<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jusron[at]Faizal.WEB/INDONESIA &#187; teknologi</title>
	<atom:link href="http://faizal.web.id/tag/teknologi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://faizal.web.id</link>
	<description>Learning is Journey for Freedom of Life</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Apr 2010 20:22:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Membuat Katup Limbah Pompa Hidram</title>
		<link>http://faizal.web.id/tutorial/membuat-katup-limbah-pompa-hidram.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/tutorial/membuat-katup-limbah-pompa-hidram.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 14:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[hidram]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;kami coba membuat hydram cuman kami kesulitan untuk membuat tuas klep buangan dan klep yang ketabung udara mohon dikirimi gambar dan syukur ada fotonya&#8221;
Artikel ini adalah respon balik untuk berbagi pengalaman dalam membuat Pompa Hidram sendiri, artikel-artikel tutorial membuat Pompa Hidram dari pipa besi sebelumnya memang tidak secara detail menceritakan bagaimana membuat katup limbahnya, baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignnone" style="width: 560px"><img title="bendungan hidram" src="/images/tekno/hidramania.jpg" alt="di depan bendungan di Lewu Napoi Kahayan Hulu Utara" width="550" height="248" /><p class="wp-caption-text">di depan bendungan kayu di Lewu Napoi Kahayan Hulu Utara</p></div>
<p><em>&#8220;kami coba membuat hydram cuman kami kesulitan untuk membuat tuas klep buangan dan klep yang ketabung udara mohon dikirimi gambar dan syukur ada fotonya&#8221;</em></p>
<p>Artikel ini adalah respon balik untuk berbagi pengalaman dalam <a title="Membuat Pompa Hidram" href="http://faizal.web.id/tag/hidram" target="_blank">membuat Pompa Hidram</a> sendiri, artikel-artikel <em>tutorial</em> <a title="Membuat Pompa Hidram" href="http://faizal.web.id/tag/hidram" target="_self">membuat Pompa Hidram</a> dari pipa besi sebelumnya memang tidak secara detail menceritakan bagaimana membuat katup limbahnya, baik yang ada di bagian pompanya atau menuju tabung.<span id="more-102"></span></p>
<h1>Ban Bekas</h1>
<p>Mengenalkan teknologi alternatif  kepada masyarakat desa, penting dan perlu memperhatikan masalah &#8216;perawatan rutin&#8217;, kerumitan teknologinya, ketersediaan bahan baku dan penggantian perangkat yang mudah aus atau rusak.  Seringkali saya mendapatkan email yang menanyakan &#8220;berapa harga pompa hidram ini di pasaran?&#8221;, bagaimana kalo saya beli saja?.  Setiap kali juga selalu saya sarankan untuk membuat saja sendiri, panduannya dapat dilihat lengkap<a title="panduan pompa hidram" href="http://faizal.web.id/tag/hidram" target="_self"> klik disini</a>.  Setidaknya dengan membuat sendiri, kita juga belajar tentang proses kerja pompa ini dan memungkinkan untuk memodifikasi sesuai dengan kebutuhan.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 570px"><img title="klep pompa hidram" src="/images/tekno/hidramklep.jpg" alt="Katup buang dan katup simpan pada bagian pompa hidram" width="560" height="352" /><p class="wp-caption-text">Katup buang dan katup simpan pada bagian pompa hidram</p></div>
<p>Pompa Hidram buatan sendiri ini sangat murah jika dibikin sendiri, termasuk juga tentang perawatannya. Bagian penting yang perlu diganti jika sudah mulai menipis karena gesekan adalah pada Katup (klep) Pompa Hidram yang terbuat dari ban bekas. Ada 2 (dua) bagian katup pompa hidram, yang pertama bagian <strong>katup limbah</strong> dan <strong>katup tabung</strong>.</p>
<h2>Membuat Katup Limbah Hidram</h2>
<p><img class="alignnone" style="border: 0pt none;" title="katub limbah pompa hidram" src="/images/tekno/hidram-katup.jpg" alt="" width="550" height="442" /></p>
<p>Dibagian pembuangan limbah inilah yang umumnya sering mengalami penggantian,  dari pengalaman menggunakan pompa ini, setidaknya tiap 3 bulan selalu mengganti karet pada tuas hidram ini.  Tuas hidram yang selalu bergerak naik turun dan mengeluarkan limpahan air, menyebabkan tabrakan antara karet dengan dinding buangan sehingga menyebabkan keausan.</p>
<p><strong>Karet Katup</strong>,  pada nomor 4 di gambar atas adalah terbuat dari ban luar, anda bisa menggunakan dari ban bekas mobil atau motor.  Prinsipnya adalah diameter lingkaran ban bekas tersebut dapat menutup dinding buangan, sehingga dapat memperlancar arus air menuju tabung. Mur penjepit atas-bawah dipergunakan dengan maksud untuk menghambat pergerakan karet katup. Untuk tangkai katup, karena yang dibutuhkan bagian bawahnya memiliki ulir untuk mur, tinggal beli di toko bangunan baut panjang sesuai dengan ukuran yang diinginkan.</p>
<h1>Membuat Katup Tabung</h1>
<p><strong>Tahap pertama</strong>, anda harus membuat lempengan logam berbentuk lingkaran sesuai dengan ukuran lingkar tabung, pada bagian tengahnya diberi beberapa lobang kecil tidak beraturan, silahkan lihat pada gambar dibawah ini.</p>
<p><img class="alignnone" title="klep hidram" src="/images/tekno/klephidram.jpg" alt="" width="550" height="294" /></p>
<p><strong>Tahap kedua</strong>, lempengan tersebut akan dipasang diantara sambungan pipa dan tabung seperti pada gambar bagian bawah ini.</p>
<p><img class="alignnone" title="katup tabung hidram" src="/images/tekno/hidramkatuptabung.jpg" alt="" width="550" height="261" /></p>
<p><strong>Tahap Ketiga</strong>,  selanjutnya anda harus membuat <em>karet katup</em> dari bahan tipis ban dalam,  jika dirasa terlalu lemas bisa dirangkap menjadi dua bagian atau memang dicari bahan yang sedikit keras tapi tidak terlalu tebal.</p>
<p><img class="alignnone" title="katup tabung hidram" src="/images/tekno/hidramkatuptabung2.jpg" alt="" width="550" height="640" /></p>
<p>Karet katup yang sudah dibikin dari karet ban bekas, selanjutnya dijepit dengan baut dan mur (<em>di bagian lobang dengan warna merah</em>).</p>
<p>Silahkan dicoba <em>tutorial</em> singkat dan sederhana ini, mohon maaf sebelumnya kalo istilah-istilah yang saya bikin tidak sama persis dengan istilah pasaran.. hehehe.</p>
<p><em>peringatan : jangan bikin katup hidram ini kalo gak berniat bikin pompa hidramnya yah..hehe</em></p>
<p><em>Tambahan:</em></p>
<p>Berkat bisa berkenalan dengan pak Fenani dari USAKTI,  karenanya saya bisa mendokumentasikan tiga jenis katup yang beliau pernah coba.  Silahkan dicermati gambar hasil jepretan kamera pocket digital.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class=" " title="katup hidram" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs493.ash1/26936_391201016760_149052371760_4303038_7773260_n.jpg" alt="" width="480" height="266" /><p class="wp-caption-text">Tiga macam katup hidram</p></div>
<p>1. katup dengan per   2. katup dengan baut  dan 3. beli pabrikan</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img style="border: 0px initial initial;" title="katup hidram" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs513.snc3/26936_391201021760_149052371760_4303039_7806830_n.jpg" alt="Katup Hidram" width="480" height="342" /><p class="wp-caption-text">Katup Hidram</p></div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 1115px; width: 1px; height: 1px;">http://faizal.web.id/tag/hidram</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/tutorial/membuat-katup-limbah-pompa-hidram.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kopipahit.com</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/kopipahitcom.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/kopipahitcom.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 16:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman]]></category>
		<category><![CDATA[Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[fauna]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[
Pada suatu tengah malam sendirian, saya berpikir dalam hati *jangan-jangan di kepala gak ada otaknya????, kenapa ya Kopi selalu identik dengan begadang dan tidak tidur?,  tidak berselang lama ternyata saya temukan jawabannya disini [Minuman Lezat yang sempat Terlaran]. Tapi kenapa juga Luwak ; Musang, jawa: Garangan (Paradoxurus hermaphroditus) juga senang makan kopi? Apa juga dia suka ngelembur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="kopi pahit dot com" src="http://faizal.web.id/doc/kopipahit.jpg" alt="Kopi Pahit dot com" width="550" height="254" /></p>
<p>Pada suatu tengah malam sendirian, saya berpikir dalam hati *<em>jangan-jangan di kepala gak ada otaknya????, </em>kenapa ya Kopi selalu identik dengan <em>begadang dan tidak tidur?</em>,  tidak berselang lama ternyata saya temukan jawabannya disini [<a title="Kopi Minuman Lezat" href="http://netsains.com/2008/03/kopi-minuman-lezat-yang-sempat-terlarang/" target="_blank">Minuman Lezat yang sempat Terlaran</a>]. Tapi kenapa juga Luwak ; <em>Musang, </em>jawa<em>: Garangan (<span style="text-decoration: underline;">Paradoxurus</span> <span style="text-decoration: underline;">hermaphroditus</span>) </em>juga senang makan kopi? Apa juga dia suka <em>ngelembur</em> bikin <a title="Spider-Web" href="http://register.spider.web.id" target="_blank">website</a> dan coding PHP, atau lagi banyak proyek!. Jangan-jangan kita (Kopi, Luwak dan Manusia) memang tersusun dalam satu rantai &#8220;Jaring Makanan&#8221;<br />
<span id="more-96"></span></p>
<h2>Kopi Luwak</h2>
<p>Matahari &#8211;&gt; Tanaman Kopi &#8211;&gt; Luwak &#8211;&gt; Pengumpul Kotoran Luwak &#8211;&gt; Di Proses Tukang Kopi &#8211;&gt; Di Minum Tukang Ngopi</p>
<p><img title="Luwak" src="/doc/luwak.jpg" alt="Luwak - Musang - Garangan" width="550" height="310" /></p>
<p><strong>Kopi Luwak</strong> atau <strong>Kopi Musang, </strong>adalah kopi yang terbuat dari biji kopi yang telah dimakan dan telah lulus melalui sistem pencernaan Musang. Melalui kotorannya itulah akhirnya biji kopi berkualitas ini akan diproses hingga bisa tersedia untuk para penikmat Wedang Kopi.  Proses pembuatan biji kopi tersebut banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa dan Sulawesi Indonesia, beberapa dikenal juga di Filipina.</p>
<p>Dunia International mengenalnya juga sebagai <strong>Kopi Luwak</strong>, tidak ada padanan kata lainnya karena proses ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia demi menghasilkan biji kopi yang aduhaiii&#8230; wekekekeke. Kopi apa yang paling mahal di dunia?.. Jika anda pernah tau tentang Jamaican Blue Mountain, Ethiopia Harrar, atau pun Kona Hawaii,  ketiga jenis tersebut  termasuk golongan biji Kopi berkualitas dan tentu saja mahal.  Tapi bukan itu yang termahal,  karena Kopi Luwak Asal Indonesia yang telah memiliki rekor harga tertinggi. Di Jepang dan Amerika, kopi ini terjual kepada para pengolah usaha Warung Kopi setiap Kilogramnya dibandrol $120 &#8211; $600.</p>
<p>Salah satu Kafe kecil di Australia, menjual secangkir  Kopi Luwak untuk pelanggannya dengan pasang harga $ 50, di London malah meningkat menjadi $ 99. Pemerintah Indonesia sudah seharusnya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kopi dan spesies yang satu ini, karenanya Dunia Internasional mengenal Indonesia melalui kolaborasi Flora dan Faunanya dalam wujud Kopi Luwak.</p>
<p><img class="alignnone" title="kopi luwak juga" src="http://fnctrl.com/img/faizal/kopi_luwak.jpg" alt="" width="208" height="173" /> <img class="alignnone" title="kopi luwak" src="http://fnctrl.com/img/faizal/kopi_luwak_logo.jpg" alt="" width="200" height="173" /></p>
