<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jusron[at]Faizal.WEB/INDONESIA &#187; sungai</title>
	<atom:link href="http://faizal.web.id/tag/sungai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://faizal.web.id</link>
	<description>Learning is Journey for Freedom of Life</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Apr 2010 20:22:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Perahu dan Cadik Nusantara</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/perahu-dan-cadik-nusantara.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/perahu-dan-cadik-nusantara.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 17:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore di sungai Batanghari Jambi, naik Ketek dan berkeliling sungai rupanya sudah menjadi ajang rekreasi bagi wisatawan kayak saya pada saat itu. Status saya bersama kawan lain saat itu memang sebagai pelancong kota, tapi tidak pernah mengira kalo akhirnya harus dibawa keliling sungai naik Ketek, perahu kayu dengan mesin diesel buatan cina. 
 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img title="ketek batanghari" src="http://farm3.static.flickr.com/2371/2503946329_0739055a9a.jpg?v=0" alt="Naik Ketek di Sungai Batanghari Jambi" width="500" height="332" /><p class="wp-caption-text">Naik Ketek di Sungai Batanghari Jambi</p></div>
<p>Pada suatu sore di sungai Batanghari Jambi, naik Ketek dan berkeliling sungai rupanya sudah menjadi ajang rekreasi bagi wisatawan kayak saya pada saat itu. Status saya bersama kawan lain saat itu memang sebagai pelancong kota, tapi tidak pernah mengira kalo akhirnya harus dibawa keliling sungai naik Ketek, perahu kayu dengan mesin diesel buatan cina. <span id="more-61"></span></p>
<p><img class="alignnone" style="border: 0pt none;" title="jukung" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLsH2XGmI/AAAAAAAAAv4/sF0hp18fmWM/s288/jukung.jpg" alt="" width="270" height="134" /> <img class="alignnone" title="dayung" src="http://lh4.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLr-udddI/AAAAAAAAAvg/XLkbFumI4Cc/s288/dayung.jpg" alt="" width="270" height="137" /></p>
<p>Indonesia memang memiliki tingkat keanekaragaman budaya yang cukup berlimpah, jumlah suku dan bahasa daerah, juga jenis dan bentuk perahu atau cadik yang cukup beragam dari masing-masing daerah. Yang terkenal di Nusantara bahkan dikenal dunia adalah Kapal Pinisi nya orang Bugis &#8211; Makasar.  Pinisi adalah kapal kayu lokal yang difungsikan membelah lautan Indonesia untuk misi perdagangan dan penangkap ikan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="Bandara Lanting" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuNAOWz0EI/AAAAAAAAAwc/MRvDP_xsoS8/lanting.jpg" alt="Bersandar di dermaga Lanting depan Rumah" width="512" height="334" /><p class="wp-caption-text">Bersandar di dermaga Lanting depan Rumah</p></div>
<p>Jika dilaut ada Pinisi, di sungai Indonesia lebih banyak lagi merek perahu/cadik bertebaran. <strong>Ketek</strong> di Sungai Batanghari Jambi, <strong>Kelotok</strong> di Sungai Kahayan mulai dari Palangkaraya hingga Banjarmasin, <strong>Ketinting</strong> di Sungai Mahakam Samarinda, <strong>Jonson</strong> di Papua dan masih banyak lagi yang belum saya tahu. Soale cuman yang bisa disebut disini saja yang pernah langsung saya nikmatin. Belum lagi sejumlah kapal-kapal penangkap ikan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="taken" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuNRMqvR_I/AAAAAAAAAws/2fJtYqtXC6M/taken.jpg" alt="Seorang Taken sedang membantu mengarahkan laju Perahu" width="512" height="363" /><p class="wp-caption-text">Seorang Taken sedang membantu mengarahkan laju Perahu</p></div>
<p>Rata-rata dari Perahu tersebut diatas menggunakan mesin diesel buatan china, yang terkenal adalah merek <strong>Dong Feng</strong>. Di Papua mungkin lebih ngetop dengan Merek Johnson sehingga juga menjadi nama perahunya. Seperti warga Malang dulu menyebut motor bebek dengan Honda, &#8220;kamu kesini naik Honda yah?&#8221;, &#8220;enggak pak, saya kesini pake Honda Yamaha&#8221; (maksudnya adalah motor bebek merek Yamaha).</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="kahayan miri" src="http://lh6.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuM_1dHRqI/AAAAAAAAAwE/n-6biCm3yns/kahayan.jpg" alt="Pak Sandi sebagai Taken sedang istirahat di ujung perahu, " width="512" height="334" /><p class="wp-caption-text">Pak Sandi sebagai Taken sedang istirahat di ujung perahu</p></div>
<p>Setiap perahu hanya dibutuhkan satu orang sopir, yang bertugas mengendalikan laju pada tujuan yang hendak dihampirinya. Jika ada lebih dari satu pendayung pada perahu, fungsinya adalah sebagai menambah tenaga dorong. Tapi khusus pada saat perahu harus menerjang riam dangkal, perlu ditambahkan satu orang tenaga lagi yang berdiri di ujung perahu lengkap dengan galah panjangnya, peran seorang “Taken” dari hulu sungai Kahayan ini  adalah mendorongkan galah sekuat mungkin untuk mendorong pergerakan perahu di riam dangkal. Dengan dorongan kuat hingga ujung perahu terangkat dari permukaan, memudahkan untuk terhindar dari jebakan batu dan dasar sungai.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="rotan" src="http://lh6.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuNAqUoKdI/AAAAAAAAAwk/kcdK50IcwV4/rotan.jpg" alt="Rotan satu ton, dimuat dari hulu ke hilir" width="512" height="302" /><p class="wp-caption-text">Rotan satu ton, dimuat dari hulu ke hilir</p></div>
<p>Pengalaman pertama naik perahu bermesin diesel sangat mengesankan, lebih-lebih buat kedua telinga saya. Perjalanan saat itu ditempuh tidak kurang dari lima jam, dan begitu turun dari <strong>Kelotok</strong> suasana terasa hening dan sepi, tidak ada lagi suara bising memekakkan telinga, sampai disadarkan dengan sapaan dari warga yang tidak saya dengar kecuali lambaian tangannya. Rupanya telingaku sudah buntu karena gencaran gemuruh mesin diesel perahu.</p>
<p>Hampir dapat dipastikan, semua baling-baling penggerak laju perahu diposisikan dibagian belakang, sedangkan untuk setir sebagai alat kemudi bisa diletakkan di bagian belakang atau dengan modifikasi di letakkan di depan seperti halnya letak setir mobil, lengkap dengan setir asli mobil. Jenis perahu dengan sebutan <strong>Perahu Motor</strong> bahkan menggunakan mesin mobil sungguhan sebagai penggerak kincirnya, Brrmm Brrmm Brrmm persis seperti sopir Taxi sedang mencari penumpang di jalanan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 513px"><img title="driver" src="http://lh4.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLsIA88MI/AAAAAAAAAvo/SVIN8oJvqds/driver.jpg" alt="Setir Bunder Muter Munyer" width="503" height="278" /><p class="wp-caption-text">Setir Bunder Muter Munyer</p></div>
