacan.jpg" alt="Keong macan dengan bumbu gulai" width="550" height="205" /><p class="wp-caption-text">Keong macan dengan bumbu gulai</p></div>
<p>Puas jalan-jalan sore di pesisir Ujung Genteng, sebelum pulang mampir dulu di tempat Pelelangan Ikan.  Dari sekian banyak jenis ikan, yang paling menarik buatku adalah Keong Macan, bukan keong berbentuk Macan, yang mirip cuman warna dan corak cangkangnya,  warna orange dengan bintik/ totol hitam kayak macan tutul.  Main di pantai gak makan ikan laut juga kurang bisa bikin tidur nyenyak sih.</p>
<h2>Menunggu Penyu Hijau bertelur di  Pantai Pangumbahan</h2>
<p>Malam ini saatnya belajar, jangan bobok dulu setelah makan kenyang.  Bagi kalian yang tidak pernah hormat dengan orang tua, mungkin dengan perjalanan malam ini akan ada artinya untuk  berobah dan bertobat,  kita akan  melihat bagaimana beratnya Penyu Hijau bertelur ke darat, saking beratnya semoga ini bisa jadi inspirasi bagimu buat selalu patuh dan taat sama orang tua, khususnya sama ibumu yang melahirkanmu.  Begitu pesen dari <em>guide (</em>gus de<em>) </em>yang nanti akan mendampingi kita selama proses penyu bertelur.  Sampe segitunya yah pikiran orang ini pada kita ???!!! karena udah males mikir sama otak, aku dengerin ocehanya dalam hati aja.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img title="penyu hijau" src="/doc/penyuhijau.jpg" alt="Proses bertelurnya dibantu bidan sebanyak ini?" width="550" height="257" /><p class="wp-caption-text">Proses bertelurnya dibantu bidan sebanyak ini?</p></div>
<p>Gak nyangka masukknya, begitu deket dengan pantai ternyata udah berkumpul banyak orang di tengah malam gelap gulita gini, apalagi ini malam minggu waktu pasaran buat plesir dan pacaran.  Lain waktu kita kesininya malam jum&#8217;at aja ya om, biar ketemunya sama dukun yang juga lagi pengen plesir liat penyu <em>ngendok</em> (nelur).</p>
<p>Proses bertelurnya penyu dari awal kita diperbolehkan mendekat, pas si penyu sudah memulai mengeluarkan telurnya satu demi satu hingga hitungan 80 &#8211; 100 butir. Sebelumnya kita udah dikontek kalo selama jalan jangan menghidupkan alat penerangan, kalo pas ketemu ada penyu mau naik pasti terganggu dan mengurungkan niatnya bertelur. Seluruh proses kalo pengen tidak melewatkan melihat penyu sampe balik lagi ke laut kurang lebih selama 2 (dua) jam.</p>
<h2>Curug adalah Air Terjun: Cikaso</h2>
<p>Setelah kemaren kita berasin-asin di Pantai hingga tengah malam, hari ini kita akan cari suasana baru di Sungai Cikaso. Di sekitar Ujung Genteng rupanya menyimpan banyak tempat wisata alam Air Terjun atau Curug (bahasa lokal).  Anda bisa melihat data dan potensi wisata secara lengkap di situs pribadinya Bapak <a title="Jelajah Ujung Genteng" href="http://www.geocities.com/ujunggenteng" target="_blank">Petrus Suryadi</a>,  format situsnya masih menggunakan html, tapi muatan data dan informasinya sangat padat.  Sebelum ada CMS (Content Management System) yang canggih-canggih seperti sekarang ini, Pak Petrus Suryadi sudah mulai menyusun data dan informasi seputar Ujung Genteng secara konsisten hingga saat ini. &#8221; <em>Saya ingin Ujung Genteng dikenal masyarakat sebagai Nirwana Pantai Selatan Jawa Barat</em>&#8220;  dan pengen lebih dikenal masyarakat banyak seperti halnya mereka mengenal Pantai Anyer Mas, tulisnya melalui surat elektronik saat saya sapa lewat Fesbuk.  Mantap pak, saya juga mau <em>support</em> jika dibutuhkan pak, mungkin bisa bantunya buat urusan domain dan hosting laba-laba.,hehhehe</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img title="air terjun cikaso" src="/doc/cikaso.jpg" alt="dingin...dingin....empuk" width="550" height="247" /><p class="wp-caption-text">dingin...dingin....empuk</p></div>
<p>Sekali lagi, Curug atau Air Terjun di daerah Ujung Genteng tidak hanya di Cikaso, bahkan jika anda suka dunia gelap di beberapa titik lokasi juga ada Gua. Rupanya disini termasuk daerah Karst (batu gamping), yang memang memungkinkan terdapat gua-gua alam, stalagtit dan stalagmit. Kesimpulannya&#8230; kalo mau menjelajah dari ujung ke ujung di Ujung Genteng, sebaiknya anda sediakan setidaknya waktu 3 (tiga hari), berangkat kamis malam, pulangnya minggu sore, dijamin puasss sampai titik darah penghabisan&#8230;.hehehhe</p>