<p>Anda mungkin benar-benar belum tahu kalo Kopi Luwak dikenal dunia International sebagai produk eksklusive, coba saja liat tayangan CNN tentang produk ini, meskipun judul tayangan ini menunjukkan <em>claim</em> yang tidak profesional. &#8220;Michigan Cat Poop Coffee&#8221; bener-bener judul yang tidak tepat karena kurang informasi&#8230;.gaul dong boss!! Luwak aja gaull kok..</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=Gb13iFRYIvA"><img src="http://img.youtube.com/vi/Gb13iFRYIvA/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p>
<p>Bagaimana si Luwak bisa merubah rasa pada tiap-tiap biji kopi sehingga bisa menghasilkan &#8220;Rasa Mahal&#8221;. Pada habitatnya Musang tidak saja makan biji kopi saja, melainkan juga buah-buahan lainnya. Yang dia makan dan pilih hanyalah biji kopi yang tua dan matang saja, tidak dikunyahnya langsung kecuali ditelannya bulat dengan hanya menguliti bagian luar buah Kopi.</p>
<p><img class="alignnone" title="kopi dan luwak" src="http://fnctrl.com/img/faizal/luwaknkopi.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Didalam lambung musang, biji kopi tidak dapat terurai dan tetap utuh, tetapi pada proses di lambung tersebut biji kopi mengalami modifikasi, enzym lambung merubah rasa yang tajam dan pahit diduga telah terserap dan tergantikan dengan rasa unik dan meningkatkan rasa manis pada biji kopi tersebut. Prosentase kandungan kafein juga lebih menurun dari sebelumnya.</p>
<p><img title="kotoran luwak" src="http://fnctrl.com/img/faizal/kotoranluwak.jpg" alt="Kotoran dan Biji Luwak Basah, masih perlu proses menjadi biji kering" width="550" height="246" /></p>
<h2>Hitam itu tidak selalu manis</h2>
<p>Saya sendiri termasuk golongan luwak.. ups.. maksud saya penggemar berat Kopi Hitam, beda banyak sama Luwak, soale biji kopi gak langsung di <em>untal</em> (telen). Dulunya termasuk golongan Nasgitel &#8211; Panas Legi Kentel, campuran gula dan kopi hampir sebanding takarannya, bau gula pada kopi harus terasa bener. Tapi sekarang selera agak beda berputar 360 derajat  * <em>lak balik lagi mas&#8230;??. </em> Karena udah ngerasa Manis, campuran gula udah gak dibutuhkan lagi, Kopi Hitam gak usah pake gula, manisnya kopi ditengah-tengah pahitnya punya <em>taste</em> yang agak berbeda timbang gula, rasanya menyengat pada jari kelingking saya * <em>udah mulai gak fokus</em></p>
<h2>Resep Rahasia Kopi Pahit</h2>
<p>Gak lengkap rasanya kalo cuman baca blog tapi gak ada yang dibawa pulang sebagai hidangan pagi atau sebelum tidur malem. Ini juga karena dapat bocoran dari beberapa restoran terkemuka bagaimana menghidangkan Kopi enak dengan bahan murah. Kebanyakan pembuat Kopi jarang memperhatikan detail teknis sehingga seringkali merusak rasa yang seharusnya tidak terjadi, contohnya saja  menggunakan gelas plastik untuk minum kopi, jelas-jelas sangat tidak disarankan.</p>
<h3>Alat dan Bahan</h3>
<ul>
<li>Gelas dan Sendok dari bahan beling</li>
<li>Kopi Kapal Api</li>
<li>Gula</li>
<li>Air Putih</li>
<li>Kompor, bahan bakar dan panci</li>
</ul>
<h3>Proses dan Resep Pertama</h3>
<ol>
<li>Masak Air hingga mendidih dalam panci di atas kompor, pastikan mendidih jangan anget atau suam-suam kuku. Tidak diperkenankan pake air panas dari water heater dan turunannya, panasnya kurang mantep.</li>
<li>Masukkan takaran kopi secukupnya, kali ini jangan langsung di campur dengan gula. Resikonya memang gelas bisa pecah/retak jika dituang air mendidih. Apalagi jika gelas biasanya dipake minum air dingin.</li>
<li>Tuang air panas ke gelas dan aduk secara merata, umumnya akan terlihat buih kopi dan tercium aroma wangi kopi</li>
<li>Campurkan gula secukupnya dan aduk lagi hingga merata.</li>
<li>Gelas di tutup dan siap di sruput jika sudah tidak terlalu panas.</li>
</ol>
<h3>Proses dan Resep Kedua</h3>
<ol>
<li>Campurkan takaran umumnya anda membuat kopi pada gelas, Kopi, Gula dan Air dingin</li>
<li>Campuran tersebut tuang di panci dan masaklah sampai benar-benar mendidih</li>
<li>Siap di sajikan dalam gelas beling dengan tutup gelasnya</li>
<li>Selamat mencoba</li>
</ol>
<h2>Warung Kopi</h2>
<p>Kalo ada yang mau buka Warung Kopi, ajak-ajak saya yah&#8230; setidaknya jadi tester sebelum dibuka untuk umum.</p>
<h2>Pranala Rujukan</h2>
<ol>
<li>This Coffee Kids -<a title="starbucks" href=" http://thiscoffeekids.com" target="_blank"> http://thiscoffeekids.com</a></li>
<li>Coffee Online Magazine - <a title="Coffee Online" href="http://coffeeonlinemagazine.com" target="_blank">http://coffeeonlinemagazine.com</a></li>
<li>Merdeka Coffee - <a title="Merdeka Coffe" href="http://www.merdekacoffee.com" target="_blank">http://www.merdekacoffee.com</a></li>
<li>Anomali Coffee - <a title="Anomali Coffee" href="http://www.anomalicoffee.com" target="_blank">http://www.anomalicoffee.com</a></li>
<li>Kopi Luwak Wikipedia &#8211;  <a title="Kopi Luwak" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kopi_Luwak">http://en.wikipedia.org/wiki/Kopi_Luwak</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/kopipahitcom.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Kolam Renang di Belakang Rumah</title>
		<link>http://faizal.web.id/tutorial/membuat-kolam-renang-di-belakang-rumah.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/tutorial/membuat-kolam-renang-di-belakang-rumah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 16:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore di belakang rumah, Tidak satupun ada anak kecil yang tidak suka main air, demikian juga dengan Nisa dan Zaqy dari sejak umur 5 bulan selalu dibawa main ke kolam renang tiap minggu sama Ramanya, pada setiap ada kesempatan dan hari libur. Melihat cucunya hoby berenang muncul ide kreatif dari Eyang Kakungnya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="kolam ikan patin" src="/doc/kolam_patin.jpg" alt="Kolam Pengembangan Bibit Ikan Patin, cikal bakal ide awalnya" width="550" height="303" /><p class="wp-caption-text">Kolam Pengembangan Bibit Ikan Patin, cikal bakal ide awalnya</p></div>
<p>Pada suatu sore di belakang rumah, Tidak satupun ada anak kecil yang tidak suka main air, demikian juga dengan Nisa dan Zaqy dari sejak umur 5 bulan selalu dibawa main ke kolam renang tiap minggu sama Ramanya, pada setiap ada kesempatan dan hari libur. Melihat cucunya hoby berenang muncul ide kreatif dari Eyang Kakungnya untuk membuatkan kolam renang sendiri di belakang rumah. Itung-itung ngobati para cucu yang kecewa karena kolam renang bulat tiupnya yang kedua kalinya dibeli harus bocor lagi.<span id="more-72"></span></p>
<p>Definisi kolam renang bagi anak-anak adalah bangunan seperti bak dengan ukuran besar dan berisi air, badan kita bisa masuk didalamnya, bergerak bebas untuk berlari dan tenggelam, lebih bagus jika ada air mancur dan bunyi-bunyian lagu anak-anak. Anak-anak memang tidak pernah memilih dengan bagus bentuknya, mahal harganya, bahkan masalah kebersihan sekalipun.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="Kolam Renang" src="/doc/kolam.jpg" alt="Senengnya mereka bisa maen air di belakang rumah tiap pagi dan sore" width="550" height="273" /><p class="wp-caption-text">Senengnya mereka bisa maen air di belakang rumah tiap pagi dan sore</p></div>
<p>Karena pernah suatu kali main di kolam renang pada hari libur besar, dengan kondisi air kolam keruh karena saking banyaknya pengunjung, mereka tetap saja enjoy, tidak terusik dengan penuh sesak dan sampah yang mengambang dimana-mana, justru kita yang dewasa ini merasa jorok dan jijik. Tapi coba saja pas saat itu kira urungkan untuk berenang dan membawa mereka kembali pulang……wah bisa terjadi perang bintang, teriakan mereka berdua lebih kenceng dari meriam dan granat jika kita nyoba mencegah untuk tidak nyemplung ke kolam saat itu.</p>
<h1>Bahan Murah dan Buatan Keluarga sendiri</h1>
<p>Kolam renang permanen dirumah? saya rasa juga tidak terlalu penting untuk diadakan, adanya kolam renang di rumah bukan berarti meniadakan jadwal renang di luar rumah. Oke..berarti saya cuman butuh kolam yang sederhana, bisa dibongkar mudah dan tentu saja biaya murah.</p>
<p>Membangun sebuah kolam renang kecil ukuran 1.2 m x 2.5 m tidaklah susah, hanya dengan menggunakan bahan-bahan sederhana dan mudah didapat di toko bangunan disekitar rumah anda. Batako tanah untuk bagian dinding kolam yang direkat dengan campuran semen dan pasir, bambu dibelah dua bagian untuk bagian permukaan agar tidak tajam sehingga bisa menggores tubuh, dan terpal warna biru untuk menampung air, sangatlah tepat jika memilih warna biru bernuansa warna laut atau langit, karena tidak silau jika terkena sinar matahari, tidak terlalu gelap dan terlihat jernih.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="pancuran" src="/doc/pancuran.jpg" alt="Lebih lengkap jika ditambah pancuran, juga masih buatan sendiri" width="550" height="320" /><p class="wp-caption-text">Lebih lengkap jika ditambah pancuran, juga masih buatan sendiri</p></div>
<p>Agar lebih menarik, selang pemasukan untuk mengisi air kolam dibuatkan dalam bentuk pancuran, ini juga dari bahan-bahan pipa paralon yang ada dan tinggal tempel dan pasang. Jika pengen lebih menarik dan dapat mengatur besar kecilnya keluaran air, dapat dibelikan pancuran siap jadi yang bisa dibeli di toko bangunan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=NQ9OFWTkWG4"><img src="http://img.youtube.com/vi/NQ9OFWTkWG4/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p>
<p>Karena di rumah ada alat untuk sit up yang tidak lagi digunakan, sama Eyang Kakungnya dimasukkan ke Kolam renang dan jadilah Papan Luncuran yang aman untuk anak-anak, karena menggunakan permukaan dari busa dan plastik sehingga tidak akan mencederai kulit anak-anak. Tahu sendiri bagaimana anak-anak main air, lari-lari, loncat, bahkan bisa terjun bebas. Tingkah yang demikian Ini yang bikin kolam bundar mereka sering bocor, mungkin memang tidak dirancang untuk anak yang bertingkah berlebih.</p>
<h1>Biar Tetap Bersih dan Bebas Kuman</h1>
<p>Setiap kali usai berenang, tentu saja air kolam tidak langsung dibuang, sayang dan memang masih terlihat bersih. Tapi jika kolam berada di kebun tentu akan cepat kotor apalagi jika kemasukan air dari genteng ketika hujan. Dalam beberapa hari berada di areal terbuka, dasar kolam biasanya muncul binatang-binatang kecil seperti cacing, dan beberapa kotoran akan bisa menyebabkan gatal-gatal jika hari berikutnya masih dipakai untuk berenang.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="Berenang kayak ikan" src="/doc/kolam_renang.jpg" alt="Sesekali perlu juga di keringkan dan dibiarkan terkena matahari, biar kuman pada lenyap" width="550" height="360" /><p class="wp-caption-text">Eyang Putrinya dengan sabar menunggui dan menjaga cucu-cucunya berenang</p></div>
<p>Awalnya, Eyang Putrinya memberikan obat anti kuman untuk bayi, tapi dengan luasan seperti itu akan terasa boros dan mahal. Solusinya terpaksa harus melakukan perawatan dan bersih kuman seperti halnya kolam renang umumnya. Tambahkan sedikit kaporit untuk membersihkan air sekaligus menghilangkan kuman dan binatang pengganggu lainnya. Kolam renang aman dan bersih serta anak-anak tetap bisa bermain sepuasnya.</p>
<h1>Jadi Kolam Ikan Gurame dan Patin, juga Oke!</h1>
<p>Dengan prinsip 3 M, mudah, murah dan mereka bisa tetep main air adalah tips dan info untuk kali ini. Kalo mereka sudah mulai bosan dan tidak mau lagi berenang, gantikan aja sebagai kolam ikan untuk kebutuhan konsumsi sendiri. Tapi sepertinya sampai sekarang ini mereka kok belum ada bosannya yah? hehhehe</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="kolam gurame" src="/doc/kolam_gurame.jpg" alt="Kolam pembesaran Ikan Gurame" width="550" height="349" /><p class="wp-caption-text">Kolam pembesaran Ikan Gurame</p></div>