<p>Perlu anda ketahui bahwa perahu tidak ada pedal rem dan kopling mundur, beberapa diantaranya sudah menggunakan klakson sebagai accessories menarik, dimainkan untuk menyapa atau mengingatkan penumpang untuk segera cepat naik, karena perahu sudah hendak melaju. Karena tidak menggunakan rem, ada sebuah kesepakatan tidak tertulis khusus untuk perahu yang melaju menuruni arus, mendapat prioritas untuk meluncur lebih dulu jika berpapasan dengan perahu lain yang akan menerjang jeram (naik).</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><img title="getek" src="http://lh3.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuLsOE3AqI/AAAAAAAAAvw/s6YW_s0HBy4/getek.jpg" alt="Mengantar Kakek, Nenek, Bapak Ibu dan Kendaraan Motor Menyebrang Sungai" width="512" height="190" /><p class="wp-caption-text">Mengantar Kakek, Nenek, Bapak Ibu dan Kendaraan Motor Menyebrang Sungai</p></div>
<p><strong>Perahu Jukung</strong>, disebut sebagai perahu tanpa mesin atau menggunakan tenaga dayung berbahan bakar sepiring nasi empat sehat lima sempurna. Dipergunakan untuk transportasi jarak dekat antar desa, saat ini sudah jarang dipergunakan untuk perjalanan jauh, karena sudah ada alternatif mesin kecil menggunakan bahan bakar minyak tanah, sebutan umum untuk perahu jenis ini adalah <strong>Cess.</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 364px"><img title="kelotok melaju" src="http://lh5.ggpht.com/_zMFkYusvtPU/SSuM_x_6_eI/AAAAAAAAAwM/At7npkhKMhU/s512/kelotok.jpg" alt="Melaju seekor Kelotok Bermesin Dongpeng buatan cina" width="354" height="512" /><p class="wp-caption-text">Melaju seekor Kelotok Bermesin Dongpeng buatan cina</p></div>
<p><em>uconkie: naik perahuan yuk!!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/perahu-dan-cadik-nusantara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tingginya Gunung kan KuDaki, Derasnya Sungai kan KuArungi</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/tingginya-gunung-kan-kudaki-derasnya-sungai-kan-kuarungi.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/tingginya-gunung-kan-kudaki-derasnya-sungai-kan-kuarungi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 01:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman]]></category>
		<category><![CDATA[back pack]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[
Jeep 4x4 Tjap Sabar Mas dengan nomor dada 02
Kuda besi terbitan antara tahun 1960-1985 ini kerap dapat julukan &#8220;Toyota Hardtop&#8221;, udah keras kepala dan pasti top , terkenal tangguh dalam sejarah Land Cruiser dalam menjajaki medan-medan yang tidak bersahabat, wajar  jika kendaraan ini identik dengan  Tentara dan Proyek.  Seri FJ/BJ 40 yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/doc/sabarmas.jpg" alt="Hardtop tjap Sabar Mas" width="570" height="293" /></p>
<pre>Jeep 4x4 Tjap Sabar Mas dengan nomor dada 02</pre>
<p>Kuda besi terbitan antara tahun 1960-1985 ini kerap dapat julukan &#8220;Toyota Hardtop&#8221;, udah keras kepala dan pasti top , terkenal tangguh dalam sejarah Land Cruiser dalam menjajaki medan-medan yang tidak bersahabat, wajar  jika kendaraan ini identik dengan  <strong>Tentara</strong> dan <strong>Proyek</strong>.  Seri FJ/BJ 40 yang model awalnya menggunakan mesin F 3878 cc ini masih saja terlihat keluyuran bebas di pelosok-pelosok daerah, dengan berbagai model mulai dari model Hardtop, Canvas Top (<em>short dan medium wheelbase</em>), Pick up, Station Wagon serta Troopwarrior berpacu menandingi mobil-mobil era 2000-an. Tiga model terakhir memang sudah mulai jarang terlihat, mungkin karena jarang diminati oleh pemilik perorangan.   <span id="more-32"></span></p>
<p>Beruntung saya pernah berkesempatan menikmati beberapa waktu yang cukup lama  Hardtop dengan model Pickup medium wheelbase, mendapatkannya juga tidak gampang dengan bentuk fisik yang masih lumayan bagus, terpaksa harus sedikit bersabar menunggu waktu yang cukup lama dan mencari dibeberapa lokasi proyek, kalo toh dapat menemukan belum tentu juga si empunya bersedia melepas. Entah kenapa harus fanatik dengan seri yang satu ini, sementara pabrik eropa juga sudah banyak memproduksi model yang lebih kinyis dan macho, tapi emang jika pernah membandingkan dedikasinya di medan berat jadi gak salah kok kalo sampe bener-bener gandrung dengan model yang satu ini. Memang handal, peminum bensin nomor wahid ini sepertinya hanya bisa dihentikan lajunya oleh pedagang besi tua atau kolektor mobil antik, suatu waktu nanti&#8230;</p>
<p><img src="/doc/terjebak.jpg" alt="pohon tumbang" width="570" height="333" /></p>
<pre>Jalan Putus karena Pohon Tumbang, yah kudu mandeg pak...</pre>
<p>Suatukali di daerah Gunung Pananjakan, sekitar wilayah Gunung Bromo, di dataran tinggi yang kemiringannya bisa bikin tubuh kita ikut condong jika berdiri itu, Toyota model Canvas <em>Medium Wheelbase</em> masih bisa berjalan dengan tenang dengan memuat lebih dari kapasitas beban yang tertulis di body sampingnya, sekitar 25 orang lebih ikut memberi semangat laju mobil..Ayoo..kamu bisul!!&#8230;Bersama, Kita Bisulan!!!, mereka berteriak kencang dari atap mobil, sementara yang didalam cuman bisa ho-o aja sambil empet-empetan diantara ketiak para penumpang lain. Ini mobil atau Tank sih? pikirku, atau..jangan-jangan tank yang lagi menyamar? Tank-Ronk-Ris..gawat!!!!</p>
<p>Bagaimana kalo dia dikota? wah rasanya gak kepikiran pengen punya kalo gak sekalian bisa bikin pom bensin sendiri, sangat tidak ramah lingkungan, khususnya di lingkungan yang BBM-nya baru naik akhir-akhir ini. Pedagang eceran macam saya ini disarankan jangan jauh-jauh dari rumah apalagi kelayapan di jalur truk logging yang ban serepnya aja bisa lebih dari satu, jika tunggangan pake bebek model suprafit  sebaiknya paling jauh 3 setopan (<em>baca=trafic light</em>) dari rumah. Pulang pergi cukup dengan sepuluh ribu rupiah untuk premium.</p>
<h2>Terjang Jeram ke Hulu Sungai</h2>
<p>Jika diatas saya menceritakan tentang kendaraan tumpangan paling seksi yang bergerak di atas tanah (darat), lalu kendaraan jenis apa yang paling lincah dan cekatan untuk jenis angkutan di air (sungai) ?,  berdasar pada pengalaman saya sendiri, tanpa ragu saya menjawabnya dengan <strong>Jukung</strong>!!. Jukung adalah sebutan untuk perahu kecil dengan motor tempel yang cukup ringan berbahan bakar Bensin atau minyak tanah, versi lebih besar umumnya orang menyebutnya dengan Kelotok, bermesin diesel, umumnya dikenal dengan Dongpeng, meskipun dongpeng sendiri adalah salah satu merk mesin diesel ini diantara sekian banyak merk lainnya produksi china.</p>
<p><img src="/doc/jukung.jpg" alt="Jukung" width="570" height="505" /></p>
<pre>Uuggghhhhh udah ucjan, betcek tak ada otjeg</pre>