<p>Mandi di Air Terjun rupanya acara terakhir jadi anak pantai, kebayang perjalanan pulang ke Jakarta lagi&#8230;..</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="400" height="267" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="flashvars" value="host=picasaweb.google.com&amp;captions=1&amp;hl=en_US&amp;feat=flashalbum&amp;RGB=0x000000&amp;feed=http%3A%2F%2Fpicasaweb.google.com%2Fdata%2Ffeed%2Fapi%2Fuser%2Fjusronfaizal%2Falbumid%2F5339096918121438113%3Falt%3Drss%26kind%3Dphoto%26hl%3Den_US" /><param name="src" value="http://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="400" height="267" src="http://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf" flashvars="host=picasaweb.google.com&amp;captions=1&amp;hl=en_US&amp;feat=flashalbum&amp;RGB=0x000000&amp;feed=http%3A%2F%2Fpicasaweb.google.com%2Fdata%2Ffeed%2Fapi%2Fuser%2Fjusronfaizal%2Falbumid%2F5339096918121438113%3Falt%3Drss%26kind%3Dphoto%26hl%3Den_US"></embed></object></p>
<p><strong>Amandaratu Resort Ujung Genteng</strong><br />
Jl. Raya Ujung Genteng, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Sukabumi<br />
+62 (266) 649 2808 &#8211; +62 812 2143 3365 &#8211; +62 856 2450 4345<br />
resort@amandaratu.com<br />
<a title="amandaratu resort ujung genteng" href="http://amandaratu.com" target="_blank">www.amandaratu.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/amanda-ratu-ujung-genteng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perahu dan Cadik Nusantara</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/perahu-dan-cadik-nusantara.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/perahu-dan-cadik-nusantara.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 17:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore di sungai Batanghari Jambi, naik Ketek dan berkeliling sungai rupanya sudah menjadi ajang rekreasi bagi wisatawan kayak saya pada saat itu. Status saya bersama kawan lain saat itu memang sebagai pelancong kota, tapi tidak pernah mengira kalo akhirnya harus dibawa keliling sungai naik Ketek, perahu kayu dengan mesin diesel buatan cina. 
 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img title="ketek batanghari" src="http://farm3.static.flickr.com/2371/2503946329_0739055a9a.jpg?v=0" alt="Naik Ketek di Sungai Batanghari Jambi" width="500" height="332" /><p class="wp-caption-text">Naik Ketek di Sungai Batanghari Jambi</p></div>
<p>Pada suatu sore di sungai Batanghari Jambi, naik Ketek dan berkeliling sungai rupanya sudah menjadi ajang rekreasi bagi wisatawan kayak saya pada saat itu. Status saya bersama kawan lain saat itu memang sebagai pelancong kota, tapi tidak pernah mengira kalo akhirnya harus dibawa keliling sungai naik Ketek, perahu kayu dengan mesin diesel buatan cina. <span id="more-61"></span></p>
<p><img class="alignnone" style="border: 0pt none;" title="jukung" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLsH2XGmI/AAAAAAAAAv4/sF0hp18fmWM/s288/jukung.jpg" alt="" width="270" height="134" /> <img class="alignnone" title="dayung" src="http://lh4.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLr-udddI/AAAAAAAAAvg/XLkbFumI4Cc/s288/dayung.jpg" alt="" width="270" height="137" /></p>
<p>Indonesia memang memiliki tingkat keanekaragaman budaya yang cukup berlimpah, jumlah suku dan bahasa daerah, juga jenis dan bentuk perahu atau cadik yang cukup beragam dari masing-masing daerah. Yang terkenal di Nusantara bahkan dikenal dunia adalah Kapal Pinisi nya orang Bugis &#8211; Makasar.  Pinisi adalah kapal kayu lokal yang difungsikan membelah lautan Indonesia untuk misi perdagangan dan penangkap ikan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="Bandara Lanting" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuNAOWz0EI/AAAAAAAAAwc/MRvDP_xsoS8/lanting.jpg" alt="Bersandar di dermaga Lanting depan Rumah" width="512" height="334" /><p class="wp-caption-text">Bersandar di dermaga Lanting depan Rumah</p></div>