<p><em>uconkie: pengen bisa kayak mereka lagi, pencilakan!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/tutorial/membuat-kolam-renang-di-belakang-rumah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Partisipasi dan Teknologinya</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/teknologi-partisipas.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/teknologi-partisipas.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 10:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[metode]]></category>
		<category><![CDATA[ornop]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari di sebuah undangan pelatihan dengan bau-bauan partisipasi, saya mendapat sebuah pertanyaan yang cukup unik dan tidak biasa, &#8220;Bagaimana cara menghabiskan gajah?&#8220;, waduh pak saya tidak pernah makan gajah, dengan sendok dan garpu, pake kecap dan kerupuk lebih enak, dimakan pelan-pelan sampe habis, dikunyah pake mulut, disembelih lalu dibuat dendeng dan dimakan sampe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="aku dan gajah" src="http://farm4.static.flickr.com/3240/3050802382_5dc0cce5b4_o.jpg" alt="diantara selangkangan kartijah (kartini gajah) dari lampung" width="550" height="268" /><p class="wp-caption-text">diantara selangkangan kartijah (kartini gajah) di Taman Nasional Way Kambas Lampung</p></div>
<p>Pada suatu hari di sebuah undangan pelatihan dengan bau-bauan <em>partisipasi</em>, saya mendapat sebuah pertanyaan yang cukup unik dan tidak biasa, &#8220;<strong>Bagaimana cara menghabiskan gajah?</strong>&#8220;, waduh pak saya tidak pernah makan gajah, dengan sendok dan garpu, pake kecap dan kerupuk lebih enak, dimakan pelan-pelan sampe habis, dikunyah pake mulut, disembelih lalu dibuat dendeng dan dimakan sampe habis dan berbagai jawaban aneh dan lucu lainnya. Diantara sekian banyak jawaban yang ada, hampir dari kita semua tertuju untuk bersepakat pada sebuah jawaban &#8220;<em>Kita makan bareng-bareng, lama-lama akan habis juga</em>&#8220;. Betul tidak??<span id="more-43"></span></p>
<p>Jika Gajah adalah sebagai simbol tentang cita-cita, visi, atau mimpi kita bersama, tentunya cara untuk mencapainya seharusnya juga kudu bareng-bareng, tidak sendiri-sendiri tetapi melibatkan berbagai komponen, berbagai pihak (<em>stakeholder</em>)<em> </em> dan banyak orang. Melibatkan lebih dari satu orang ini umumnya dikenal sebagai <strong>Partisipasi</strong>.</p>
<p>Bahasa dasar untuk Partisipasi adalah <em>keikutsertaan</em> atau <em>andil</em> dari sebuah status terhadap peran dan tanggungjawab masyarakat pada sebuah &#8220;gagasan&#8221;. Pada  teori tentang <a title="Tipologi Partisipasi" href="http://doc.faizal.web.id/tipologi_partisipasi.pdf" target="_blank">Tipologi Partisipasi [<em>pdf</em>]</a>, partisipasi yang telah terjadi di masyarakat dibaginya menjadi tujuh tingkat.  Dan yang menjadi <em>level </em>tertinggi adalah <em>Self Mobilisation</em> (Mandiri), dengan ciri utamanya adalah masyarakat dapat mengambil inisiatif secara bebas tanpa tekanan, dan memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada.</p>
<h1>Analisa ORID</h1>
<p>Dalam benak saya, pernah mempertanyakan tentang &#8220;Apakah tingkat partisipasi kita sudah mulai kurang yah?, sehingga perlu dikembangkan Teknologinya? Partisipasi mulai hilang atau permasalahan sudah beranjak pelik, sudah mulai bermunculan komponen baru yang sebelumnya tidak tersedia?, atau bisa juga ada pihak lain yang sengaja mencabut dan menghilangkannya?. Silahkan di Analisa sendiri yah tentang ini.</p>
<p>Dan jika saat ini anda sudah mulai memikirkannya, saya sarankan untuk tidak sendirian dan segeralah mengajak rekan anda lain untuk terlibat. Resiko paling jelek jika bisa gila karena memikirkan ini, anda sudah tidak sendirian lagi heheheehe. Dan saya sarankan lagi anda bisa menggunakan salah metode ORID, singkatan dari urutan langkah mulai dari <a title="ORID pada Teknologi Partisipasi" href="http://doc.faizal.web.id/teknologi_partisipasi.pdf" target="_blank">Objectif-Reflektif-Interpretatif dan Diskusi [<em>pdf</em>]</a>.</p>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Ilustrasi:</em> Suatu pagi di kantor pemerintah, salah satu pegawai mulai bercerita &#8220;Abdul Rahman Wahid, sejak sore kemaren sudah bisa digendong untuk masuk kamarnya sendiri&#8221;. Spontan beberapa mulut mulai berkomentar, &#8220;kasian yah Gus Dur rupanya sakitnya mulai parah&#8221;, lainnya nyambung &#8220;lha usianya kan sudah mulai lanjut&#8221;, ditimpali satunya lagi &#8220;Kapan kita akan menjenguk untuk mendoakan biar segera sehat&#8221;.</p>
<p>Si ibu pemberi berita menutup perbincangan mereka, &#8220;Lho, Abdul Rahman Wahid ini nama bayi Ibu Nenci yang dua hari lalu lahir di R.S. Harapan Kita dan sore kemaren sudah boleh pulang kerumahnya sendiri.</p></blockquote>
<p>Nah, jika anda mulai biasa menggunakan model ORID untuk merespon setiap permasalahan, contoh tersebut diatas tidak akan pernah terjadi lagi. Energi yang terbuang &#8220;<em>percum tak bergun</em>&#8221; bisa diantisipasi dari awal proses merespon berita atau gagasan baru.</p>
<p>Bagi saya metode ini seperti mampu menyingkat dengan cara-cara yang cukup sederhana sebagai &#8220;Metode Penelitian&#8221;, secara berurutan diawali dari <em>Hipotesa</em> atau pendugaan masalah, menetapkan Analisa berikut membahasnya sebelum menyimpulkannya pada ujung akhirnya. Intinya adalah tanpa harus melalui jenjang pendidikan Strata Satu (S1), ORID sebagai alat analisa dapat membantu memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari, bahkan untuk anak-anak kita. Mottonya adalah &#8220;Mengambil yang baik dari yang sudah ada, membuang yang tidak penting dan memunculkan <em>inovasi</em> baru.</p>
<h1>Kekuatan Partisipasi berikut Teknologinya</h1>
<p>Inovasi dan gagasan baru pasti bisa dibangun bersama-sama secara Partisipatif, dan semoga beberapa Teknologi yang akan saya munculkan disini bisa membantu prosesnya. Yang penting dan perlu diingat adalah Teknologi hanyalah sebuah &#8220;alat&#8221; untuk membantu mewujudkan apa yang menjadi kehendak bersama, dan bukanlah tujuan akhirnya.</p>
<h2>ZOPP-Zielorientierte Projektplanung- GOPP Goal Oriented Project Planning</h2>
<p>Kenalan pertama saya dengan Teknologi Partisipasi ini adalah melalui merk yang terdaftar oleh GTZ, sebuah lembaga milik negara Jerman. Adalah ZOPP (Zielorientierte Projektplanung)- atau dikenal dengan bahasa inggris sebagai GOPP-Goal Oriented: Project Planning terjemahan bebasnya adalah &#8220;Perencanaan Kegiatan yang berbasis pada Tujuan&#8221;.  Kekuatan dari ZOPP adalah dapat menyampaikan banyak informasi melalui <strong>Matrik</strong>. Sehingga secara singkat kita dapat mengenali dan memahami berbagai permasalahan hingga pemecahannya hanya melalui beberapa lembar saja.</p>
<p>Upaya ZOPP untuk memetakan permasalahan cukup menarik, melalui metode <em>Meta Plan</em> yang disusun dan dirangkai untuk mengetahui <a title="Pemetaan Masalah dengan ZOPP" href="http://doc.faizal.web.id/zopp.pdf" target="_blank"><em>saling keterkaitan </em>masalah [<em>pdf</em>]</a> satu dengan masalah lainnya, Atau satu masalah akan bisa menyebabkan munculnya masalah baru lainnya. Bisa memunculkan peta masalah itu berarti sekaligus sanggup memunculkan peta harapan, dengan langkah yang cukup mudah, membalik kalimat negatif menjadi kalimat positif, berarti mengubah permasalahan menjadi masa depan lebih baik.</p>
<p>ZOPP juga berkemampuan menyampaikan kebutuhan dokumentasi program lebih ringkas dan sederhana dalam bentuk bagan-bagan Matrik. Pengajuan Usulan Kegiatan hanya dengan dua lembar halaman, dapat difasilitasi oleh metode ini, sehingga lebih padat mengurangi bahasan yang tidak perlu sekedar membuat tebal halaman. Pada kesempatan terpisah dapat dilihat contoh hasil simulasi untuk <a title="Ekowisata TNBTS" href="http://doc.faizal.web.id/ekowisataTNBTS.pdf" target="_blank">Program Pengembangan Ekowisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru [pdf]</a></p>
<h2>PRA &#8211; Participatory Rural Appraisal</h2>
<p>Gagasan dasar dari PRA banyak dilatarbelakangi dari bidang Pertanian dan Petani, yang mengemukakan bahwa Orang miskin itu Kreatif dan Mampu, serta dapat dan harus melakukan banyak penelitian atas diri mereka sendiri, menganalisisnya dan serta menyusun perencanaan dan program kerja. Bantuan dari orang luar adalah hanya sebagai Penyelenggara, Katalis dan Fasilitator, karena mereka memang harus diberdayakan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="Participatory Rural Appraisal" src="http://www.geocities.com/uconkie/pra.jpg" alt="Sejarah Perkembangan PRA" width="550" height="188" /><p class="wp-caption-text">Sejarah Perkembangan PRA</p></div>
<p>Pada tahap aplikasinya, PRA menggunakan teknik-teknik khusus dengan menggunakan bagan-bagan sederhana, grafik dan gambar-gambar yang mudah dimengerti dan dipahami oleh Masyarakat. Beberapa contoh diantaranya adalah menggunakan Peta Transek, Diagram Kelembagaan, Kalendar Musim, Perimbangan Tenaga  Kerja berdasar Gender dan lain sebagainya.</p>
<p>Masyarakat sendiri yang akan menuangkan data-data otentik yang ada di lingkungannya, sangat disadari bahwa penduduk asli punya ingatan yang cukup kuat dengan apa yang pernah terjadi di tempatnya tumbuh.  Ukuran-ukuran pasti seperti tanggal (waktu) berdasar kalender jika dibutuhkan sebagai data dapat digantikan dengan kejadian-kejadian besar lainnya yang pernah terjadi, seperti saat masyarakat aceh dan indonesia mengingat kejadian Tsunami.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img title="Peta Desa" src="http://www.geocities.com/uconkie/img/petadesa.jpg" alt="Peta Desa - Memotret Potensi Desa berikut untuk peluang pengembangannya" width="550" height="397" /><p class="wp-caption-text">Peta Desa - Memotret Potensi Desa berikut untuk peluang pengembangannya</p></div>
<p>Masyarakat akan menyajikan data menurut mereka sendiri, berikutnya adalah menganalisa dan memproyeksikan langkah kedepan lebih baik bersama melalui proses diskusi. Memilih prioritas, dan menentukan langkah kunci. Pada tahapan proses diskusi, akan terdapat sanggahan-sanggahan antar mereka untuk memperkuat data lebih lengkap dan valid. Tanpa sadar melalui langkah-langkah sederhana, masyarakat dikembalikan pada fungsi yang seharusnya untuk menentukan nasib mereka sendiri di masa mendatang.</p>
<h2>TOP &#8211; Technology of Partisipation</h2>
<p>Secara umum, metode ini tidak jauh berbeda tujuannya dengan dua contoh diatas, dengan menggunakan ORID untuk Metode Diskusi, Metode Workshop (Lokakarya) sehingga sampai pada penetapan program-program realistis yang dapat dikerjakan untuk mencapai cita-cita. Dengan panduan bagan, matrik melalui Meta Plan, kertas-kertas kecil yang dituliskan satu ide dan ditempel di dinding sehingga bisa terlihat oleh semua peserta. Dan memberikan kesempatan untuk semua bisa membahas bersama-sama.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img title="Program Kerja" src="http://farm4.static.flickr.com/3051/3055820725_592354d0c3.jpg?v=0" alt="Hasil kerja keras menyusun program dua tahun dalam bentuk tabel dan matrik" width="500" height="333" /><p class="wp-caption-text">Hasil kerja keras menyusun program dua tahun dalam bentuk tabel dan matrik</p></div>
<p>Disini saya juga mendengar sesuatu yang baru tentang SOAR (Strengths, opportunities, aspirations, results) yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam perencanaan strategis, lebih mementingkan unsur berpikir positif, sehinggu cukup mempertimbangkan hal-hal yang bermuara potensi dan peluang ketimbang masalah dan ancaman seperti pada SWOT (strengths, weaknesses,opportunities, threats). Mungkin juga karena Era SWOT di inspirasi oleh para Tentara yang sedang berperang sehingga harus mempertimbangkan unsur lawan dan ancaman.</p>
<h1>Partisipasi juga Budaya Indonesia</h1>