<p>Kelincahan Jukung bisa disetarakan dengan motor bebek (kendaraan roda dua), jika di belantara Ibu Kota,  motor bebek mampu bergerak dengan gesit dan  tidak beraturan diantara sela-sela mobil, bis dan kedaraan roda empat lainnya, bisa menembus segala rintangan kemacetan lalu lintas, sejauh masih ada celah sempit yang masih bisa dimanfaatkan untuk melaju.  Jika dibandingkan dengan mobil, sudah jelas mesin motor punya kemampuan lebih kecil, tetapi jika beradu kecepatan di jalan raya ibu kota, motor bisa menandingi 2 kali lebih cepat dari kecepatan mesin yang bergerak dengan empat roda ini, karena body yang besar bisa menjadi hambatan, khususnya ditengah padatnya arus lalu lintas kota. Demikian kiranya saya mencoba menggambarkan ketangguhan dan kelincahan kendaraan yang dibikin sendiri oleh masyarakat tanpa karoseri ini.</p>
<p><img src="/doc/arung_jukung.jpg" alt="Terjang Badai" width="570" height="866" /></p>
<pre>Ini masih di Indonesia kok</pre>
<p>Saya menyebutnya bukan Arung Jeram tetapi lebih pas dengan Terjang Jeram, istilah arung jeram yang kita kenal sebagai olah raga alam bebas yang menggunakan perahu karet, dengan penumpang lima orang pendayung ini aktifitasnya adalah mengikuti arus sungai, mereka sebagai team harus bisa mengendalikan perahu karet tersebut melewati rintangan dan celah dari ketinggian menuju posisi yang lebih rendah, sedangkan mereka semua yang nampak di photo ini sedang menerjang arus, bergerak dari bawah menuju tempat tertinggi, mereka sering menyebutnya tempat dimana air menetes atau mata air.</p>
<p><img src="/doc/arusderas.jpg" alt="Arus Deras" width="570" height="305" /></p>
<pre>Buih Putih</pre>
<h2>Perjalanan mereka adalah..</h2>
<p>Perjalanan untuk pemenuhan kebutuhan hidup, kebutuhan untuk bekerja dan bekerja untuk hidup. Perjalanan yang mereka lakukan tidak saja bergerak dari titik A menuju titik B, berpindah tempat dan waktu, juga berpindah dimensi, karena ada dampak dan akibat karena proses perpindahan tersebut.  Rintangan dan hambatan sudah menjadi kawan akrab mereka tetapi dengan Semangat dan Tujuan menjadi bekal utama untuk dibawa kembali ke rumah mereka masing-masing, menyongsong harapan masa depan lebih cerah dan ceria dari hari ini.</p>
<p><img src="/doc/arung_batu.jpg" alt="Terjang Batu dan Padas" width="570" height="298" /></p>
<p>Ini masih di Indonesia, ujung bumi Khatulistiwa</p>
<p>Ini memang bukan di negeri Antah Berantah, ini masih di Indonesia, di antara gunung dan mata air yang melimpah sehingga bisa membentuk aliran sungai, dari hulu mengaliri hilir dan akhirnya ke lauuuuutttt&#8230; Tempat mereka yang sulit terjangkau karena sulitnya kondisi topografi dan alam. Kondisi, selalu saja dengan mudah dapat dipakai sebagai alasan untuk ketertinggalan informasi juga uluran tangan, meski hanya butuh sedikit keberanian untuk mencapainya, butuh sedikit berarti tidak banyak.</p>
<p><img src="/doc/helijukung.jpg" alt="Heli Jukung" width="570" height="218" /></p>
<pre>Perahu kok naik heli?, cara jitu dan cepat pengarungan sungai</pre>
<p>Ada satu aturan tidak tertulis tapi sudah menjadi kesepakatan bersama bagi para pemanfaat jalur sungai, di sungai pun juga ada tingkat kepadatan arus lalu lintas, tentunya perlu sebuah pengaturan bersama untuk mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi. Meski jalur di sungai cukup lebar untuk dipergunakan bersama, tapi adakalanya beberapa titik jeram, jalur mulai menyempit sehingga cuman bisa dipergunakan hanya untuk satu buah perahu saja, ini seperti ada di perempatan jalan raya, empat arus bertumpuk menjadi satu pada satu titik, lampu merah, setopan atau <em>traffic light</em> sebagai alat kontrol dan pengendali biar tidak saling serobot, perlu diatur satu-satu bergantian untuk memenuhi kebutuhan bersama.</p>
<p>Tentu saja tidak perlu membangun Traffic Light di sungai, atau memasang polisi cepek di tiap-tiap tikungan dan jeram, mereka hanya membuat kesepakatan bersama jika ada pertemuan dua perahu dari arah yang berlawanan pada satu arus penyempitan, yang layak didahulukan adalah Jukung yang dari atas (meluncur) terlebih dahulu, sedangkan jukung yang sedang melaju ke Hulu, diharapkan berhenti sejenak menunggu sampai Jukung tersebut melintas dengan selamat. Kenapa harus didahulukan yang diatas? jawabnya cukup sederhana kok, karena perahu gak ada remnya&#8230;. apalagi klakson!!</p>
<p><em>conkie: mayn ayyer yuucc.. ewnack.. pasty addhemm</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/tingginya-gunung-kan-kudaki-derasnya-sungai-kan-kuarungi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lanting Kincir Air</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/lanting-kincir-air.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/lanting-kincir-air.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 07:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Lanting, asal kata dari bahasa Dayak Kahayan yang saya artikan dalam bentuk bangunan yang berdiri diatas air dengan ditopang oleh balok-balok kayu sehingga bisa mengambang dan bergerak mengikuti ketinggian air. Supaya tidak terseret oleh arus, umumnya ditambatkan dengan tali yang cukup kuat pada sebilah pohon  besar melalui cincin yang melingkar  di batangnya,  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lanting</strong>, asal kata dari bahasa Dayak Kahayan yang saya artikan dalam bentuk bangunan yang berdiri diatas air dengan ditopang oleh balok-balok kayu sehingga bisa mengambang dan bergerak mengikuti ketinggian air. Supaya tidak terseret oleh arus, umumnya ditambatkan dengan tali yang cukup kuat pada sebilah pohon  besar melalui cincin yang melingkar  di batangnya,  rangkaian cincin dan  tali  tersebut  orang menyebutnya   <strong>Tambuhak</strong>. Di Jambi saya dikenalkan dengan istilah &#8220;<em>Rumah Rakit</em>&#8220;, tapi di Kahayan lanting tidak harus berbentuk rumah, dia bisa Rumah Makan, Warung, Pom Bensin, Mesin Sedot Emas, Kandang Babi, Peternakan Ayam, Sandaran Perahu atau Kincir Air yang sedang kita ceritakan ini.</p>
<p><img src="/images/tekno/lanting_kincir_air.jpg" alt="Micro Hidro Lanting" width="570" height="364" /><span id="more-30"></span></p>
<p>Namanya Mantan Kali (bekas sungai), tapi sungai di belahan bumi Borneo ini lebarnya gak kira-kira, bisa puluhan kali lipat dari sungai-sungai yang ada di Jawa, kalo ada upaya bikin bendungan mestinya biayanya juga berlipat-lipat, untungnya juga kali yah&#8230;. Mungkinkah bikin bendungan di Hulu Kahayan ini? Mungkin saja, gak ada yang tidak mungkin dilakukan, asal jalur transportasi masyarakat yang masih 100% mengandalkan lewat kayuhan baling-baling ini digantikan dengan roda kuda besi.</p>
<h2>Pembangkit Energi Listrik</h2>
<p>Kebutuhan masyarakat Hulu Kahayan terhadap listrik nampaknya sudah tidak dapat terbendung lagi, mereka menggunakannya untuk kebutuhan peralatan pertanian, khususnya pasca panen padi (giling padi), pertukangan (alat  serut), hiburan (televisi, play station) dan tentu saja penerangan, baik penerangan di rumah maupun jalan kampung. Lebih-lebih jika ada acara adat seperti perkawinan atau kematian, kebutuhan penerangan terasa sangat mendesak sehingga bener-bener mereka upayakan sedapatnya, dengan meminjam genset atau mesin diesel tetangga atau kerabat mereka.</p>