<p>Jika dilaut ada Pinisi, di sungai Indonesia lebih banyak lagi merek perahu/cadik bertebaran. <strong>Ketek</strong> di Sungai Batanghari Jambi, <strong>Kelotok</strong> di Sungai Kahayan mulai dari Palangkaraya hingga Banjarmasin, <strong>Ketinting</strong> di Sungai Mahakam Samarinda, <strong>Jonson</strong> di Papua dan masih banyak lagi yang belum saya tahu. Soale cuman yang bisa disebut disini saja yang pernah langsung saya nikmatin. Belum lagi sejumlah kapal-kapal penangkap ikan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="taken" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuNRMqvR_I/AAAAAAAAAws/2fJtYqtXC6M/taken.jpg" alt="Seorang Taken sedang membantu mengarahkan laju Perahu" width="512" height="363" /><p class="wp-caption-text">Seorang Taken sedang membantu mengarahkan laju Perahu</p></div>
<p>Rata-rata dari Perahu tersebut diatas menggunakan mesin diesel buatan china, yang terkenal adalah merek <strong>Dong Feng</strong>. Di Papua mungkin lebih ngetop dengan Merek Johnson sehingga juga menjadi nama perahunya. Seperti warga Malang dulu menyebut motor bebek dengan Honda, &#8220;kamu kesini naik Honda yah?&#8221;, &#8220;enggak pak, saya kesini pake Honda Yamaha&#8221; (maksudnya adalah motor bebek merek Yamaha).</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="kahayan miri" src="http://lh6.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuM_1dHRqI/AAAAAAAAAwE/n-6biCm3yns/kahayan.jpg" alt="Pak Sandi sebagai Taken sedang istirahat di ujung perahu, " width="512" height="334" /><p class="wp-caption-text">Pak Sandi sebagai Taken sedang istirahat di ujung perahu</p></div>
<p>Setiap perahu hanya dibutuhkan satu orang sopir, yang bertugas mengendalikan laju pada tujuan yang hendak dihampirinya. Jika ada lebih dari satu pendayung pada perahu, fungsinya adalah sebagai menambah tenaga dorong. Tapi khusus pada saat perahu harus menerjang riam dangkal, perlu ditambahkan satu orang tenaga lagi yang berdiri di ujung perahu lengkap dengan galah panjangnya, peran seorang “Taken” dari hulu sungai Kahayan ini  adalah mendorongkan galah sekuat mungkin untuk mendorong pergerakan perahu di riam dangkal. Dengan dorongan kuat hingga ujung perahu terangkat dari permukaan, memudahkan untuk terhindar dari jebakan batu dan dasar sungai.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="rotan" src="http://lh6.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuNAqUoKdI/AAAAAAAAAwk/kcdK50IcwV4/rotan.jpg" alt="Rotan satu ton, dimuat dari hulu ke hilir" width="512" height="302" /><p class="wp-caption-text">Rotan satu ton, dimuat dari hulu ke hilir</p></div>
<p>Pengalaman pertama naik perahu bermesin diesel sangat mengesankan, lebih-lebih buat kedua telinga saya. Perjalanan saat itu ditempuh tidak kurang dari lima jam, dan begitu turun dari <strong>Kelotok</strong> suasana terasa hening dan sepi, tidak ada lagi suara bising memekakkan telinga, sampai disadarkan dengan sapaan dari warga yang tidak saya dengar kecuali lambaian tangannya. Rupanya telingaku sudah buntu karena gencaran gemuruh mesin diesel perahu.</p>
<p>Hampir dapat dipastikan, semua baling-baling penggerak laju perahu diposisikan dibagian belakang, sedangkan untuk setir sebagai alat kemudi bisa diletakkan di bagian belakang atau dengan modifikasi di letakkan di depan seperti halnya letak setir mobil, lengkap dengan setir asli mobil. Jenis perahu dengan sebutan <strong>Perahu Motor</strong> bahkan menggunakan mesin mobil sungguhan sebagai penggerak kincirnya, Brrmm Brrmm Brrmm persis seperti sopir Taxi sedang mencari penumpang di jalanan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 513px"><img title="driver" src="http://lh4.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLsIA88MI/AAAAAAAAAvo/SVIN8oJvqds/driver.jpg" alt="Setir Bunder Muter Munyer" width="503" height="278" /><p class="wp-caption-text">Setir Bunder Muter Munyer</p></div>
<p>Perlu anda ketahui bahwa perahu tidak ada pedal rem dan kopling mundur, beberapa diantaranya sudah menggunakan klakson sebagai accessories menarik, dimainkan untuk menyapa atau mengingatkan penumpang untuk segera cepat naik, karena perahu sudah hendak melaju. Karena tidak menggunakan rem, ada sebuah kesepakatan tidak tertulis khusus untuk perahu yang melaju menuruni arus, mendapat prioritas untuk meluncur lebih dulu jika berpapasan dengan perahu lain yang akan menerjang jeram (naik).</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="getek" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLsOE3AqI/AAAAAAAAAvw/s6YW_s0HBy4/getek.jpg" alt="Mengantar Kakek, Nenek, Bapak Ibu dan Kendaraan Motor Menyebrang Sungai" width="512" height="190" /><p class="wp-caption-text">Mengantar Kakek, Nenek, Bapak Ibu dan Kendaraan Motor Menyebrang Sungai</p></div>