<p>Benarkah Teknologi Partisipasi memang hanya milik Barat, NGO dan Lembaga-lembaga donor? tidakkah partisipasi ini juga terdapat pada suku-suku dan anak desa yang tinggal di Indonesia?, berikut dengan teknologinya?. Dengan tidak bermaksud mementahkan metode yang ada diatas, tapi bukan berarti juga meninggalkan atau bahkan meniadakan mutiara kampung yang sudah berakar sejak dulu.</p>
<p>Desain rumah Jawa dengan <em>teras </em>dan <em>amben</em> di depan rumah, demikian juga rumah-rumah Betawi, berikut dengan Pendopo sebagai pusat Musyawarah Plenonya. Acara makan pinang Suku Dayak juga bagian dari proses Partipasi Masyarakat dengan model <em>Master Mind</em> nya. Yang perlu dikembangkan adalah proses dokumentasinya (pencatatan), sehingga terbentuk alur dan struktur yang lebih runut untuk mencapai kesimpulan dan rencana tindak lanjut. Saya menyadari bahwa masyarakat kita pada umumnya memang lemah pada proses ini.</p>
<h2>Referensi Link</h2>
<ul>
<li><a title="Goal Oriented PRoject Planning" href="http://web.mit.edu/urbanupgrading/upgrading/issues-tools/tools/ZOPP.html" target="_blank">ZOPP-GOOP: Goal Oriented Project Planning</a></li>
<li><a title="PRa" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Participatory_rural_appraisal" target="_blank">Participatory Rural Appraisal &#8211; Wikipedia</a></li>
<li><a title="swot vs soar" href="http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000901.php" target="_blank">Dari SWOT menuju SOAR</a></li>
<li><a title="Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat" href="http://fppm.org" target="_blank">Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat</a></li>
</ul>
<h2>Dokumen <em>Participatory Training Approach</em></h2>
<ul>
<li><a title="Desain Kegiatan Interaktif" href="http://www.lgsp.or.id/publications/index.cfm?fuseaction=throwpub&amp;id=342" target="_blank">Mendesain Kegiatan Interaktif (pegangan Fasilitator) </a>- LGSP USAID</li>
<li><a title="Permainan Kreatif" href="http://www.lgsp.or.id/publications/index.cfm?fuseaction=throwpub&amp;id=271" target="_blank">Permainan Kreatif untuk Kegiatan Partisipatif</a> &#8211; LGSP-USAID</li>
<li><a title="Menyiapkan Kegiatan Partisipatif" href="http://www.lgsp.or.id/publications/index.cfm?fuseaction=throwpub&amp;id=272" target="_blank">Menyiapkan Kegiatan Partisipatif</a> &#8211; LGSP-USAID</li>
<li><a title="Metode Dasar Partisipasi" href="http://www.lgsp.or.id/publications/index.cfm?fuseaction=throwpub&amp;id=270" target="_blank">Metode-metode Dasar Partisipasi</a> &#8211; LGSP USAID</li>
<li><a title="Teknologi Partisipasi" href="http://doc.faizal.web.id/teknologi_partisipasi.pdf" target="_self">Pedoman Dasar Fasilitasi Kelompok</a> &#8211; Teknologi Partisipasi-USAID</li>
<li><a title="Participatory Impack Monitoring" href="http://doc.faizal.web.id/Participatory_Impact_Monitoring_Syst.pdf" target="_blank">Participatory Impack Monitoring</a> &#8211; GTZ</li>
<li><a title="ZOOP" href="http://doc.faizal.web.id/zopp.pdf" target="_blank">Contoh Proposal dengan Metode ZOOP</a> &#8211; Dokumen Pribadi</li>
<li><a title="Objective Oriented Project Planning" href="http://www.serd.ait.ac.th/ump/html/books%5Czopp_e.pdf" target="_blank">ZOPP-Objective Oriented Project Planning</a> &#8211; GTZ</li>
</ul>
<p><em>uconkie: mempelajari sekian banyak model dan teknologi partisipasi ini agar saya bisa lebih bertindak lebih partisipatif untuk diri saya sendiri, memunculkan spirit partisipasi pada keluarga saya (anak dan istri), dan di lingkungan sosial.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/teknologi-partisipas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>THE Tungku THE Hemat THE Energy and The Gun</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/the-tungku-the-hemat-the-energy-and-the-gun.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/the-tungku-the-hemat-the-energy-and-the-gun.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:25:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Adalah THE, bacanya bukan de (seperti pada bahasa english) tapi dibaca perhuruf te-ha-e, karena THE kepanjangan dari Tungku Hemat Energi, sebuah alat memasak berbentuk tungku yang sengaja dirancang untuk lebih menghemat pasokan bahan bakar kayu dan lebih mengoptimalkan panas, sehingga memasak bisa lebih cepat dan tidak boros kayu.
Tungku adalah kenalanku pertama dengan istilah yang pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah THE, bacanya bukan <em>de</em> (seperti pada bahasa english) tapi dibaca perhuruf <em>te-ha-e</em>, karena THE kepanjangan dari Tungku Hemat Energi, sebuah alat memasak berbentuk tungku yang sengaja dirancang untuk lebih menghemat pasokan bahan bakar kayu dan lebih mengoptimalkan panas, sehingga memasak bisa lebih cepat dan tidak boros kayu.</p>
<p>Tungku adalah kenalanku pertama dengan istilah yang pada saat itu sangat ngetop, TTL/TTG Teknologi Tepat Guna dan Teknologi Tepat Lingkungan.  Pertama kali melihatnya di rumah panggung orang <a title="Anglo Bugis Makasar" href="http://www.tungku.or.id/ina/?pilih=lihatberita&amp;beritaid=13&amp;kategori=10" target="_blank">Bugis di Makasar</a>, dengan bentuk tungkunya yang  kecil, ringan, dan portable, bisa dipindahkan kesana kemari, tungku ini yang biasa disebut anglo juga di desain secara khusus untuk tidak mudah membakar lantai rumah panggung mereka yang terbuat dari kayu.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/tungku_the.jpg" alt="Tungku Hemat Energi" width="560" height="256" /></p>
<pre>Tungku untuk memasak dan 2 buah bahan bakarnya!!<span id="more-34"></span></pre>
<p>Yang saya lakukan sangatlah sederhana saja, saya menemukan secara tidak sengaja (ada gak sih yang kebetulan itu?) buku tentang teknik membuat tungku, terus ada bapak-bapak yang mau mencoba dan akhirnya kita bareng-bareng bikin. Jadi tidak ada yang baru dari hal ini kecuali buat saya pribadi untuk mempraktekkan dari apa yang saya tau menjadi bentuk nyata yang bisa digunakan.</p>
<p>Cara kerja THE sangatlah sederhana, mencoba mengetahui dan memahami bagaimana api dan sumbernya bekerja, dan membangun desain untuk mengefektifkan panas untuk kepentingan memasak, sehingga tidak banyak panas yang terbuang percuma.  Untuk membuat lebih optimal, tungku sebaiknya bukan hanya satu lobang masak, bisa dibuat 2 (dua) atau 3 (tiga) secara berurutan dengan bentuk memanjang, bukan melebar, dengan posisi lubang ke dua dan tiga lebih tinggi posisinya dibanding dengan lubang masak pertama.</p>
<h2>Cara Membuat Tungku Sederhana</h2>
<p>Adonan untuk membuat THE adalah terdiri dari Tanah Liat : Pasir : Sekam dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Fungsi dari sekam adalah sebagai perekat dan penguat, ada juga yang menambahkannya dengan abu untuk mencegah retakan tungku jika kena panas api.</p>
<p>Media cetak juga cukup menggunakan alat sederhana, sebilah papan untuk menahan dinding-dindingnya tungku dan cetakan lobang cukup menggunakan batang pisang, diletakkan horisontal dan vertikal, ditimbun pelan-pelan sehingga membentuk sosok Tungku.  Dan jangan lupa sebelum tungku dicetakan benar-benar sudah kering, dibuatkan beberapa lubang kecil udara di samping dan lubang pembuangan.</p>
<h2>Tungku dan Masyarakat Tungku</h2>
<p>Membahas topik tentang Tungku sepertinya ini hal sederhana, khususnya kita yang tidak terkait secara langsung dengan urusan masak-memasak, atau kita yang mungkin tidak pernah memasuki dapur dan berikut tetek bengeknya tentang dapur atau kita yang belum pernah tau bahwa ada sebagian masyarakat yang memposisikan dapur sebagai ruangan utama keluarga atau menyambut tamu.</p>
<p>Yang jelas saya sendiri pada proses pembuatan tungku saat itu menganggap setelah proses pembuatan tuntas, masalah sudah beres, mereka tinggal langsung bisa pakai, namun kesimpulan saya akhirnya terpangkas oleh satu komentar dari salah satu warga setelah melihat hasil akhir dari kerja kita&#8230;. ooo ini kan tungku orang Jawa, karena berbentuk panjang bukannya melebar seperti halnya bentuk rumah mereka, bentuk Tungku dan Rumah sepertinya saling terkait di antara orang Jawa dan Madura.</p>
<p><img class="alignleft" style="border: 0pt none; margin: 5px; float: left;" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/tungkuSAE.jpg" alt="Tungku SAE" width="300" height="184" />Saya lupa bahwa saya saat itu berada di komunitas masyarakat Madura, awalnya memang merasa tidak ada hubungannya antara orang Jawa, Madura dengan Tungku, karena yang kita lakukan dengan Tungku baru ini adalah bicara tentang Efesiensi dan penghematan Energi, dan saya lupa jika Masyarakat kita memang terdiri dari berbagai budaya yang unik dan berbeda satu sama lain. Dari pengalaman ini saya yakin mereka tidak akan pernah memakai dan merobah bentukTungku mereka, merobah Tungku Madura menjadi Tungku Jawa.</p>
<p><em>Ilustrasi Tungku : http://tungku.or.id</em></p>
<p>Dari Tungku, juga melahirkan sebuah jaringan antar lembaga, <a title="Jaringan kerja Tungku Indonesia" href="http://tungku.or.id" target="_blank">Jaringan Kerja Tungku Indonesia (JKTI),</a> sebuah Jaringan Kerja dari Lembaga Nirlaba di Indonesia yang secara khusus membahas tuntas tentang Dapur, Tungku dan Biomassa.  Menurut JKTI, tungku pun juga terkait dengan masalah perspektif gender, hal ini termaktup dalam Visi dan Misi Jaringan Kerja ini.</p>
<h2>Tentang The Gun</h2>
<p>Nah, kalo ini memang tidak ada kaitannya dengan masalah Tungku, apalagi dengan senjata api dan cowboy, karena yang dimaksud adalah kelapa muda yang diambil air buahnya dan dicampur dengan es batu, jadilah es degan (es kelapa muda). Pada saat kita mengerjakan Tungku ini kebetulan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, yang sudah jelas sehari-harinya kita umat muslim diwajibkan berpuasa sehari penuh selama sebulan. Apalagi di tengah komunitas warga Madura yang sudah pasti sebagian besar melaksanakan ibadah rukun islam yang ke 3 ini, berarti Sholat nomor 2 yah&#8230;hehehhehhe</p>
<p>Ditengah matahari pas diubun-ubun, ujug-ujug (sekonyong-konyong) datang pak Sobari dengan membawa beban berat dikedua tangannya, buah kelapa yang masih muda belia dan beberapa gelas beserta es batunya&#8230;. setengah berteriak beliau membuka percakapan dengan kita, eh dik&#8230;.Mau es degan gak? eee tapi ini pilihan lho&#8230;kalo yang puasa dapat pahala&#8230;.yang gak puasa dapat kelapa&#8230;. pilih yang mana dik???&#8230;.</p>
<p>Pleaaseeeee pembaca yang Budiman&#8230;..tolong pilihan yang pas dong pada saat-saat sulit begini&#8230;.</p>
<p><img style="border: 0pt none;" src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/tungku_kunti.jpg" alt="tungku dan kunti" width="560" height="347" /></p>
<p><em>Anda yang beruntung minggu ini dengan lingkaran merah, silahkan kirimkan jatidiri anda ke redaksi untuk mendapatkan hadiahnya. kabar terakhir anda yang berlingkar merah tinggalnya di seputaran Pamulang dan Tangerang. Sangat ditunggu..</em></p>
<p><em>uconkie: yak bener, pilihan tepat&#8230;.saya memilih es kelapa muda dan pahala sekaligus&#8230;..hehehhehehhe habis buka puasa bedug, terus lanjut lagi sampe magrib&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/the-tungku-the-hemat-the-energy-and-the-gun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Kyai, Pastor dan Petani</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/kyai-pastor-petani.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/kyai-pastor-petani.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 02:50:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Keanekaragaman]]></category>
		<category><![CDATA[Mozaik]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[metode]]></category>
		<category><![CDATA[ornop]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Setiap Organ melayani Organisme, dan setiap Organisme memelihara setiap Organnya (Hukum yang berlangsung di Alam).