<p>Bagaimana dengan bahan bakarnya? pernah saya nyoba berhitung kebutuhan mereka untuk tiap malemnya jika ada hajatan penting yang membutuhkan peralatan penerangan dengan menggunakan mesin diesel Dong Peng, setidaknya perlu lampu nyala dari lepas Maghrib hingga minimal tengah malam jam 24.00, itu berarti 6 jam, bisa menghabiskan sebanyak 2-4 liter solar.  Yang membedakan sehingga menjadi beban mahal karena patokan harga solar tidak ikut standard Pertamina, karena mereka harus mengangkutnya secara mandiri selama 2 hari hingga sampai di kota Kecamatan, lah kalo solar diangkut dengan mesin solar jatuh terakhirnya bisa 2-4 kali lipat harga bandrol. Semalam menghabiskan solar untuk penerangan sebesar Rp. 30.000,- itu masih sangat mahal.  Untuk sebulan kudu bayar tagihan listrik berapa jadinya?</p>
<p>Bahan dah cukup neh untuk bergerak, saya bersama Amay Sandy dan Amay Sinder mau nyoba iseng-iseng bikin rancangan Pembangkit Listrik yang bisa diaplikasikan sesuai dengan  kondisi lokal,  sama-sama gak punya pengalaman,  gak kenal  teorinya, yang kita tau di desa sebrang pernah membuat kincir untuk penghancur batu, untuk mencari emasnya.  Tanya sana-sini tentang kincir, arus sungai dan listrik, malah sempet dikenalkan sama <a title="Ahmad Suwandi" href="http://wandi.web.id" target="_blank">wandi </a>dengan dosen pengairannya <a title="Dudi Gurnadi Kartasasmita" href="http://dgk.or.id" target="_blank">dudi </a>untuk tanya tanyi biar semakin lengkap, karena mendengar kabar sang dosen tersebut yang pernah bikin project gelombang laut untuk energi.</p>
<h2>Tak Mengenal Gagal</h2>
<p>Yang kami pikirkan adalah membuat Lanting dengan kincir air untuk menggerakkan dinamo, outputnya memang tidaklah besar, karena sasaran kami adalah kebutuhan listrik untuk satu rumah atau setidaknya untuk menerangi jalan kampung, tentang Teknologi Kelistrikannya rencana menggunakan teknik sederhana yang pernah saya posting sebelumnya disini <a title="Energi Alternatif" href="http://faizal.web.id/sky/tutorial/energi-alternatif-dari-gunung-halimun/">Energi Alternatif dari Gunung Halimun</a></p>
<p><img src="/images/tekno/kincir_air.jpg" alt="Pak Sandy dan Pak sinderman" width="570" height="391" /></p>
<pre>Pak Sandy dan Pak Sinderman bekerja, aku yang memotret hehehheehe</pre>
<p>Akhirnya kita hanya sampe menuntaskan  sebatas miniaturnya saja, belum sampe ke bentuk nyatanya karena beberapa kendala, saya posting ulang untung mengenang semangat bapak-bapak ini yang tak pernah kenal lelah mengarungi arus kehidupan yang begitu deras di daerah udik sana.  Juga daripada photo ini jadi sekedar album kenangan yang tidak bisa bercerita dan membusuk di hardisk, syukur-syukur ada pembaca atau sarjana yang  tau banyak tentang air  dan kincir  bisa kasih saran  rembug. Dan berharap kerjaan yang setengah ini masih bisa memberi inspirasi.</p>
<p><em>uconk: kincir air itu ternyata bisa muter-muter, kadang di kenceng, kadang alon, seng penting kelakon&#8230;opo sih iki&#8230;???</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/lanting-kincir-air.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasang Jerat</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/memasang-jerat.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/memasang-jerat.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 04:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/jejak/memasang-jerat/</guid>
		<description><![CDATA[
Amay Penyang Surung sedang Mempersiapkan Perangkap Ikan
Sejak pagi sehabis sarapan, Rolan dan Melky sibuk memainkan Mandaunya masing-masing, memotong gulungan tali plastik sepanjang 100 meteran menjadi puluhan bagian kecil-kecil, John pun tak kalah giatnya membantu membuat ikatan dan simpul merangkai potongan-potongan tali tersebut menjadi satu bagian utuh. Sementara aku masih dengan posisi duduk jongkok sambil memperhatikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/penyangsurung.jpg" alt="Bapak Penyangsurung dengan Bubunya" height="266" width="499" /></p>
<pre>Amay Penyang Surung sedang Mempersiapkan Perangkap Ikan</pre>
<p>Sejak pagi sehabis sarapan, Rolan dan Melky sibuk memainkan Mandaunya masing-masing, memotong gulungan tali plastik sepanjang 100 meteran menjadi puluhan bagian kecil-kecil, John pun tak kalah giatnya membantu membuat ikatan dan simpul merangkai potongan-potongan tali tersebut menjadi satu bagian utuh. Sementara aku masih dengan posisi duduk jongkok sambil memperhatikan yang sedang mereka lakukan, yang bisa aku kerjakan cuman mengepulkan asap dari sebatang 234 yang melekat di jari-jariku.<span id="more-28"></span></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/mangkuliang.jpg" alt="Di depan tebing Mangkuliang" height="298" width="499" /></p>
<pre>Stop dulu, ada pemandangan bagus, berpose di depan Tebing Mangkuliang</pre>
<p>Yak, kita adalah 4 sekawan yang sedang berpetualang persis seperti cerita-cerita yang dikisahkan dalam buku cerita anak itu he he he. Pagi ini memang kita akan jalan-jalan di seputaran Sungai Beruang sambil mencari temannya sesuap nasi, nafas kita memang masih dibutuhkan untuk beberapa bulan lagi kedepan disini, gak mungkin tiap hari selalu makan makanan kaleng, saya sendiri baru merasakan langsung dampak buruk karena terlalu sering mengkonsumsi makanan yang terbungkus dengan merek dan label.</p>
<p>Minggu pertama biasanya masih bisa menikmati, jarang-jarang juga bisa beli karena tergolong makanan mahal dan mewah, minggu berikutnya lidah mulai terasa hambar, makanan jenis apapun yang dibikin sudah tidak ada nikmatnya lagi, dan kalo udah itungan bulan, baru ngeliatnya aja sudah pengen muntah, tidak jarang juga beberapa kawan mulai timbul gatal-gatal dan alergi, sepertinya badan kita sudah mulai keracunan. Kalo udah seperti itu, seikat daun pepaya segar dan sambal lebih nikmat dibanding sepanci daging kaleng, dan yang pasti lebih sehat dan berguzi, mengandung minamin tanpa ewek-ewek sampingan.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/sungaiberuang.jpg" alt="Melintasi Sungai Beruang" height="307" width="499" /></p>
<pre>Melintasi Sungai Beruang</pre>
<p><strong>Sungai Beruang</strong>, Hari ini kita akan bekerja keras mencari pengganti makanan sampah, sekaligus cari hiburan selingan jalan-jalan di sekitar kaki pegunungan Schwan Muller, syukur-syukur dapat ikan segar dari Sungai Beruang dan se ekor daging Rusa.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/jejakrusa.jpg" alt="Melihat Jejak Rusa" height="714" width="497" /></p>
<pre>Pemasangan Jerat dilakukan di areal Jejak yang terlihat</pre>
<p><strong>Memasang Jerat</strong>,  umumnya biasa dilakukan pada musim kemarau, kenapa? jawabnya sudah pasti karena sungai-sungai kecil sudah pada surut, kubangan-kubangan juga sudah pada kering, yang tersisa hanyalah sungai yang cukup mendapat suplai sumber dan mata air yang bisa tetap mengalir. Kondisi ini mendorong semua binatang di hutan harus menuju titik yang sama, mereka tidak bisa lagi tersebar tetapi pada waktu yang sama akan berkumpul pada sumber-sumber air yang memadai.</p>