<p><strong>Perahu Jukung</strong>, disebut sebagai perahu tanpa mesin atau menggunakan tenaga dayung berbahan bakar sepiring nasi empat sehat lima sempurna. Dipergunakan untuk transportasi jarak dekat antar desa, saat ini sudah jarang dipergunakan untuk perjalanan jauh, karena sudah ada alternatif mesin kecil menggunakan bahan bakar minyak tanah, sebutan umum untuk perahu jenis ini adalah <strong>Cess.</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 364px"><img title="kelotok melaju" src="http://lh5.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuM_x_6_eI/AAAAAAAAAwM/At7npkhKMhU/s512/kelotok.jpg" alt="Melaju seekor Kelotok Bermesin Dongpeng buatan cina" width="354" height="512" /><p class="wp-caption-text">Melaju seekor Kelotok Bermesin Dongpeng buatan cina</p></div>
<p><em>uconkie: naik perahuan yuk!!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/perahu-dan-cadik-nusantara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tingginya Gunung kan KuDaki, Derasnya Sungai kan KuArungi</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/tingginya-gunung-kan-kudaki-derasnya-sungai-kan-kuarungi.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/tingginya-gunung-kan-kudaki-derasnya-sungai-kan-kuarungi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 01:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman]]></category>
		<category><![CDATA[back pack]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[
Jeep 4x4 Tjap Sabar Mas dengan nomor dada 02
Kuda besi terbitan antara tahun 1960-1985 ini kerap dapat julukan &#8220;Toyota Hardtop&#8221;, udah keras kepala dan pasti top , terkenal tangguh dalam sejarah Land Cruiser dalam menjajaki medan-medan yang tidak bersahabat, wajar  jika kendaraan ini identik dengan  Tentara dan Proyek.  Seri FJ/BJ 40 yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/doc/sabarmas.jpg" alt="Hardtop tjap Sabar Mas" width="570" height="293" /></p>
<pre>Jeep 4x4 Tjap Sabar Mas dengan nomor dada 02</pre>
<p>Kuda besi terbitan antara tahun 1960-1985 ini kerap dapat julukan &#8220;Toyota Hardtop&#8221;, udah keras kepala dan pasti top , terkenal tangguh dalam sejarah Land Cruiser dalam menjajaki medan-medan yang tidak bersahabat, wajar  jika kendaraan ini identik dengan  <strong>Tentara</strong> dan <strong>Proyek</strong>.  Seri FJ/BJ 40 yang model awalnya menggunakan mesin F 3878 cc ini masih saja terlihat keluyuran bebas di pelosok-pelosok daerah, dengan berbagai model mulai dari model Hardtop, Canvas Top (<em>short dan medium wheelbase</em>), Pick up, Station Wagon serta Troopwarrior berpacu menandingi mobil-mobil era 2000-an. Tiga model terakhir memang sudah mulai jarang terlihat, mungkin karena jarang diminati oleh pemilik perorangan.   <span id="more-32"></span></p>
<p>Beruntung saya pernah berkesempatan menikmati beberapa waktu yang cukup lama  Hardtop dengan model Pickup medium wheelbase, mendapatkannya juga tidak gampang dengan bentuk fisik yang masih lumayan bagus, terpaksa harus sedikit bersabar menunggu waktu yang cukup lama dan mencari dibeberapa lokasi proyek, kalo toh dapat menemukan belum tentu juga si empunya bersedia melepas. Entah kenapa harus fanatik dengan seri yang satu ini, sementara pabrik eropa juga sudah banyak memproduksi model yang lebih kinyis dan macho, tapi emang jika pernah membandingkan dedikasinya di medan berat jadi gak salah kok kalo sampe bener-bener gandrung dengan model yang satu ini. Memang handal, peminum bensin nomor wahid ini sepertinya hanya bisa dihentikan lajunya oleh pedagang besi tua atau kolektor mobil antik, suatu waktu nanti&#8230;</p>
<p><img src="/doc/terjebak.jpg" alt="pohon tumbang" width="570" height="333" /></p>
<pre>Jalan Putus karena Pohon Tumbang, yah kudu mandeg pak...</pre>