Lalu seharusnya ditiru oleh manusia :

Saya kerja agar semua yang lain berkembang, dan semua mendukung perkembangan saya.
Setiap orang mendukung seluruh Masyarakat, dan seluruh masyarakat memperdulikan setiap warganya.
Setiap warga negara mendukung Pemerintah, dan pemerintah melayani setiap warga negara.
Sayur Alami meningkatkan kesehatan kita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright" style="float: right; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" src="/images/pertanian/darulfallah.jpg" alt="Pesantren Darul Fallah" width="180" height="272" />Setiap Organ melayani Organisme, dan setiap Organisme memelihara setiap Organnya (<strong><em>Hukum yang berlangsung di Alam</em></strong>).</p>
<p><strong>Lalu seharusnya ditiru oleh manusia</strong> :</p>
<ul>
<li>Saya kerja agar semua yang lain berkembang, dan semua mendukung perkembangan saya.</li>
<li>Setiap orang mendukung seluruh Masyarakat, dan seluruh masyarakat memperdulikan setiap warganya.</li>
<li>Setiap warga negara mendukung Pemerintah, dan pemerintah melayani setiap warga negara.</li>
<li>Sayur Alami meningkatkan kesehatan kita, dan kita melayani alam agar menghasilkan sayur sehat.</li>
</ul>
<p>Rangkaian kata diatas adalah menerjemahkan tentang pengertian &#8220;<strong>Organis</strong>&#8220;, saya dapatkan di kartu pengenal sebagai tamu (pengunjung) di Pusat Pengembangan Organis atau yang umumnya dikenal sebagai Pusat Pertanian Organik Agatho (Agatho Organic Farm) di Cisarua, Bogor.<span id="more-1"></span></p>
<p>Menyimak pesan-pesan agama dalam bentuk Kotbah di Masjid atau Madrasah yang disampaikan oleh  Kyai itu sudah biasa dan sepantasnya, memang demikianlah tuntutan peran yang dimainkan oleh seorang Rohaniwan, seirama  mendengarkan seorang Pastor melantunan tembang Al-Kitab di sebuah Gereja atau rumah ibadah umat Katolik lainnya. Namun bagaimana jika mereka para Kyai dan Pastor berbicara tentang hal lain?, bidang Tanaman, Budidaya, Peternakan bahkan tentang Pertanian Organik?, mampukah mereka berbicara tentang itu dan adakah keterkaitannya dengan status dan peran utama yang mereka sandang bagi Umat?</p>
<p><img src="/images/pertanian/susu_kambing.jpg" alt="Kambing untuk Susunya" width="570" height="730" /></p>
<pre>Hallo!! Saya Kambing, kamu siapa?</pre>
<p>Beruntung saya mendapatkan kesempatan bagus pada minggu-minggu ini, pada dua kesempatan dan waktu yang berbeda, secara langsung berkunjung dan bertemu dengan kedua Tokoh yang mempunyai jabatan Dunia-Akherat, Petani yang sekaligus Rohaniwan serta menyaksikan karya mereka dalam memajukan dunia Pertanian dan Pendidikan untuk Indonesia.</p>
<h2>Rumah Para Petani</h2>
<p>Berawal dari Masjid di Pesantren Darul Fallah, selepas sholat Dhuhur kami mendapat sapaan dan jabatan hangat dari Pria paruhbaya , rupanya beliau adalah Kyai pimpinan Pondok Pesantren Darul Fallah yang ditemani salah satu Staff Manager Operasionalnya. Tanpa basa-basi akhirnya bersama-sama keliling dikomplek pesantren yang mempunyai luas sekitar 26 Hektar.</p>
<p><img src="/images/pertanian/peternakan.jpg" alt="Unit Peternakan" width="570" height="312" /></p>
<pre>Unit Peternakan Sapi Perah Ponpes Darul Fallah, maaf mas belakang kepala masih kosong.</pre>
<p>Selamat datang di Rumah Petani, Kyai membuka perkenalan dengan bercerita mengenai sejarah Ponpes pada kami, dari perkenalan awal ini saya juga baru tahu kalo Fallah berarti Petani. Sejalan dengan waktu ponpes ini telah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan sejak mulai berdirinya dari tahun 1960, usia yang cukup matang sehingga pengembangan unit-unit di Pertanian tidak berarti hanya untuk bidang bercocok tanam saja, bidang Peternakan dan Perikanan juga termasuk sebagai wadah pengembangannya.</p>
<p>Kenapa ada Pertanian di Pesantren ini?, bisa saja pak Kyai menjawabnya dengan, Kenapa tidak? emang gak boleh? Suka-suka Kyai dong hehehe, tentu saja bukan seperti itu cara menanggapi pertanyaan yang mungkin sudah terlalu sering dilontarkan oleh para pengunjung Ponpes ini. Dengan lemah lembut tapi dengan wajah serius Pak Kyai menegaskan bahwa Ponpes ini mengharapkan tiap santrinya (anak didik) bisa lebih mandiri dalam berkarya dan berupaya.</p>
<p>Di Ponpes ini tidak saja pengen mencetak dan memberi bekal santri dengan pengetahuan-pengetahuan Agama saja, tetapi juga dengan Kompetensi dan keahlian khusus  sehingga selepas  dari belajar nanti dia  tidak hanya bisa duduk termenung dan melamunkan tentang sukses dunia, tetapi sang santri tau persis apa yang seharusnya dia lakukan untuk menyambut kesuksesannya nanti.  Dia pasti tau &#8220;Kemana akan pergi&#8221; pasca belajar nanti.</p>
<p><img src="/images/pertanian/kandang-kambing.jpg" alt="Kandang Kambing" width="570" height="318" /></p>
<pre>Kandang Kambing memproduksi susu kambing untuk pengobatan</pre>
<p>Pelajaran tentang Ilmu Fiqih, Tauhid, Tarikh, Al-Quran, Bahasa Arab dan masih banyak lagi cabang ilmu pengetahuan agama Islam yang menjadi kajian pokok bagi para santri dan pada tiap-tiap hari mengisi lembaran belajarnya, tapi ada banyak hal yang tidak bisa dipelajari hanya melalui kitab dan buku saja, Akhlak dan Amal Sholeh misalnya, bagaimana mereka bisa belajar tentang Sabar, Gigih, Tawakkal, Amanah dan Syukur?.  Belajar tentang sabar yah harus menanam, dan belajar bersyukur pada saat panen, begitu Pak Kyai memberi penjelasan singkat tapi gamblang mengenai materi yang tidak cukup jika diajarkan hanya melalui bahasa tutur, kecuali memperoleh pengalamannya langsung.</p>
<p>Pertanian adalah media pembelajaran tentang Akhlak sekaligus sebagai Ilmu Pengetahuan (science) untuk melengkapi ketrampilan para santri sebagai bekal hidup. Kitab Kuning adalah teorinya dan Pertanian adalah Aplikasinya, kira-kira begitulah caraku membahasakan gampangnya.</p>
<p><img src="/images/pertanian/yogurt-susukambing.jpg" alt="Hasil Olahan susu kambing" width="570" height="300" /></p>
<pre>Yogurt (susu asam) dari Susu Kambing, jajanan sehat untuk anak dan saya suka</pre>
<p>Sejarah yang panjang serta luasnya lahan tak cukup buat saya untuk menggali dalam waktu singkat tentang upaya gigih Ponpes ini untuk memberikan pendidikan terbaik buat para santrinya, namun petikan sajak yang tertempel di dinding ini semoga bisa memberi gambaran lebih jauh dari apa yang bisa saya tulis.</p>
<h3>Puisi Kecil Buat Pesantren Darul Fallah</h3>
<p>Dari puncak bukit kecil ini kita melihat anak-anak berjalan diantara batang ilalang<br />
Anak-anak santri yang lahir dari rahim sejarah pendidikan tak berkesudahan<br />
Ada Seribu Mata Tua menatap Masa<br />
Ada tangan-tangan mungil menata cita-cita<br />
Ada suara perempuan tertawa merajut cinta, dalam tangis bayi dan air mata<br />
Ada wajah teduh tanpa keluh diantara kitab dan ucap<br />
Ada suara Dzikir dan Doa<br />
di kolam ikan berkejaran<br />
di lumpur sapi dan kambing mengembik<br />
di tanah ranah dan pematang<br />
Alam telah menunggu waktu dan kesempatan bagi tangan-tangan cekatan</p>
<p>Tanpa kita mengerti,<br />
Masa membawa kita anak-anak sejarah, para santri, para ustadz, para pencari nama di hadapan Allah<br />
Untuk bergerak tanpa henti, mencatat, merekam, berpikir dan berjalan menguak rahasia ayat Nya diantara buku dan  semesta alam.</p>
<p>Disini, di Pesantren Pertanian DARUL FALLAH, Suara kita menjelma cinta, Kehendak kita lebur dalam syukur dan menjadi proses panjang kebangkitan umat menuju negeri yang diberkahi.<br />
Baldatun Thoyyibatun wa robbun Ghofur</p>
<p>Pesantren Pertanian Darul Fallah ( PPDF ) terletak di ciampea Bogor Jawa Barat, tidak jauh dari kampus IPB  ( Institut Pertanian Bogor ) darmaga.</p>
<p><strong>Pesantren Pertanian Darul Fallah</strong><br />
Kp. <strong>Darul Fallah</strong> Ds. Benteng Rt. 02/04 Ciampea, Bogor<br />
Telp  :  0251-622303, 622278<br />
Fax :  (0251) 622472<br />
<a title="Pesantren Pertanian" href="http://darulfallah.org" target="_blank"> http://www.darulfallah.org</a></p>
<h2>The Organic Way, All in Harmony</h2>
<p><strong>Sayuran Organik</strong> adalah sayur yang ditanam di tanah asli (bukan hidroponik) dengan menggunakan bibit asli (bukan hibrida) dan menggunakan supplai makanan tanaman dari kotoran ternak atau kompos (bukan pupuk urea buatan pabrik) dan jika ada pengganggu tanaman dalam bentuk hewan atau tanaman lain tidak dibasmi (dimusnahkan dari peradaban tanah pertanian) tetapi dikendalikan  oleh unsur alam lainnya yang ada disekitarnya, bisa dalam bentuk tanaman  lain (warna  dan bau) dan  hewan predator alami bukannya dengan pestisida atau senyawa kimia buatan pabrik, sehingga Petani harus membeli untuk mendapatkannya. Tambahan lebih tegas lagi bahwa Pertanian Organik selalu berpihak pada pola tanam Tumpangsari bukannya Monoculture (melakukan praktek tanam-menanam dengan hanya menggunakan satu jenis tanaman pada luasan areal tertentu).</p>
<p><img src="/images/pertanian/organikfarm.jpg" alt="Pertanian Organik" width="275" height="206" /> <img src="/images/pertanian/organikfarm2.jpg" alt="Bedeng Beton" width="275" height="206" /></p>
<pre>Bedeng-bedeng dari Beton untuk pendayaan Pertanian di Kota dan Rumah Susun</pre>
<p>Urusan Pertanian Organik adalah sekedar urusan tanam-menanam, meniadakan pengaruh kimia atau buatan pabrik untuk memenuhi pangan Manusia, karena melalui beberapa ulasan ilmiah telah terbukti pengaruh buruk secara perlahan-lahan bagi Manusia yang mengkonsumsi makanan dari bahan Non-Organik.</p>
<p>Itulah tersebut diatas <strong>Pergertian Organik </strong>yang saya kenal sebelumnya, juga pada umumnya masyarakat luas. Dan saya sarankan kepada anda untuk datang secara langsung di lokasi Pertanian Organik ini untuk setidaknya memahami lebih dalam lagi bahwa Organik tidak saja urusan tanam menanam saja. Bahwa Organis adalah sikap, prilaku, akhlak dan idealisme bahkan Organis adalah Keyakinan atau Agama. Setidaknya itulah perubahan makna yang dapat saya simpulkan setelah pernah selama hampir sebulan saya nyantri di tempat ini. Ruarrr biasa&#8230;karena Ilmu Pertanian tidak saja memberikan kepada para pelakunya ilmu pengetahuan alam tetapi juga berdampak sebagai proses mengenal umat manusia lain dan mendekatkan diri pada Tuhannya.</p>
<p><img src="/images/pertanian/organicfarm.jpg" alt="Agatho Organic Farm" width="570" height="299" /></p>
<pre>Atap pun juga bisa ditanami, genteng dengan bonus sayuran sehat</pre>
<p><strong>Yayasan Bina Sarana Bakti &#8211; Pusat Pengembangan Organis</strong><br />
PO Box 32 Cisarua &#8211; Bogor 16750<br />
Telp. +62-251-254531<br />
Fax. +62-251-253334<br />
e-mail. bsb_agatho@telkom.net</p>
<h2>Energi Alternatif</h2>
<p>Ada yang menarik minatku kepada dua lembaga ini, yaitu tentang penggunaan dan pemanfaatan energi terbarui yang secara sengaja diadakan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya alam di areal lahan pertanian yang dimilikinya. Ponpes Pertanian Darul Fallah, saya comot sebuah gambar mencolok diantara kandang ternak sapi perahnya, yaitu pemanfaatan kotoran ternak menjadi sumber bahan bakar untuk memasak, menggantikan minyak tanah dan LPG melalui teknologi dari india ini, BIOGAS.  Kotoran sapi dengan dibuat saluran pembuangan khusus, diarahkan pada tabung beton yang tertanam di tanah untuk diolah menjadi gas, lepas termanfaatkan melalui si api biru untuk keperluan masak, sisa kotoran diangkat menjadi pupuk cair, atau biasa dikenal dengan istilah pupuk slury untuk kebutuhan pertanian.</p>