<p>Inilah titik awal kita, start penempatan jerat selalu berawal dari sumber-sumber air potensial, sambil memperhatikan dan memperhitungkan jejak-jejak kaki yang ditinggalkan ditanah basah. Masing-masing jenis binatang ternyata punya pola dan jalur perjalanan, celeng (babi hutan) punya kecenderungan melakukan perjalanan dengan jalur yang sama, pulang pergi (pp) tarip sama, tidak demikian dengan Rusa atau Kijang, mereka lebih acak, mungkin karena punya kaki yang panjang dan postur tubuh ramping sehingga lebih leluasa belok kiri dan kanan tanpa lampu riting, tentunya tidak demikian dengan badan penuh lemak dan kaki pendek macam celeng, untuk belok dia harus memutarkan seluruh anggota tubuhnya.</p>
<p style="text-align: cente<br />
r"><img src="http://img.faizal.web.id/jeratceleng.jpg" alt="Bentuk Jerat untuk Rusa dan Celeng" height="329" width="499" /></p>
<pre>Diusahakan tidak terlihat, ditutup dengan daun kering</pre>
<p>Lebih dari satu macam teknik menangkap hewan dengan jerat, jika kaki rusa/celeng tertangkap jerat, maka dia tersangkut di kayu penjeratnya atau bisa juga dengan sistem pelampung, si binatang masih bisa lari kesana-kemari dengan membawa kayu gelondongan yang terikat di salah satu kakinya, seperti Buldozer yang sedang menarik beban, sayangnya tinggal menunggu waktu dan lokasi yang pas sampai akhirnya kayu gelondongan tersebut tersangkut oleh batang atau semak di hutan, di hutan kan penuh dengan halang rintang alami, lain halnya kalo dia lari narik gelondongan di jalan tol, yang bisa nangkep paling pintu gerbang pembayaran tol, namanya aja jalan bebas hambatan pak de&#8230;</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/jerat2.jpg" alt="Jerat di sekitar jejak" height="576" width="482" /></p>
<pre>Roland dan Jerat Rusa-nya</pre>
<p>Yang nampak di photo atas adalah baru saja disiapkan jerat untuk rusa/celeng, masih ada proses selanjutnya, adalah memberikan kamuflase diantara warna-warna tali dan jerat yang mencolok, kebetulan kali ini untuk jeratnya menggunakan tali plastik yang warnanya sangat aduhai di antara hijau dan coklat tanah, ini harus disembunyikan dengan cara menutupi dan menimbun dengan daun-daun kering dan tanah biar lebih tersamar, yang sangat sensitif dengan warna adalah rusa/kijang.</p>
<p>Oke, satu jerat sudah selesai dipasang, masih kurang 99 jerat lagi harus dipasang di seputar lokasi target kita. Hmmmm banyak banget yah? tidak seperti yang aku kira sebelumnya, sebelumnya memang satu-satunya referensiku tentang bertahan hidup di alam bebas adalah buku yang bertitel <a href="http://www.4shared.com/file/4590973/5be31404/The_Survival_handbook.html?cau2=403tNull" title="Download Buku Survival Handbook" target="_blank">The Survival Handbook</a>, dari situ untuk pemasangan jerat yang terpikir paling cuman bikin satu buah saja.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/perangkapburung.jpg" alt="Jerat untuk Burung" height="265" width="499" /></p>
<pre>Jerat untuk Burung, tapi bukan jerat burungnya Pak Sandy</pre>
<p>Dari celeng, rusa, luwak (musang), landak, monyet hingga burung semuanya bisa ditangkap dengan jerat, tetapi jelas berbeda tekniknya, disesuaikan dengan karakter binatang yang hendak dijadikan target, beberapa diantaranya diperlukan umpan, baik umpan yang diam atau umpan yang bergerak, termasuk juga pemilihan umpan dengan warna dan bau yang mencolok dan mengundang selera, prinsip-prinsipnya tidak beda jauh dengan memasang jerat-jerat cinta juga kok&#8230;hehhehhe</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/amaysandi.jpg" alt="Penerangan dan Penjelasan" height="323" width="499" /></p>
<pre>Amay Sandy dengan burungnya....</pre>
<p>Memelihara burung di rumah, menikmati indah bulunya atau suaranya bukanlah kebiasaan yang diturunkan kepada mereka, apalagi harus sibuk setiap hari memberi makan dan minum, kita manusia yang memiliki dia atau justru dia yang menjadikan kita sebagai buruhnya, yang setiap hari harus memperhatikan tiap kebutuhan hidupnya, celetukan ini memang pernah aku dengar saat teman saya lagi kesel banget sama binatang peliharaannya hehehehe. Lha iya pak, kan lebih enak menikmatinya langsung di alam, pada setiap pagi kan kita bisa liat mereka ikut nongkrong di depan rumah kita sambil ber cicit cuit&#8230;. kenapa harus merepotkan diri kudu nangkep dan memelihara segala&#8230;.tapi seringkali memang harus ditangkep karena memenuhi pesenan orang lain, kalo yang ini memang agak rumit, yang mencicit cuit adalah kebutuhan dapur.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/jerat4.jpg" alt="Jerat untuk Burung" height="720" width="495" /></p>
<p>Mereka kok jahat yah sampe menangkap binatang dengan cara-cara sadis seperti ini?, pertanyaan i<br />
ni adalah tidak tepat untuk diungkapkan, yang jelas jika diliat dari niatnya mereka melakukan ini bukan cuman untuk kesenangan dan kepuasan, tapi lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup, jerat seperti ini sangatlah aman, aman bagi binatangnya karena tidak kesakitan, mreka mungkin mengira sedang terbelit akar di hutan, disamping itu juga aman bagi manusianya jika tidak sengaja kaki tertangkap jerat.  Jangan sembarangan melangkah di sekitaran Gunung Biru  di Malang, kalo tidak kenal daerah salah-salah kaki anda bisa putus karena tertangkap jerat yang bergerigi yang terbuat dari besi, persis seperti perangkap tikus cuman dalam bentuk yang lebih kuat dan kokoh.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/rolanmelkydanjohn.jpg" alt="Mejeng lagi achh" height="344" width="500" /></p>
<pre>Pantang tidak mejeng</pre>
<p>Gak terasa, ternyata kita berempat telah menghabiskan waktu sepanjang pagi hingga sore, kita tuntaskan dan segera balik, sambil sekalian mampir di sungai, sapa tau pukat kita yang dipasang tadi pagi sebelum berangkat sudah ada penghuninya, sambil sekalian membasuh badan di sungai yang sepi dan jernih.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/sungoi.jpg" alt="Mandi di Sungai" height="322" width="492" /></p>
<pre>Tidak lupa mandi dulu sebelum balik</pre>
<p>Selanjutnya adalah tinggal nunggu dan cek rutin tiap hari, yang jelas tugas selanjutnya bukan untuk aku, gimana bisa ngapalin lokasinya di hutan belantara kayak gitu, di komplek perumahan aja aku bisa nyasar kok hehehhehhe. Itulah hebatnya teman-temanku itu, mereka pasti punya daya ingat atau setidaknya tau alat bantu untuk mengingat lokasi dan tempat di luasan seperti itu. Bisa masang jerat tapi gak mengingat lokasi pemasangannya sama aja seperti bikin rumah tapi tidak tau alamatnya. Mau nanya ke siapa kalo bikinnya di alas, kecuali bisa berkomunikasi dengan para wewe gombel.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/kijang.jpg" alt="Tripot, si Kijang" height="302" width="500" /></p>