<p>Suatukali di daerah Gunung Pananjakan, sekitar wilayah Gunung Bromo, di dataran tinggi yang kemiringannya bisa bikin tubuh kita ikut condong jika berdiri itu, Toyota model Canvas <em>Medium Wheelbase</em> masih bisa berjalan dengan tenang dengan memuat lebih dari kapasitas beban yang tertulis di body sampingnya, sekitar 25 orang lebih ikut memberi semangat laju mobil..Ayoo..kamu bisul!!&#8230;Bersama, Kita Bisulan!!!, mereka berteriak kencang dari atap mobil, sementara yang didalam cuman bisa ho-o aja sambil empet-empetan diantara ketiak para penumpang lain. Ini mobil atau Tank sih? pikirku, atau..jangan-jangan tank yang lagi menyamar? Tank-Ronk-Ris..gawat!!!!</p>
<p>Bagaimana kalo dia dikota? wah rasanya gak kepikiran pengen punya kalo gak sekalian bisa bikin pom bensin sendiri, sangat tidak ramah lingkungan, khususnya di lingkungan yang BBM-nya baru naik akhir-akhir ini. Pedagang eceran macam saya ini disarankan jangan jauh-jauh dari rumah apalagi kelayapan di jalur truk logging yang ban serepnya aja bisa lebih dari satu, jika tunggangan pake bebek model suprafit  sebaiknya paling jauh 3 setopan (<em>baca=trafic light</em>) dari rumah. Pulang pergi cukup dengan sepuluh ribu rupiah untuk premium.</p>
<h2>Terjang Jeram ke Hulu Sungai</h2>
<p>Jika diatas saya menceritakan tentang kendaraan tumpangan paling seksi yang bergerak di atas tanah (darat), lalu kendaraan jenis apa yang paling lincah dan cekatan untuk jenis angkutan di air (sungai) ?,  berdasar pada pengalaman saya sendiri, tanpa ragu saya menjawabnya dengan <strong>Jukung</strong>!!. Jukung adalah sebutan untuk perahu kecil dengan motor tempel yang cukup ringan berbahan bakar Bensin atau minyak tanah, versi lebih besar umumnya orang menyebutnya dengan Kelotok, bermesin diesel, umumnya dikenal dengan Dongpeng, meskipun dongpeng sendiri adalah salah satu merk mesin diesel ini diantara sekian banyak merk lainnya produksi china.</p>
<p><img src="/doc/jukung.jpg" alt="Jukung" width="570" height="505" /></p>
<pre>Uuggghhhhh udah ucjan, betcek tak ada otjeg</pre>
<p>Kelincahan Jukung bisa disetarakan dengan motor bebek (kendaraan roda dua), jika di belantara Ibu Kota,  motor bebek mampu bergerak dengan gesit dan  tidak beraturan diantara sela-sela mobil, bis dan kedaraan roda empat lainnya, bisa menembus segala rintangan kemacetan lalu lintas, sejauh masih ada celah sempit yang masih bisa dimanfaatkan untuk melaju.  Jika dibandingkan dengan mobil, sudah jelas mesin motor punya kemampuan lebih kecil, tetapi jika beradu kecepatan di jalan raya ibu kota, motor bisa menandingi 2 kali lebih cepat dari kecepatan mesin yang bergerak dengan empat roda ini, karena body yang besar bisa menjadi hambatan, khususnya ditengah padatnya arus lalu lintas kota. Demikian kiranya saya mencoba menggambarkan ketangguhan dan kelincahan kendaraan yang dibikin sendiri oleh masyarakat tanpa karoseri ini.</p>
<p><img src="/doc/arung_jukung.jpg" alt="Terjang Badai" width="570" height="866" /></p>
<pre>Ini masih di Indonesia kok</pre>
<p>Saya menyebutnya bukan Arung Jeram tetapi lebih pas dengan Terjang Jeram, istilah arung jeram yang kita kenal sebagai olah raga alam bebas yang menggunakan perahu karet, dengan penumpang lima orang pendayung ini aktifitasnya adalah mengikuti arus sungai, mereka sebagai team harus bisa mengendalikan perahu karet tersebut melewati rintangan dan celah dari ketinggian menuju posisi yang lebih rendah, sedangkan mereka semua yang nampak di photo ini sedang menerjang arus, bergerak dari bawah menuju tempat tertinggi, mereka sering menyebutnya tempat dimana air menetes atau mata air.</p>
<p><img src="/doc/arusderas.jpg" alt="Arus Deras" width="570" height="305" /></p>
<pre>Buih Putih</pre>
<h2>Perjalanan mereka adalah..</h2>
<p>Perjalanan untuk pemenuhan kebutuhan hidup, kebutuhan untuk bekerja dan bekerja untuk hidup. Perjalanan yang mereka lakukan tidak saja bergerak dari titik A menuju titik B, berpindah tempat dan waktu, juga berpindah dimensi, karena ada dampak dan akibat karena proses perpindahan tersebut.  Rintangan dan hambatan sudah menjadi kawan akrab mereka tetapi dengan Semangat dan Tujuan menjadi bekal utama untuk dibawa kembali ke rumah mereka masing-masing, menyongsong harapan masa depan lebih cerah dan ceria dari hari ini.</p>