<p><img src="/images/pertanian/biogas.jpg" alt="Biogas" width="570" height="333" /></p>
<pre>Biogas, pemanfaatan kotoran ternak untuk energi alternatif</pre>
<p>Sedangkan di lahan Pertanian Organik Cisarua, dibalik gudang yang atapnya ditanami berbagai macam jenis sayuran itu, ternyata terdapat mesin pengolah Listrik bertenaga air. Ada 2 (dua) jenis dan metode PLTA Microhidro yang dimiliki, yang pertama adalah sistem air terjun, memanfaatkan limpahan air  irigasi  dari lahan tertinggi untuk memberikan tendangan pada kincir penggerak dinamo listrik berkekuatan 24 Kwa. Satunya lagi menggunakan teknologi hisap dengan output tenaga listrik sebesar 7 Kwa untuk memenuhi kebutuhan listrik gedung pengepakan dan gedung lain di sekitar lahan pertanian.</p>
<p><img src="/images/pertanian/microhidro.jpg" alt="Listrik 7000 Watt" width="275" height="163" /> <img src="/images/pertanian/microhidro2.jpg" alt="Listrik 24000 Watt" width="275" height="163" /></p>
<pre>Pemanfaatan untuk Listrik (MIcroHidro) kekuatan 7000 dan 24000 Watt</pre>
<p>Selama dua hari berada di tempat dan jumpa dengan orang-orang hebat beserta hasil karyanya dalam bidang pertanian ini adalah pengalaman yang luar biasa karena punya kesempatan untuk belajar pada orang-orang yang bekerja untuk dunia dan akheratnya. Setidaknya bisa memberikan bekal pada diri saya pribadi untuk perubahan dan punya karya lebih baik lagi. Semoga&#8230;.Aminnnn!!!</p>
<p><em>uconkie: saya bukan kyai juga bukan pastor tetapi petani yang tidak punya lahan juga tanah dan sementara menyewa lahan di jagad maya untuk mencangkul sawah virtualnya bersama para laba-laba. Masa depan dengan penuh harap bisa memegang cangkul yang sebenarnya, berbasah sekujur badan dengan lumpur dan bisa meniup seruling bambu diatas punggung kebo bersama para kuntul yang bertengger mencari makan. Sesekali nge-Buzz teman di jakarta yang sedang duduk serius dibelakang meja kantor konsultannya.</em></p>
<table style="width: 194px;" border="0">
<tbody>
<tr>
<td style="background: transparent url(http://picasaweb.google.com/f/img/transparent_album_background.gif) no-repeat scroll left center; height: 194px;" align="center"><a href="http://picasaweb.google.com/jusronfaizal/KyaiPasturDanPetani"><img style="margin:1px 0 0 4px;" src="http://lh5.ggpht.com/jusronfaizal/SCuspJb-BNE/AAAAAAAAAcY/JrNIJbD6ews/s160-c/KyaiPasturDanPetani.jpg" alt="" width="160" height="160" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;font-family:arial,sans-serif;font-size:11px"><a style="color:#4D4D4D;font-weight:bold;text-decoration:none;" href="http://picasaweb.google.com/jusronfaizal/KyaiPasturDanPetani">kyai, pastur dan petani</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/kyai-pastor-petani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lanting Kincir Air</title>
		<link>http://faizal.web.id/cakrawala/lanting-kincir-air.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/cakrawala/lanting-kincir-air.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 07:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Lanting, asal kata dari bahasa Dayak Kahayan yang saya artikan dalam bentuk bangunan yang berdiri diatas air dengan ditopang oleh balok-balok kayu sehingga bisa mengambang dan bergerak mengikuti ketinggian air. Supaya tidak terseret oleh arus, umumnya ditambatkan dengan tali yang cukup kuat pada sebilah pohon  besar melalui cincin yang melingkar  di batangnya,  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lanting</strong>, asal kata dari bahasa Dayak Kahayan yang saya artikan dalam bentuk bangunan yang berdiri diatas air dengan ditopang oleh balok-balok kayu sehingga bisa mengambang dan bergerak mengikuti ketinggian air. Supaya tidak terseret oleh arus, umumnya ditambatkan dengan tali yang cukup kuat pada sebilah pohon  besar melalui cincin yang melingkar  di batangnya,  rangkaian cincin dan  tali  tersebut  orang menyebutnya   <strong>Tambuhak</strong>. Di Jambi saya dikenalkan dengan istilah &#8220;<em>Rumah Rakit</em>&#8220;, tapi di Kahayan lanting tidak harus berbentuk rumah, dia bisa Rumah Makan, Warung, Pom Bensin, Mesin Sedot Emas, Kandang Babi, Peternakan Ayam, Sandaran Perahu atau Kincir Air yang sedang kita ceritakan ini.</p>
<p><img src="/images/tekno/lanting_kincir_air.jpg" alt="Micro Hidro Lanting" width="570" height="364" /><span id="more-30"></span></p>
<p>Namanya Mantan Kali (bekas sungai), tapi sungai di belahan bumi Borneo ini lebarnya gak kira-kira, bisa puluhan kali lipat dari sungai-sungai yang ada di Jawa, kalo ada upaya bikin bendungan mestinya biayanya juga berlipat-lipat, untungnya juga kali yah&#8230;. Mungkinkah bikin bendungan di Hulu Kahayan ini? Mungkin saja, gak ada yang tidak mungkin dilakukan, asal jalur transportasi masyarakat yang masih 100% mengandalkan lewat kayuhan baling-baling ini digantikan dengan roda kuda besi.</p>
<h2>Pembangkit Energi Listrik</h2>
<p>Kebutuhan masyarakat Hulu Kahayan terhadap listrik nampaknya sudah tidak dapat terbendung lagi, mereka menggunakannya untuk kebutuhan peralatan pertanian, khususnya pasca panen padi (giling padi), pertukangan (alat  serut), hiburan (televisi, play station) dan tentu saja penerangan, baik penerangan di rumah maupun jalan kampung. Lebih-lebih jika ada acara adat seperti perkawinan atau kematian, kebutuhan penerangan terasa sangat mendesak sehingga bener-bener mereka upayakan sedapatnya, dengan meminjam genset atau mesin diesel tetangga atau kerabat mereka.</p>
<p>Bagaimana dengan bahan bakarnya? pernah saya nyoba berhitung kebutuhan mereka untuk tiap malemnya jika ada hajatan penting yang membutuhkan peralatan penerangan dengan menggunakan mesin diesel Dong Peng, setidaknya perlu lampu nyala dari lepas Maghrib hingga minimal tengah malam jam 24.00, itu berarti 6 jam, bisa menghabiskan sebanyak 2-4 liter solar.  Yang membedakan sehingga menjadi beban mahal karena patokan harga solar tidak ikut standard Pertamina, karena mereka harus mengangkutnya secara mandiri selama 2 hari hingga sampai di kota Kecamatan, lah kalo solar diangkut dengan mesin solar jatuh terakhirnya bisa 2-4 kali lipat harga bandrol. Semalam menghabiskan solar untuk penerangan sebesar Rp. 30.000,- itu masih sangat mahal.  Untuk sebulan kudu bayar tagihan listrik berapa jadinya?</p>
<p>Bahan dah cukup neh untuk bergerak, saya bersama Amay Sandy dan Amay Sinder mau nyoba iseng-iseng bikin rancangan Pembangkit Listrik yang bisa diaplikasikan sesuai dengan  kondisi lokal,  sama-sama gak punya pengalaman,  gak kenal  teorinya, yang kita tau di desa sebrang pernah membuat kincir untuk penghancur batu, untuk mencari emasnya.  Tanya sana-sini tentang kincir, arus sungai dan listrik, malah sempet dikenalkan sama <a title="Ahmad Suwandi" href="http://wandi.web.id" target="_blank">wandi </a>dengan dosen pengairannya <a title="Dudi Gurnadi Kartasasmita" href="http://dgk.or.id" target="_blank">dudi </a>untuk tanya tanyi biar semakin lengkap, karena mendengar kabar sang dosen tersebut yang pernah bikin project gelombang laut untuk energi.</p>
<h2>Tak Mengenal Gagal</h2>
<p>Yang kami pikirkan adalah membuat Lanting dengan kincir air untuk menggerakkan dinamo, outputnya memang tidaklah besar, karena sasaran kami adalah kebutuhan listrik untuk satu rumah atau setidaknya untuk menerangi jalan kampung, tentang Teknologi Kelistrikannya rencana menggunakan teknik sederhana yang pernah saya posting sebelumnya disini <a title="Energi Alternatif" href="http://faizal.web.id/sky/tutorial/energi-alternatif-dari-gunung-halimun/">Energi Alternatif dari Gunung Halimun</a></p>
<p><img src="/images/tekno/kincir_air.jpg" alt="Pak Sandy dan Pak sinderman" width="570" height="391" /></p>
<pre>Pak Sandy dan Pak Sinderman bekerja, aku yang memotret hehehheehe</pre>
<p>Akhirnya kita hanya sampe menuntaskan  sebatas miniaturnya saja, belum sampe ke bentuk nyatanya karena beberapa kendala, saya posting ulang untung mengenang semangat bapak-bapak ini yang tak pernah kenal lelah mengarungi arus kehidupan yang begitu deras di daerah udik sana.  Juga daripada photo ini jadi sekedar album kenangan yang tidak bisa bercerita dan membusuk di hardisk, syukur-syukur ada pembaca atau sarjana yang  tau banyak tentang air  dan kincir  bisa kasih saran  rembug. Dan berharap kerjaan yang setengah ini masih bisa memberi inspirasi.</p>
<p><em>uconk: kincir air itu ternyata bisa muter-muter, kadang di kenceng, kadang alon, seng penting kelakon&#8230;opo sih iki&#8230;???</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/cakrawala/lanting-kincir-air.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasang Jerat</title>
		<link>http://faizal.web.id/jelajah/memasang-jerat.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/jelajah/memasang-jerat.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 04:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/jejak/memasang-jerat/</guid>
		<description><![CDATA[
Amay Penyang Surung sedang Mempersiapkan Perangkap Ikan
Sejak pagi sehabis sarapan, Rolan dan Melky sibuk memainkan Mandaunya masing-masing, memotong gulungan tali plastik sepanjang 100 meteran menjadi puluhan bagian kecil-kecil, John pun tak kalah giatnya membantu membuat ikatan dan simpul merangkai potongan-potongan tali tersebut menjadi satu bagian utuh. Sementara aku masih dengan posisi duduk jongkok sambil memperhatikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/penyangsurung.jpg" alt="Bapak Penyangsurung dengan Bubunya" height="266" width="499" /></p>
<pre>Amay Penyang Surung sedang Mempersiapkan Perangkap Ikan</pre>
<p>Sejak pagi sehabis sarapan, Rolan dan Melky sibuk memainkan Mandaunya masing-masing, memotong gulungan tali plastik sepanjang 100 meteran menjadi puluhan bagian kecil-kecil, John pun tak kalah giatnya membantu membuat ikatan dan simpul merangkai potongan-potongan tali tersebut menjadi satu bagian utuh. Sementara aku masih dengan posisi duduk jongkok sambil memperhatikan yang sedang mereka lakukan, yang bisa aku kerjakan cuman mengepulkan asap dari sebatang 234 yang melekat di jari-jariku.<span id="more-28"></span></p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/mangkuliang.jpg" alt="Di depan tebing Mangkuliang" height="298" width="499" /></p>
<pre>Stop dulu, ada pemandangan bagus, berpose di depan Tebing Mangkuliang</pre>
<p>Yak, kita adalah 4 sekawan yang sedang berpetualang persis seperti cerita-cerita yang dikisahkan dalam buku cerita anak itu he he he. Pagi ini memang kita akan jalan-jalan di seputaran Sungai Beruang sambil mencari temannya sesuap nasi, nafas kita memang masih dibutuhkan untuk beberapa bulan lagi kedepan disini, gak mungkin tiap hari selalu makan makanan kaleng, saya sendiri baru merasakan langsung dampak buruk karena terlalu sering mengkonsumsi makanan yang terbungkus dengan merek dan label.</p>