<pre>Tripot, si Rusa Betina</pre>
<p>Aku panggil  Tripot karena kakinya cuman ada tiga, Tripot juga yang terjebak dengan jerat kami, sudah ketangkap maunya di sembelih kok pada kasian, akhirnya jadi teman main kami mandi pagi dan sore di sungai hehehhehe begitulah mereka&#8230;.</p>
<p><em>congkie: satu dua tiga sayang semuanya&#8230;&#8230;.. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/memasang-jerat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lembuswana, penjaga Sungai Mahakam</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 10:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/jejak/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam/</guid>
		<description><![CDATA[ &#8220;Bermahkota bukannya raja. Berbelalai. Bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya  burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?&#8221;
Kuis tebak-tebakan yang tidak berhadiah ini tertulis di bawah kaki Patung berbentuk binatang aneh dan unik di depan Musium Mulawarman.  Jawabannya memang sudah pasti &#8220;Lembuswana&#8221;,  spesies langka yang tidak termasuk dalam daftar Appendix [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1324/712149073_7b82ce06f8_m.jpg" alt="Lembuswana" align="left" height="240" hspace="10" width="160" /> &#8220;<em>Bermahkota bukannya raja. Berbelalai. Bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya  burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?</em>&#8221;</p>
<p>Kuis tebak-tebakan yang tidak berhadiah ini tertulis di bawah kaki Patung berbentuk binatang aneh dan unik di depan <a href="http://www.kutaikartanegara.com/wisata/museum_mulawarman.html" title="Musium Mulawarman Samarinda" target="_blank" class="snap_shots">Musium Mulawarman</a>.  Jawabannya memang sudah pasti &#8220;Lembuswana&#8221;,  spesies langka yang tidak termasuk dalam daftar <acronym title="berarti perdagangan spesies tersebut dikontrol sangat ketat dan tidak dapat diperdagangkan secara internasional kecuali hasil penangkaran">Appendix I</acronym> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/CITES" title="CITES" target="_blank" class="snap_shots">Cites</a> ini dapat anda jumpai di <a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=309264&amp;page=4" title="Wisata di Tenggarong" class="snap_shots" target="_blank">3 (tiga) lokasi</a> utama Kota Tenggarong, di Pintu Gerbang memasuki kota Tenggarong, di depan Musium Mulawarman dan yang terbesar di Pulau Wisata Kumala. Yang terakhir akan menjadi tokoh utama kita kali ini, soale dapat undangan gratis keliling Pulau Kumala sih, pilihannya cuman satu aja, kalo pengen kisah lainnya boleh kok mengundang aku lagi&#8230;..hehehehehe<span id="more-24"></span></p>
<h2>Makan Siang sambil Terapung</h2>
<p>Wong ndeso ini pantas girang banget, soale baru nyadar kalo Rumah Makannya tidak saja bisa ngambang di atas air, tapi bisa mengelilingi Pulau Kumala, pantas saja ini kan Kapal Layar, layaknya sebuah kapal tentu ada mesinnya, setir, Anak Buah, Layar, dan yang paling penting semua yang tersebut tadi dapat imbukan kata &#8220;Kapal&#8221;, sekedar untuk membedakan kebiasaan di darat sama di Sungai, termasuk juga ada organ (<em>itu lho, alat musik yang tutnya cuman ada 2 warna, hitam dan putih</em>)&#8230;&#8230; hahahah dasar ndesit. Tentu saja dengan alat musik tersebut nyanyinya pake irama Country-an, terasa rada jadul dikit,  penyanyinya pun lengkap dengan atribut koboi dengan kisaran usia 15-an (lima belas ngikut pemilu pak&#8230;), kita-kita yang masih kinyis cuman bisa ngikut goyang-goyang kaki aja, soale gak apal, bolehlah sekali-kali teriak hhheeeyyya&#8230;&#8230;heeeyyyaaaa&#8230;&#8230;.halah&#8230;.koboi kok melaut seh pak&#8230;&#8230;koboi yah angon wedus.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1226/712149095_e3284936cf.jpg?v=0" alt="Lembuswana" height="332" width="500" /></p>
<p>Sambil makan siang, kita ber-banyak orang ini dibawa mengelilingi Pulau Kumala, sambil menikmati nikmatnya ikan Patin bakar, Gulai Kambing dan Es Jeruk, sebagai penutup buah-buahan khas Kaltim tersedia berlebih, mulai Jeruk, pisang sampai duku semuanya pas dan lengkap, dan yang penting akhirnya tak tersisa, buat kucing sekalipun, tandas.</p>
<p>Mendekati tujuan, pintu gerbang  Pulau Kumala,  terlihat sosok monumen yang cukup besar dan megah dibuatnya, Patung Lumbuswana raksasa sebagai hasil karya pematung terkenal <a href="http://www.nuarta.com/" title="Nyoman Nuarta" class="snap_shots" target="_blank">Nyoman Nuarta</a>. Ini pertama kalinya aku melihat sosok symbol mitologi <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai_Kartanegara" title="Kerajaan Kutai Kertanegara" class="snap_shots" target="_blank">Kerajaan Kutai Kertanegara</a> dari dekat, inikah binatang yang gaya hidupnya amphibi plus?, plus karena punya sisik,  kebayang bisa hidup di air, punya kaki empat pasti mamalia, namanya lembu tapi kepalanya gajah, punya sayap berarti bisa terbang, imaginasiku membayangkan pada suatu pagi lepas bangun tidur, terlihat para lembuswana bertengger di ranting dan bercicit cuit menyongsong mentari.</p>
<p>Mencari sejarah sang Lembu ini rada kesulitan, malah ketemu beberapa blogger yang minta diinformasikan tentang <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=sejarah+lembuswana&amp;btnG=Telusur<br />
i+dengan+Google&amp;meta=" title="Sejarah Lembuswana" class="snap_shots" target="_blank">history of lembuswana</a> kalo ada yang tau. Mitologi Kutai lainnya yang ketemu malah tentang <a href="http://www.kutaikartanegara.com/kesultanan/mitologi2.html" title="Naga Erau" class="snap_shots" target="_blank">Naga Erau</a> yang menjadi rujukan <a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=309264&amp;page=4" title="FEstival Erau" class="snap_shots" target="_blank">Festival Erau</a> yang sudah menjadi <a href="http://www.kutaikartanegara.com/wisata/" title="Peta Wisata di Kutai" class="snap_shots" target="_blank">kegiatan wisata</a> rutin Kota Tenggarong.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1187/712149115_e64747542e.jpg?v=0" alt="Gerbang Pulau Kumala" height="332" width="500" /></p>
<pre>Gerbang Pulau Wisata Kumala</pre>
<p>Kalo Jakarta punya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dufan" title="Dunia Fantasi Ancol" class="snap_shots" target="_blank">Dunia Fantasi</a>, inilah andalan dari Provinsi Kaltim, Pulau Kumala, Dufan yang dibangun di daerah pesisir pantai, Pulau Kumala dibangun diatas pulau di tengah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Mahakam" class="snap_shots" title="Sungai Mahakam">Sungai Mahakam</a> atas prakarsa <a href="http://www.tokohindonesia.com/majalah/khusus/01-36/02/07.shtml" title="Pak Kaning" class="snap_shots" target="_blank">Bupati Syaukani</a> (pak Kaning) Pulau seluas 76 ha itu dibangun dan diurug tak kurang dari sejuta setengah kubik pasir ditanam disana, hingga kini terlihat sebagai lokasi wisata modern bagi masyarakat.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1341/713062754_10e46a3f6f.jpg?v=0" alt="restoran berjalan" height="332" width="500" /></p>