<p><img src="/doc/arung_batu.jpg" alt="Terjang Batu dan Padas" width="570" height="298" /></p>
<p>Ini masih di Indonesia, ujung bumi Khatulistiwa</p>
<p>Ini memang bukan di negeri Antah Berantah, ini masih di Indonesia, di antara gunung dan mata air yang melimpah sehingga bisa membentuk aliran sungai, dari hulu mengaliri hilir dan akhirnya ke lauuuuutttt&#8230; Tempat mereka yang sulit terjangkau karena sulitnya kondisi topografi dan alam. Kondisi, selalu saja dengan mudah dapat dipakai sebagai alasan untuk ketertinggalan informasi juga uluran tangan, meski hanya butuh sedikit keberanian untuk mencapainya, butuh sedikit berarti tidak banyak.</p>
<p><img src="/doc/helijukung.jpg" alt="Heli Jukung" width="570" height="218" /></p>
<pre>Perahu kok naik heli?, cara jitu dan cepat pengarungan sungai</pre>
<p>Ada satu aturan tidak tertulis tapi sudah menjadi kesepakatan bersama bagi para pemanfaat jalur sungai, di sungai pun juga ada tingkat kepadatan arus lalu lintas, tentunya perlu sebuah pengaturan bersama untuk mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi. Meski jalur di sungai cukup lebar untuk dipergunakan bersama, tapi adakalanya beberapa titik jeram, jalur mulai menyempit sehingga cuman bisa dipergunakan hanya untuk satu buah perahu saja, ini seperti ada di perempatan jalan raya, empat arus bertumpuk menjadi satu pada satu titik, lampu merah, setopan atau <em>traffic light</em> sebagai alat kontrol dan pengendali biar tidak saling serobot, perlu diatur satu-satu bergantian untuk memenuhi kebutuhan bersama.</p>
<p>Tentu saja tidak perlu membangun Traffic Light di sungai, atau memasang polisi cepek di tiap-tiap tikungan dan jeram, mereka hanya membuat kesepakatan bersama jika ada pertemuan dua perahu dari arah yang berlawanan pada satu arus penyempitan, yang layak didahulukan adalah Jukung yang dari atas (meluncur) terlebih dahulu, sedangkan jukung yang sedang melaju ke Hulu, diharapkan berhenti sejenak menunggu sampai Jukung tersebut melintas dengan selamat. Kenapa harus didahulukan yang diatas? jawabnya cukup sederhana kok, karena perahu gak ada remnya&#8230;. apalagi klakson!!</p>
<p><em>conkie: mayn ayyer yuucc.. ewnack.. pasty addhemm</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/tingginya-gunung-kan-kudaki-derasnya-sungai-kan-kuarungi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lembuswana, penjaga Sungai Mahakam</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 10:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/jejak/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam/</guid>
		<description><![CDATA[ &#8220;Bermahkota bukannya raja. Berbelalai. Bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya  burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?&#8221;
Kuis tebak-tebakan yang tidak berhadiah ini tertulis di bawah kaki Patung berbentuk binatang aneh dan unik di depan Musium Mulawarman.  Jawabannya memang sudah pasti &#8220;Lembuswana&#8221;,  spesies langka yang tidak termasuk dalam daftar Appendix [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1324/712149073_7b82ce06f8_m.jpg" alt="Lembuswana" align="left" height="240" hspace="10" width="160" /> &#8220;<em>Bermahkota bukannya raja. Berbelalai. Bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya  burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?</em>&#8221;</p>
<p>Kuis tebak-tebakan yang tidak berhadiah ini tertulis di bawah kaki Patung berbentuk binatang aneh dan unik di depan <a href="http://www.kutaikartanegara.com/wisata/museum_mulawarman.html" title="Musium Mulawarman Samarinda" target="_blank" class="snap_shots">Musium Mulawarman</a>.  Jawabannya memang sudah pasti &#8220;Lembuswana&#8221;,  spesies langka yang tidak termasuk dalam daftar <acronym title="berarti perdagangan spesies tersebut dikontrol sangat ketat dan tidak dapat diperdagangkan secara internasional kecuali hasil penangkaran">Appendix I</acronym> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/CITES" title="CITES" target="_blank" class="snap_shots">Cites</a> ini dapat anda jumpai di <a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=309264&amp;page=4" title="Wisata di Tenggarong" class="snap_shots" target="_blank">3 (tiga) lokasi</a> utama Kota Tenggarong, di Pintu Gerbang memasuki kota Tenggarong, di depan Musium Mulawarman dan yang terbesar di Pulau Wisata Kumala. Yang terakhir akan menjadi tokoh utama kita kali ini, soale dapat undangan gratis keliling Pulau Kumala sih, pilihannya cuman satu aja, kalo pengen kisah lainnya boleh kok mengundang aku lagi&#8230;..hehehehehe<span id="more-24"></span></p>