<p>Minggu pertama biasanya masih bisa menikmati, jarang-jarang juga bisa beli karena tergolong makanan mahal dan mewah, minggu berikutnya lidah mulai terasa hambar, makanan jenis apapun yang dibikin sudah tidak ada nikmatnya lagi, dan kalo udah itungan bulan, baru ngeliatnya aja sudah pengen muntah, tidak jarang juga beberapa kawan mulai timbul gatal-gatal dan alergi, sepertinya badan kita sudah mulai keracunan. Kalo udah seperti itu, seikat daun pepaya segar dan sambal lebih nikmat dibanding sepanci daging kaleng, dan yang pasti lebih sehat dan berguzi, mengandung minamin tanpa ewek-ewek sampingan.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/sungaiberuang.jpg" alt="Melintasi Sungai Beruang" height="307" width="499" /></p>
<pre>Melintasi Sungai Beruang</pre>
<p><strong>Sungai Beruang</strong>, Hari ini kita akan bekerja keras mencari pengganti makanan sampah, sekaligus cari hiburan selingan jalan-jalan di sekitar kaki pegunungan Schwan Muller, syukur-syukur dapat ikan segar dari Sungai Beruang dan se ekor daging Rusa.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/jejakrusa.jpg" alt="Melihat Jejak Rusa" height="714" width="497" /></p>
<pre>Pemasangan Jerat dilakukan di areal Jejak yang terlihat</pre>
<p><strong>Memasang Jerat</strong>,  umumnya biasa dilakukan pada musim kemarau, kenapa? jawabnya sudah pasti karena sungai-sungai kecil sudah pada surut, kubangan-kubangan juga sudah pada kering, yang tersisa hanyalah sungai yang cukup mendapat suplai sumber dan mata air yang bisa tetap mengalir. Kondisi ini mendorong semua binatang di hutan harus menuju titik yang sama, mereka tidak bisa lagi tersebar tetapi pada waktu yang sama akan berkumpul pada sumber-sumber air yang memadai.</p>
<p>Inilah titik awal kita, start penempatan jerat selalu berawal dari sumber-sumber air potensial, sambil memperhatikan dan memperhitungkan jejak-jejak kaki yang ditinggalkan ditanah basah. Masing-masing jenis binatang ternyata punya pola dan jalur perjalanan, celeng (babi hutan) punya kecenderungan melakukan perjalanan dengan jalur yang sama, pulang pergi (pp) tarip sama, tidak demikian dengan Rusa atau Kijang, mereka lebih acak, mungkin karena punya kaki yang panjang dan postur tubuh ramping sehingga lebih leluasa belok kiri dan kanan tanpa lampu riting, tentunya tidak demikian dengan badan penuh lemak dan kaki pendek macam celeng, untuk belok dia harus memutarkan seluruh anggota tubuhnya.</p>
<p style="text-align: cente<br />
r"><img src="http://img.faizal.web.id/jeratceleng.jpg" alt="Bentuk Jerat untuk Rusa dan Celeng" height="329" width="499" /></p>
<pre>Diusahakan tidak terlihat, ditutup dengan daun kering</pre>
<p>Lebih dari satu macam teknik menangkap hewan dengan jerat, jika kaki rusa/celeng tertangkap jerat, maka dia tersangkut di kayu penjeratnya atau bisa juga dengan sistem pelampung, si binatang masih bisa lari kesana-kemari dengan membawa kayu gelondongan yang terikat di salah satu kakinya, seperti Buldozer yang sedang menarik beban, sayangnya tinggal menunggu waktu dan lokasi yang pas sampai akhirnya kayu gelondongan tersebut tersangkut oleh batang atau semak di hutan, di hutan kan penuh dengan halang rintang alami, lain halnya kalo dia lari narik gelondongan di jalan tol, yang bisa nangkep paling pintu gerbang pembayaran tol, namanya aja jalan bebas hambatan pak de&#8230;</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/jerat2.jpg" alt="Jerat di sekitar jejak" height="576" width="482" /></p>
<pre>Roland dan Jerat Rusa-nya</pre>
<p>Yang nampak di photo atas adalah baru saja disiapkan jerat untuk rusa/celeng, masih ada proses selanjutnya, adalah memberikan kamuflase diantara warna-warna tali dan jerat yang mencolok, kebetulan kali ini untuk jeratnya menggunakan tali plastik yang warnanya sangat aduhai di antara hijau dan coklat tanah, ini harus disembunyikan dengan cara menutupi dan menimbun dengan daun-daun kering dan tanah biar lebih tersamar, yang sangat sensitif dengan warna adalah rusa/kijang.</p>
<p>Oke, satu jerat sudah selesai dipasang, masih kurang 99 jerat lagi harus dipasang di seputar lokasi target kita. Hmmmm banyak banget yah? tidak seperti yang aku kira sebelumnya, sebelumnya memang satu-satunya referensiku tentang bertahan hidup di alam bebas adalah buku yang bertitel <a href="http://www.4shared.com/file/4590973/5be31404/The_Survival_handbook.html?cau2=403tNull" title="Download Buku Survival Handbook" target="_blank">The Survival Handbook</a>, dari situ untuk pemasangan jerat yang terpikir paling cuman bikin satu buah saja.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/perangkapburung.jpg" alt="Jerat untuk Burung" height="265" width="499" /></p>
<pre>Jerat untuk Burung, tapi bukan jerat burungnya Pak Sandy</pre>
<p>Dari celeng, rusa, luwak (musang), landak, monyet hingga burung semuanya bisa ditangkap dengan jerat, tetapi jelas berbeda tekniknya, disesuaikan dengan karakter binatang yang hendak dijadikan target, beberapa diantaranya diperlukan umpan, baik umpan yang diam atau umpan yang bergerak, termasuk juga pemilihan umpan dengan warna dan bau yang mencolok dan mengundang selera, prinsip-prinsipnya tidak beda jauh dengan memasang jerat-jerat cinta juga kok&#8230;hehhehhe</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/amaysandi.jpg" alt="Penerangan dan Penjelasan" height="323" width="499" /></p>
<pre>Amay Sandy dengan burungnya....</pre>
<p>Memelihara burung di rumah, menikmati indah bulunya atau suaranya bukanlah kebiasaan yang diturunkan kepada mereka, apalagi harus sibuk setiap hari memberi makan dan minum, kita manusia yang memiliki dia atau justru dia yang menjadikan kita sebagai buruhnya, yang setiap hari harus memperhatikan tiap kebutuhan hidupnya, celetukan ini memang pernah aku dengar saat teman saya lagi kesel banget sama binatang peliharaannya hehehehe. Lha iya pak, kan lebih enak menikmatinya langsung di alam, pada setiap pagi kan kita bisa liat mereka ikut nongkrong di depan rumah kita sambil ber cicit cuit&#8230;. kenapa harus merepotkan diri kudu nangkep dan memelihara segala&#8230;.tapi seringkali memang harus ditangkep karena memenuhi pesenan orang lain, kalo yang ini memang agak rumit, yang mencicit cuit adalah kebutuhan dapur.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/jerat4.jpg" alt="Jerat untuk Burung" height="720" width="495" /></p>
<p>Mereka kok jahat yah sampe menangkap binatang dengan cara-cara sadis seperti ini?, pertanyaan i<br />
ni adalah tidak tepat untuk diungkapkan, yang jelas jika diliat dari niatnya mereka melakukan ini bukan cuman untuk kesenangan dan kepuasan, tapi lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup, jerat seperti ini sangatlah aman, aman bagi binatangnya karena tidak kesakitan, mreka mungkin mengira sedang terbelit akar di hutan, disamping itu juga aman bagi manusianya jika tidak sengaja kaki tertangkap jerat.  Jangan sembarangan melangkah di sekitaran Gunung Biru  di Malang, kalo tidak kenal daerah salah-salah kaki anda bisa putus karena tertangkap jerat yang bergerigi yang terbuat dari besi, persis seperti perangkap tikus cuman dalam bentuk yang lebih kuat dan kokoh.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/rolanmelkydanjohn.jpg" alt="Mejeng lagi achh" height="344" width="500" /></p>
<pre>Pantang tidak mejeng</pre>
<p>Gak terasa, ternyata kita berempat telah menghabiskan waktu sepanjang pagi hingga sore, kita tuntaskan dan segera balik, sambil sekalian mampir di sungai, sapa tau pukat kita yang dipasang tadi pagi sebelum berangkat sudah ada penghuninya, sambil sekalian membasuh badan di sungai yang sepi dan jernih.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/sungoi.jpg" alt="Mandi di Sungai" height="322" width="492" /></p>
<pre>Tidak lupa mandi dulu sebelum balik</pre>
<p>Selanjutnya adalah tinggal nunggu dan cek rutin tiap hari, yang jelas tugas selanjutnya bukan untuk aku, gimana bisa ngapalin lokasinya di hutan belantara kayak gitu, di komplek perumahan aja aku bisa nyasar kok hehehhehhe. Itulah hebatnya teman-temanku itu, mereka pasti punya daya ingat atau setidaknya tau alat bantu untuk mengingat lokasi dan tempat di luasan seperti itu. Bisa masang jerat tapi gak mengingat lokasi pemasangannya sama aja seperti bikin rumah tapi tidak tau alamatnya. Mau nanya ke siapa kalo bikinnya di alas, kecuali bisa berkomunikasi dengan para wewe gombel.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://img.faizal.web.id/kijang.jpg" alt="Tripot, si Kijang" height="302" width="500" /></p>
<pre>Tripot, si Rusa Betina</pre>
<p>Aku panggil  Tripot karena kakinya cuman ada tiga, Tripot juga yang terjebak dengan jerat kami, sudah ketangkap maunya di sembelih kok pada kasian, akhirnya jadi teman main kami mandi pagi dan sore di sungai hehehhehe begitulah mereka&#8230;.</p>
<p><em>congkie: satu dua tiga sayang semuanya&#8230;&#8230;.. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/jelajah/memasang-jerat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hydram Pump dengan Paralon dari Ciwidey</title>
		<link>http://faizal.web.id/kutipan/hydram-pump-dengan-paralon-dari-ciwidey.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/kutipan/hydram-pump-dengan-paralon-dari-ciwidey.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 08:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kutipan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[hidram]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/tutorial/hydram-pump-dengan-paralon-dari-ciwidey/</guid>
		<description><![CDATA[  
Design type satu dan dua hydram pump yang dibuat dari paralon
Desain Pompa Hydram yang dibuat dari paralon pernah saya liat di Ruang Pameran Balai Kota di Malang yang di prakarsai oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang, namun yang dipamerkan adalah miniaturnya, pakai ukuran pipa paralon 1 inchi, yang memang tujuannya untuk melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/ram_pump_12.jpg" alt="Design Hydram Tipe Pertama" width="176" height="220" /> <img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/ram_pump_21.jpg" alt="Design Hydram Tipe Dua" width="176" height="220" /> <img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/ram_pump_22.jpg" alt="Design Hydram Tipe Dua" width="176" height="220" /></p>
<pre>Design type satu dan dua hydram pump yang dibuat dari paralon</pre>
<p>Desain Pompa Hydram yang dibuat dari paralon pernah saya liat di Ruang Pameran Balai Kota di Malang yang di prakarsai oleh <a title="Fakultas Pertanian Unibraw" href="http://fp.brawijaya.ac.id" target="_blank">Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang</a>, namun yang dipamerkan adalah miniaturnya, pakai ukuran pipa paralon 1 inchi, yang memang tujuannya untuk melihat cara kerja Pompa Hydram kepada pengunjung. Tapi kali ini saya ditunjukkan sama Bapak Eko dari Bandung tentang rancangaannya sendiri membuat Pompa Hydram dari bahan yang murah dan mudah pemasangannya.  Inilah  hasil diskusi  saya lewat email dengan  Bapak Eko, dan   bersyukurlah saya karena  atas ijin dari  Pak  Eko, beliau menyediakan photo hasil dokumentasinya untuk menyertai catatan ini.<span id="more-27"></span></p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydram_pump_ciwidey05.jpg" alt="Pompa Hydram" width="550" height="412" /></p>
<p>Pak Eko menemukan saya melalui Pompa Hidram yang sempet saya tulis sebelumnya di blog ini juga. Perencanaan memang sangat penting, sebagai upaya untuk menentukan tujuan dan target, cukup detail juga bapak ini dalam &#8220;ngonceki&#8221; data dan permasalahnya.</p>