<pre>Kapalku segera mendaratkan awaknya</pre>
<p>Ada dua cara menuju Pulau Kumala ini, bisa dengan cara menyeberangi sungai Mahakam atau lebih menarik lagi melalui Sky Tower, dengan kendaraannya kereta gantung (cable car), diatas ketinggian 75 meter anda bisa melihat panorama kota dengan leluasa dari kaca kereta,  Sky Tower sekaligus penghubung antara Tenggarong Seberang dengan Pulau Kumala.</p>
<h2>Dayak Long House</h2>
<p>Rumah Panjang, atau rumah komunal Suku Dayak biasa disebut dengan Lamin (Lou) di Kalteng dikenal dengan istilah Rumah Betang, Masyarakat Kutei umumnya mengenal sekaligus mempopulerkan nama rumah dayak dengan sebutan Lamin, sedangkan Orang Dayak Benuaq lebih senang dan bangga dengan sebutan Lou ketimbang Lamin. Tapi bukan hanya karena kisah seorang ibu-ibu muda yang mengundang tamu laki-laki paruh baya untuk bertandang ke rumahnya, Pak saya dan keluarga akan senang dan hormat jika bapak menyempatkan main ke Lamin saya malam ini&#8230;&#8230;lho&#8230;. gawat, kalo sang bapak tamu tadi gak ngerti istilahnya, bisa salah tangkep maksud baiknya. hehehe, tapi yang jelas istilah Lou lebih berasal dari akar bahasa benuaq.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1291/712149161_eabdbbb54a.jpg?v=0" alt="Lou atau lamin" height="332" width="500" /></p>
<p>Iklim di Tenggarong termasuk cukup hangat bagi para pendatang,  untuk beraktifitas ringan jalan kaki saja sudah cukup menguras keringat, tapi jangan kuatir mengelilingi pulau kumala sudah tersedia angkutan mobil gandeng yang selalu siap mengantar anda mengitari pulau ini, melihat-lihat fasilitas yang tersedia untuk wisata.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1063/712149179_2ce9fdb359.jpg?v=0" alt="Lou -Rumah Adat Suku Dayak di Kaltim" height="332" width="500" /></p>
<pre>Lou, rumah adat dayak kaltim</pre>
<p>Nampaknya tidak ada kegiatan sosial di tempat ini, apa karena saya datangnya bukan pas hari libur, di tanah seluas 76 ha ini nampaknya cuman kami dan beberapa orang saja pengunjungnya, saya berharap ada agenda menarik dari sekedar menikmati panorama dan bangunan rupanya tidak terfasilitasi, seandainya lokasi wisata ini tidak hanya mengandalkan kekuatannya dari bangunan dan fasilitas saja, pasti akan lebih semarak lagi. Kalau konsep wisata andalannya hanya fisik, kecenderungannya mereka hanya perlu datang sekali saja, dan akan kembali lagi hanya karena m<br />
engantar tamu atau teman yang bertandang.</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1301/712149137_897188307d.jpg?v=0" alt="Vihara" height="332" width="500" /></p>
<pre>memang akan menjadi menarik jika ada aktifitas ibadah masyarakat</pre>
<p>Hampir tiga jam kita berkeliling dan melihat-lihat Pulau, rasa-rasa kerongkongan udah mulai kering, keringat juga udah membasahi badan, sudah waktunya untuk undur diri, angkat sauh, dan kapal kitapun berlayar menuju daratan Indonesia&#8230;. udah lama yah rasanya kita meninggalkan negara Indonesia Raya tercinta&#8230;&#8230; kalo saja setiap kesan yang dibawa pengunjung seperti itu, pasti tidak lama lagi dia akan bawa orang sekampungnya untuk datang ke Tenggarong dengan bangga, anda akan diisi dan diservis luar dalam, lahir batin dengan program wisatanyaa&#8230;begitu kira-kira isi promosinya.</p>
<p>tabek</p>
<p><img src="http://farm2.static.flickr.com/1154/713062728_31d9f88462.jpg?v=0" alt="Guest House" height="332" width="500" /></p>
<pre>nginep di Guest House</pre>
<p><em>conkie: pengen kenal lebih mendalam tentang tenggarong dan kutei kartanegara ing martadipura </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/lembuswana-penjaga-sungai-mahakam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Penampakan Di Gunung Baung</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/ada-penampakan-di-gunung-baung.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/ada-penampakan-di-gunung-baung.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 05:21:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[outbond]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/backpack/ada-penampakan-di-gunung-baung/</guid>
		<description><![CDATA[
 *perhatikan lebih seksama gambar ini dalam 10 detik

Itulah Andi, teman perjalanan, sahabat beraktifitas, dan saudara buat garap-garapan, gojek-gojekan dan olok-olokan hehehhehe, dari sekian tahun gak pernah ketemu (kurang lebih 5 tahun) eeehh ujug-ujug nongol di Gunung Baung. Sekarang dan sampai kedepan dia akan menjaga Gunung Baung dari setan gentayangan dan hantu penasaran hehhehehe.
Kaget juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Penampakan di Gunung Baung" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/penampakan.gif" alt="Penampakan di Gunung Baung" width="550" height="412" /></p>
<p><em> *perhatikan lebih seksama gambar ini dalam 10 detik</em></p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p>Itulah Andi, teman perjalanan, sahabat beraktifitas, dan saudara buat garap-garapan, gojek-gojekan dan olok-olokan hehehhehe, dari sekian tahun gak pernah ketemu (kurang lebih 5 tahun) eeehh ujug-ujug nongol di <a class="snap_shots" title="Taman Wisata Gunung Baung" href="http://www.dephut.go.id/informasi/propinsi/jatim/wisata_baung.html" target="_blank">Gunung Baung</a>. Sekarang dan sampai kedepan dia akan menjaga Gunung Baung dari setan gentayangan dan hantu penasaran hehhehehe.</p>
<p>Kaget juga aku, lagi tenang-tenang membidik panorama di indah Sungai Gunung Baung, eee ndilalah muncul wajah sangarnya andik,&#8230;.ndikkk kamu kok tambah welek seeeeehhhhh wekekkekeek cocok tak sandingno karo mak lampir lho&#8230;.wes welek, gak konek internet maneh&#8230;.</p>
<p>Yang jelas, Andi dan gank-nya akan punya aktifitas dan kegiatan yang menarik di tempat ini, di Gunung Baung, lokasi menarik yang selama saya di Malang gak pernah menyadari kalo dibelakang Kebun Raya Purwodadi ada wilayah lain yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jatim.</p>
<p><img title="Air Terjun Di Gunung Baung" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/gunung_baung03.jpg" alt="Air Terjun Di Gunung Baung" width="550" height="412" /></p>
<p><em>*Air Terjun di Gunung Baung, di ambil dari Menara Pantau</em></p>
<p><strong>Gunung Baung</strong>, Taman Wisata Alam Gunung Baung, sebenarnya adalah sebuah bukit diwilayah hak konservasi BKSDA Jatim, potensi alamnya memang menarik, apalagi untuk mengakses lokasi ini tidaklah sulit dan tidak jauh dari jalan utama Lawang-Pandaan, persisnya ada di belakang Lokasi Kebun Raya Purwodadi, Malang. Ke depan lokasi Wisata Alam ini akan bertambah perannya menjadi Pusat Pendidikan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan.</p>