<h2>Makan Siang sambil Terapung</h2>
<p>Wong ndeso ini pantas girang banget, soale baru nyadar kalo Rumah Makannya tidak saja bisa ngambang di atas air, tapi bisa mengelilingi Pulau Kumala, pantas saja ini kan Kapal Layar, layaknya sebuah kapal tentu ada mesinnya, setir, Anak Buah, Layar, dan yang paling penting semua yang tersebut tadi dapat imbukan kata &#8220;Kapal&#8221;, sekedar untuk membedakan kebiasaan di darat sama di Sungai, termasuk juga ada organ (<em>itu lho, alat musik yang tutnya cuman ada 2 warna, hitam dan putih</em>)&#8230;&#8230; hahahah dasar ndesit. Tentu saja dengan alat musik tersebut nyanyinya pake irama Country-an, terasa rada jadul dikit,  penyanyinya pun lengkap dengan atribut koboi dengan kisaran usia 15-an (lima belas ngikut pemilu pak&#8230;), kita-kita yang masih kinyis cuman bisa ngikut goyang-goyang kaki aja, soale gak apal, bolehlah sekali-kali teriak hhheeeyyya&#8230;&#8230;heeeyyyaaaa&#8230;&#8230;.halah&#8230;.koboi kok melaut seh pak&#8230;&#8230;koboi yah angon wedus.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1226/712149095_e3284936cf.jpg?v=0" alt="Lembuswana" height="332" width="500" /></p>
<p>Sambil makan siang, kita ber-banyak orang ini dibawa mengelilingi Pulau Kumala, sambil menikmati nikmatnya ikan Patin bakar, Gulai Kambing dan Es Jeruk, sebagai penutup buah-buahan khas Kaltim tersedia berlebih, mulai Jeruk, pisang sampai duku semuanya pas dan lengkap, dan yang penting akhirnya tak tersisa, buat kucing sekalipun, tandas.</p>
<p>Mendekati tujuan, pintu gerbang  Pulau Kumala,  terlihat sosok monumen yang cukup besar dan megah dibuatnya, Patung Lumbuswana raksasa sebagai hasil karya pematung terkenal <a href="http://www.nuarta.com/" title="Nyoman Nuarta" class="snap_shots" target="_blank">Nyoman Nuarta</a>. Ini pertama kalinya aku melihat sosok symbol mitologi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai_Kartanegara" title="Kerajaan Kutai Kertanegara" class="snap_shots" target="_blank">Kerajaan Kutai Kertanegara</a> dari dekat, inikah binatang yang gaya hidupnya amphibi plus?, plus karena punya sisik,  kebayang bisa hidup di air, punya kaki empat pasti mamalia, namanya lembu tapi kepalanya gajah, punya sayap berarti bisa terbang, imaginasiku membayangkan pada suatu pagi lepas bangun tidur, terlihat para lembuswana bertengger di ranting dan bercicit cuit menyongsong mentari.</p>
<p>Mencari sejarah sang Lembu ini rada kesulitan, malah ketemu beberapa blogger yang minta diinformasikan tentang <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=sejarah+lembuswana&amp;btnG=Telusur<br />
i+dengan+Google&amp;meta=" title="Sejarah Lembuswana" class="snap_shots" target="_blank">history of lembuswana</a> kalo ada yang tau. Mitologi Kutai lainnya yang ketemu malah tentang <a href="http://www.kutaikartanegara.com/kesultanan/mitologi2.html" title="Naga Erau" class="snap_shots" target="_blank">Naga Erau</a> yang menjadi rujukan <a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=309264&amp;page=4" title="FEstival Erau" class="snap_shots" target="_blank">Festival Erau</a> yang sudah menjadi <a href="http://www.kutaikartanegara.com/wisata/" title="Peta Wisata di Kutai" class="snap_shots" target="_blank">kegiatan wisata</a> rutin Kota Tenggarong.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1187/712149115_e64747542e.jpg?v=0" alt="Gerbang Pulau Kumala" height="332" width="500" /></p>
<pre>Gerbang Pulau Wisata Kumala</pre>