<p><img title="Air Terjun Gunung Baung dari Dekat" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/gunung_baung04.jpg" alt="Air Terjun Gunung Baung dari Dekat" width="375" height="500" /></p>
<p><em>* Lebih dekat lagi di Air Terjun</em></p>
<p><strong>Air Terjun</strong>,  orang kebanyakan lebih kenal air terjun Purwodadi ketimbang Gunung Baung, karena lokasi air terjun ini dapat juga diakses dari pintu belakang Kebun Raya Purwodadi, meski bukan pintu resmi, ada beberapa ruas pagar kawat yang sengaja dijebol untuk mengakses lokasi ini.</p>
<p><img title="Panorama Indah Gunung Baung" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/gunung_baung02.jpg" alt="Panorama Indah Gunung Baung" width="550" height="412" /></p>
<p><em>* dari lokasi ini nantinya akan ada berbagai macam aktifitas menarik bagi, kelompok atau perorangan.</em></p>
<p><strong>Kalong</strong>,  cukup banyak terlihat kalo pas waktunya, mereka bergelantungan di ranting-ranting pohon, berkerumun dan bergerombol. dari jauh nampak seperti pohon berbuah, karena kalong emang bukan bertengger, melainkan bergelantungan, badannya menjuntai jatuh ke bawah layaknya buah yang siap dipetik. Tapi gak ada istilah panen kalong lho ya, yang ada kalong panen buah&#8230;.</p>
<p><img title="Tangga Tanjakan" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/gunung_baung01.jpg" alt="Tangga Tanjakan" width="550" height="733" /></p>
<p><em>* tangga menuju Air Terjun ini kayaknya emang bukan untuk para pemalas hehehhehe dijamin ngos-ngosan.</em></p>
<p>Sepertinya hanya kalangan muda atau yang punya fisik kuat saja bisa mengakses lokasi air terjun ini melalui tangga batu, karena memang disamping lumayan tajam turunannya, jalurnya juga cukup bikin detak jantung tambah kenceng, keringatpun se biji jagung, palagi yang kerjaannya tukang ngopi dan ngerokok kayak aku&#8230;weleh&#8230;.sering istirahat bertolak pinggang alasan menikmati panorama alam. alasan klasik emang, tapi daripada njun<br />
gkel? ndlosor? terus nyonnyor? malah mbrodol gak keruan&#8230;..</p>
<p><img title="Tampak Atas Air Terjun" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/gunung_baung06.jpg" alt="Tampak Atas Air Terjun" width="550" height="412" /></p>
<p><em>* Sempatkan sebentar menuju Air Terjun dari sisi atasnya&#8230;wow&#8230;.</em></p>
<p>Mending langsung naik keatas Air Terjun, disamping aksesnya mudah, jalan datar aja, dan gak terlalu jauh, kalo pengen ngeliat air terjunnya emang paling enak langsung dari menara pantau, lebih menarik lagi kalo sempet bawa binokuler.</p>
<p><img title="Bersantai Ria di Atas Air Terjun" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/gunung_baung07.jpg" alt="Bersantai Ria di Atas Air Terjun" width="550" height="412" /></p>
<p>* <em>Kawasan ini terlarang bagi pengunjung jika masuk musim penghujan, tau-tau dapat kiriman banjir dari Malang wusss&#8230;</em></p>
<h2>Info Tambahan</h2>
<p>Kemaren, tepatnya tanggal 18 Februari 2008, Gunung Baung dengan Team ITnya telah meluncurkan situs informasi lengkapnya tentang Profil, Program serta aktifitas lainnya,  cukup padat program aktifitasnya, yang meliputi Program Binaan, Inventarisasi Flora Fauna, Pembibitan Tanaman Lokal, Penangkaran Fauna, Mekanikal dan Elektrikal, juga termasuk Program Penyuluhan dan Humas.  Aktifitas Rekreasi dan Kegiatan Petualangan di Alam Bebas juga sangat beragam dan bervariasi, mulai dari Camping, Hiking, Jungle Survival, Outdoor Training, Flyng Fox dan macem-macem. Selengkapnya bisa buka-bukaan di Situs Resminya <a title="Gunung Baung" href="http://baungcamp..com" target="_blank">www.BaungCamp.com </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/ada-penampakan-di-gunung-baung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Air Terjun Warsa di Biak Utara</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/menuju-air-terjun-warsa-di-biak-utara.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/menuju-air-terjun-warsa-di-biak-utara.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2005 09:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/2005/09/05/menuju-air-terjun-warsa-di-biak-utara/</guid>
		<description><![CDATA[Pantai Wasori,  Menuju Desa Warsa disepanjang jalan utama, pemandangan pantai menyertai perjalanan anda, berhenti sebentar di Desa Wasori untuk sekedar melepas lelah dan mengambil gambar merupakan pilihan yang baik. Jika cuaca cerah, indahnya pemandangan pantai dengan langit birunya memberi kesan yang segar untuk dinikmati. Ombak di Pantai Wasori lumayan cukup besar, anak-anak disekitar desa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.faizal.web.id/bio/img/biak/wasori_beach.jpg" alt="pantai wasori" align="left" border="1" height="127" hspace="10" width="169" /><strong>Pantai Wasori, </strong> Menuju Desa Warsa disepanjang jalan utama, pemandangan pantai menyertai perjalanan anda, berhenti sebentar di Desa Wasori untuk sekedar melepas lelah dan mengambil gambar merupakan pilihan yang baik. Jika cuaca cerah, indahnya pemandangan pantai dengan langit birunya memberi kesan yang segar untuk dinikmati. Ombak di Pantai Wasori lumayan cukup besar, anak-anak disekitar desa sering memanfaatkan Pantai ini sebagai tempat bermain dengan ombak.</p>
<p><span id="more-8"></span><strong>Pantai Wari</strong></p>
<p><img src="http://www.faizal.web.id/bio/img/biak/wari_beach.jpg" alt="pantai wari" align="right" border="1" height="169" hspace="10" width="127" /> Pantai Wari, masih menyisakan sejarah pernah diterjang oleh Badai Gelombang Tsunami pada tahun 1996 namun masih terlihat sangat indah dan bersih karena dikelola secara baik oleh masyarakat setempat. Perbatasan antara pantai dengan jalan raya dibangun pagar sederhana dari kayu, pagar dari kayu lokal yang dibiarkan polos tanpa cat, menambah warna alami pantai ini. Untuk mengenang pengalaman beberapa tahun silam, pengelola memberi sebutan lain yang tertulis di papan nama pintu masuknya dengan nama Pantai Tsunami.</p>
<p><strong>Air Terjun Warsa</strong></p>
<p><img src="http://www.faizal.web.id/bio/img/biak/warsa_fall.jpg" alt="air terjun warsa" align="left" border="1" height="127" hspace="10" width="169" />Air Terjun di Desa Warsa, mempunyai ketinggian 9 meter dan mengaliri sungai di sekitar desa. Karena airnya yang sejuk dan jernih, masyarakat sekitar memanfaatkan sumber daya ini untuk mandi dan cuci. Anak-anak Kampung Warsa memanfaatkannya sebagai tempat bermainnya, disekitar air terjun terdapat kolam kecil yang dingin dan cukup dalam, cukup untuk menampung beban tubuh anda jika berani meloncat dari atas tebing air terjun ke kolam.</p>
<p>Kolam pemandian ini dikelola oleh masyarakat, dengan ristribusi masuk cukup murah yang lebih tepat sebagai pengganti biaya perawatan dan kebersihan. Tersedia kamar ganti pakaian sederhana dan lahan parkir yang cukup memadai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/menuju-air-terjun-warsa-di-biak-utara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