<p>Kalo Jakarta punya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dufan" title="Dunia Fantasi Ancol" class="snap_shots" target="_blank">Dunia Fantasi</a>, inilah andalan dari Provinsi Kaltim, Pulau Kumala, Dufan yang dibangun di daerah pesisir pantai, Pulau Kumala dibangun diatas pulau di tengah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Mahakam" class="snap_shots" title="Sungai Mahakam">Sungai Mahakam</a> atas prakarsa <a href="http://www.tokohindonesia.com/majalah/khusus/01-36/02/07.shtml" title="Pak Kaning" class="snap_shots" target="_blank">Bupati Syaukani</a> (pak Kaning) Pulau seluas 76 ha itu dibangun dan diurug tak kurang dari sejuta setengah kubik pasir ditanam disana, hingga kini terlihat sebagai lokasi wisata modern bagi masyarakat.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1341/713062754_10e46a3f6f.jpg?v=0" alt="restoran berjalan" height="332" width="500" /></p>
<pre>Kapalku segera mendaratkan awaknya</pre>
<p>Ada dua cara menuju Pulau Kumala ini, bisa dengan cara menyeberangi sungai Mahakam atau lebih menarik lagi melalui Sky Tower, dengan kendaraannya kereta gantung (cable car), diatas ketinggian 75 meter anda bisa melihat panorama kota dengan leluasa dari kaca kereta,  Sky Tower sekaligus penghubung antara Tenggarong Seberang dengan Pulau Kumala.</p>
<h2>Dayak Long House</h2>
<p>Rumah Panjang, atau rumah komunal Suku Dayak biasa disebut dengan Lamin (Lou) di Kalteng dikenal dengan istilah Rumah Betang, Masyarakat Kutei umumnya mengenal sekaligus mempopulerkan nama rumah dayak dengan sebutan Lamin, sedangkan Orang Dayak Benuaq lebih senang dan bangga dengan sebutan Lou ketimbang Lamin. Tapi bukan hanya karena kisah seorang ibu-ibu muda yang mengundang tamu laki-laki paruh baya untuk bertandang ke rumahnya, Pak saya dan keluarga akan senang dan hormat jika bapak menyempatkan main ke Lamin saya malam ini&#8230;&#8230;lho&#8230;. gawat, kalo sang bapak tamu tadi gak ngerti istilahnya, bisa salah tangkep maksud baiknya. hehehe, tapi yang jelas istilah Lou lebih berasal dari akar bahasa benuaq.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1291/712149161_eabdbbb54a.jpg?v=0" alt="Lou atau lamin" height="332" width="500" /></p>
<p>Iklim di Tenggarong termasuk cukup hangat bagi para pendatang,  untuk beraktifitas ringan jalan kaki saja sudah cukup menguras keringat, tapi jangan kuatir mengelilingi pulau kumala sudah tersedia angkutan mobil gandeng yang selalu siap mengantar anda mengitari pulau ini, melihat-lihat fasilitas yang tersedia untuk wisata.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1063/712149179_2ce9fdb359.jpg?v=0" alt="Lou -Rumah Adat Suku Dayak di Kaltim" height="332" width="500" /></p>
<pre>Lou, rumah adat dayak kaltim</pre>
<p>Nampaknya tidak ada kegiatan sosial di tempat ini, apa karena saya datangnya bukan pas hari libur, di tanah seluas 76 ha ini nampaknya cuman kami dan beberapa orang saja pengunjungnya, saya berharap ada agenda menarik dari sekedar menikmati panorama dan bangunan rupanya tidak terfasilitasi, seandainya lokasi wisata ini tidak hanya mengandalkan kekuatannya dari bangunan dan fasilitas saja, pasti akan lebih semarak lagi. Kalau konsep wisata andalannya hanya fisik, kecenderungannya mereka hanya perlu datang sekali saja, dan akan kembali lagi hanya karena m<br />
engantar tamu atau teman yang bertandang.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1301/712149137_897188307d.jpg?v=0" alt="Vihara" height="332" width="500" /></p>
<pre>memang akan menjadi menarik jika ada aktifitas ibadah masyarakat</pre>
<p>Hampir tiga jam kita berkeliling dan melihat-lihat Pulau, rasa-rasa kerongkongan udah mulai kering, keringat juga udah membasahi badan, sudah waktunya untuk undur diri, angkat sauh, dan kapal kitapun berlayar menuju daratan Indonesia&#8230;. udah lama yah rasanya kita meninggalkan negara Indonesia Raya tercinta&#8230;&#8230; kalo saja setiap kesan yang dibawa pengunjung seperti itu, pasti tidak lama lagi dia akan bawa orang sekampungnya untuk datang ke Tenggarong dengan bangga, anda akan diisi dan diservis luar dalam, lahir batin dengan program wisatanyaa&#8230;begitu kira-kira isi promosinya.</p>
<p>tabek</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1154/713062728_31d9f88462.jpg?v=0" alt="Guest House" height="332" width="500" /></p>
<pre>nginep di Guest House</pre>
<p><em>conkie: pengen kenal lebih mendalam tentang tenggarong dan kutei kartanegara ing martadipura </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