<blockquote><p>Saya memang tidak membuat seperti yang telah anda buat dalam web anda. Menurut saya terlalu ruwet. Saya pingin buat yang mudah,dari bahan yang juga mudah didapat, dengan cara buat yang mudah. Tapi ternyata prakteknya tidak mudah juga. Saya terinspirasi dari model-2 di web site orang-2 bule yang katanya dengan bahan sekitar 1.25-1.5 inchi dan dari bahan pralon bisa jua. Makanya saya coba buat. Kalau jarak tandon air 100 m, ketinggian 10 m di atas pompa, pipa penyalur .5 inch, maka berapa lama air sampai di tujuan? Diameter pompa 1.25 inchi, sumber air 1m di atas pompa, debit mata air 35 l/menit.</p></blockquote>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydram_pump_ciwidey03.jpg" alt="hydram pump" width="550" height="412" /></p>
<p>Sungguh, saya pun tidak punya dasar bagus untuk materi itungan materi Fluida seperti itu. Mohon maaf pak eko, kalo tentang itungan ilmiahnya saya &#8220;tidak mudeng babar blas&#8221;, cuman memahami kerangka dasar prinsip kerjanya. Pesen dari Mbahnya Pak Eko memberi sentuhan semangatku.</p>
<blockquote><p>Aku juga bukan ahlinya pak, jadi gak ngerti itung-itungannya. Tapi saya seneng mencoba hal baru yang menarik. Tak anggap ini adalah ilmu katon kata orang jawa, sehingga dengan eksperimen bida diatasi. Kata Nabi, jangan serahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya, kalau dilakukan ya tunggu kehancurannya.<br />
Pesan ini saya balik, kalau pengin jadi ahlinya maka perlu pengorbanan dan perjuangan (sebagai ganti dari kehancuran), atau kita harus berani hancur-2-an. <strong>JER BASUKI MOWO BEYO</strong>, katanya Mbahku.</p></blockquote>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydram_pump_ciwidey06.jpg" alt="Pompa Hydram" width="550" height="412" /></p>
<p>Perjuangan dan semangat pantang mundur, mungkin inilah yang menjadi modal dasar bagi kita semua yang sedang berupaya untuk maju, kata berhasil juga selalu ada di akhir, ikut menjadi pertanda terhadap kegigihan berupaya.</p>
<blockquote><p>Wah rupanya usaha saya mulai membuahkan hasil. Da kita rupanya sama-2 gak ngerti masalah itung-2an pompa ini, ha&#8230;..ha&#8230;&#8230;ha&#8230;&#8230;.Percobaan saya yang pertama adalah menggunakan pralon 1.25 inchi input dan outputnya 3/4 inchi yang saya sambungin ke 1/2 inchi. Yah debit air outputnya kalo saya ukur dari air mutahan lewat klep buang adalah 250 cc. (inipun belum menggambarkan debit air yang dikeluarkan pompa ini&#8230;&#8230;.)</p></blockquote>
<blockquote><p>Waktu itu saya mungkin kurang sabar, sehingga saya putuskan untuk berhenti dan evaluasi dulu. Maklum saya bukan orang yang ngerti masalah fluida. Makanya saya coba buat lagi tapi saya rakit dari bahan pipa besi dengan ukuran yang sama. Nah yang ini, insyaallah akan saya coba dikebun teman di ciwidey minggu depan.</p></blockquote>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydram_pump_ciwidey01.jpg" alt="Pompa Hydram" width="550" height="412" /></p>
<p>Dari 2 (dua) desain hasil karya Pak Eko, saya cenderung memilih desain yang menggunakan pipa pendek di ujung tabung, disamping lebih kokoh jika di berdirikan, menggunakan pipa panjang untuk Tabung jusru memberi ruang sempit antara jarak sumber air dengan tekanan, asumsi kasar kalo jarak tabung dengan sumber terlalu pendek pasti akan mempengaruhi tekanan dalam tabung tersebut. Tahap berikutnya Pak Eko sudah bisa melanjutkan pemasangan di lapangan di kebun temannya di Ciwedey, Jawa Barat.</p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydram_pump_ciwidey02.jpg" alt="Pompa Hydram" width="550" height="412" /></p>
<p>Nah ini dia yang pengen saya komentari, tentang input air, jika kedua photo ini digabungkan, asumsi saya berarti  beda jarak ketinggian antara input dengan tabung menjadi sangat pendek, atau bahkan bisa jadi lebih tinggi tabungnya, saya pikir inilah jadi permasalahan kenapa air tidak bisa naik maksimal.  Usulan teknis saya bagaimana jika disambungkan langsung ke pipa keluaran air tersebut, untuk mendapatkan beda jarak, sehingga akan menaikkan tekanan dalam tabung. Coba bisa dilihat ulang di <a title="Hydraulic Ram Pumps" href="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydraulic_ram_pumps.pdf" target="_blank">file prinsip kerja hydram pump disini</a></p>
<blockquote><p>Lalu saya coba buka-2 referensi yang saya punyai, ternyata kesimpukan saya ada beberapa misalnya :</p>
<ol>
<li>Disain pralon full atau saya sebut DRP-1 saya ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, jarak antar klep terlalu panjang, jarak tabung dengan pipa output terlalu panjang. Meskipun di produk dan penjelasan disain pompa ini gak ada ukuran-2nya, kayaknya main feeling kali.</li>
<li>Saya putuskan untuk mengganti pralon dengan pipa ledeng, supaya jarak-2 menjadi lebih pendek. Saya buat DRP-2</li>
<li>Saya juga mau eksperimen dengan pralon full, tapi jarak-2nya dijadikan pendek, cuma belum punya waktu, bikin eksperimen.</li>
<li>Kesalahan perhitungan di lokasi, maklum karena kedinginan, jadi ngehang semuanya. Hal ini menghasilkan kesimpulan yang salah.</li>
</ol>
</blockquote>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydram_pump_ciwidey04.jpg" alt="Pompa Hydram" width="550" height="412" /></p>
<pre>Jarak input dengan tabung lebih ditinggikan untuk mencapai tekanan udara di tabung</pre>
<p>Dari saya, menyimak pesan yang diterima oleh Pak Eko&#8230;..</p>
<blockquote><p>Yang saya lakukan hanya iqro, pesan pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi saw. Saya lihat gambar-gambar yang ada, saya iqra terhadap gambar-2 tersebut, saya bandingkan dengan punya saya, saya analisa dengan kemampuan yang ada pada saya, saya perkirakan kemungkinannya. Hanya itu pak, saya bukan ahli fisika, saya hanya diberi keahlian oleh Allah untuk berfikir, ya karunia itulah yang saya pake. he&#8230;.he&#8230;.he&#8230;.. mari kita bikin hidup ini sederhana biar mudah pak&#8230;&#8230; kalo teori kan rumit, bikin mumet dan belum tentu menyelesaikan masalah&#8230;&#8230;&#8230;. he&#8230;&#8230;.he&#8230;..he&#8230;&#8230;&#8230;</p></blockquote>
<p>Jadilah sudah apa yang sedang dibangun, sesuai dengan harapan, meski perlu proses yang panjang dan butuh kesabaran disamping ketelitian dan kecermatan. Dengan perkembangan saat ini membuat Pompa Hidram udah gak perlu lagi pake las atau besi, sudah dipermudah seperti merangkai Puzzle.</p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/hydram_pump_ciwidey07.jpg" alt="Pompa Hydram" width="550" height="412" /></p>
<pre>Tandon tampungan untuk air bersih</pre>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=f4ngVxNF7Uw&amp;NR=1"><img src="http://img.youtube.com/vi/f4ngVxNF7Uw&amp;NR=1/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p>
<p>Selamat Mencoba,  terima kasih banyak Pak Eko telah memberikan banyak pengetahuan dan informasi dari pengalamannya, dan juga semoga ini sebagai ajang silaturahim kita.</p>
<h2>Artikel Lainnya</h2>
<p><a title="Pompa Hidram" href="http://faizal.web.id/tutorial/pompa-hidraulik-ram-hidram/" target="_self">http://faizal.web.id/tutorial/pompa-hidraulik-ram-hidram/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/kutipan/hydram-pump-dengan-paralon-dari-ciwidey.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Energi Alternatif dari Gunung Halimun</title>
		<link>http://faizal.web.id/tutorial/energi-alternatif-dari-gunung-halimun.html</link>
		<comments>http://faizal.web.id/tutorial/energi-alternatif-dari-gunung-halimun.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 13:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>uconk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[energi]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[ornop]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faizal.web.id/sky/tutorial/energi-alternatif-dari-gunung-halimun/</guid>
		<description><![CDATA[Dari Gunung Halimun, kebutuhan listrik masyarakat dapat diupayakan secara mandiri, tanpa harus tergantung dengan PLN, memang daya yang dikeluarkan tidak bisa memenuhi kebutuhan se-desa, apalagi se-Kecamatan, karena daya yang dikeluarkan berkisar antara 1000 &#8211; 2500 watt, tapi lumayanlah buat nonton tipi rame-rame atau menerangi jalan desa. Saya yakin, dengan hanya melihat beberapa gambar yang ditampilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari <strong>Gunung Halimun, </strong>kebutuhan listrik masyarakat dapat diupayakan secara mandiri, tanpa harus tergantung dengan PLN, memang daya yang dikeluarkan tidak bisa memenuhi kebutuhan se-desa, apalagi se-Kecamatan, karena daya yang dikeluarkan berkisar antara 1000 &#8211; 2500 watt, tapi lumayanlah buat nonton tipi rame-rame atau menerangi jalan desa. Saya yakin, dengan hanya melihat beberapa gambar yang ditampilkan disini, saya yakin anda bisa memahami sendiri bagaimana membuatnya. Selamat mencoba..!!</p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/micro_hidro4.jpg" alt="Micro Hidro dari Gunung Halimun" width="570" height="300" /></p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<p>Semua rangkaian dan komponen dari kincir ini bisa di beli di toko-toko listrik dan bangunan, kalo toh harus bikin mungkin bagian kincirnya, yang nampak pada gambar memang terbuat dari bahan logam, bisa juga di coba dengan bahan alternatif dari fiberglass, ringan dan kuat, tapi mungkin sedikit agak mahal.</p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/micro_hidro.jpg" alt="Mini PLTA" width="570" height="330" /></p>
<p>Cara kerja mikohidro ini mudah dipahami, lebih jelasnya dapat diketahui dari ilustrasi yang tersaji berikut ini dari  <a title="Greenpeace UK" href="http://www.youtube.com/user/GreenpeaceUK" target="_blank">Greenpeace UK</a></p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=S4B2gODY3Mk"><img src="http://img.youtube.com/vi/S4B2gODY3Mk/default.jpg" width="130" height="97" border=0></a></p>
<p>Untuk kapasitas masyarakat sekampung, memang agak terbatas, kecuali kampung yang jumlah anggota masyarakatnya belum membutuhkan banyak keperluan kecuali penerangan, memang sudah jadi kecenderungan kalo listrik mulai masuk wilayah, perubahan dan prilaku sosialpun seiring mengikuti, tidak cukup hanya kebutuhan penerangan rumah dan jalan, kebutuhan terhadap hiburan, informasi dan komunikasi selalu menjadi ikutan proses.</p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/micro_hidro3.jpg" alt="Kincir Listrik Tenaga Air" width="570" height="371" /></p>
<p>Debit air memang menentukan, demikian juga dengan pasokannya harus dipertahankan tidak pernah berkurang (tekor) atau malah habis. Perhitungan kasarnya adalah menampung pasokan air dengan papan yang dibuat tertutup seperti pipa.</p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/micro_hidro2.jpg" alt="PLTA Micro Hidro" width="570" height="336" /></p>
<p>Coba perhatikan terjunan air mengalir menuju kincir, dibuat patahan curam biar tendangannya semakin kenceng untuk memutar roda kincir.</p>
<p><img src="http://sites.google.com/site/jusronfaizal/micro_hidro1.jpg" width="570" height="708" /></p>
<p>Pak Haryo, gimana kabarnya pak?, masih malang melintang di desa-desa seluruh nusantara ya pak? saluuutt!! (saya menyapa yang pake kaos coklat dan celana pendek di photo ini&#8230;hehehehe)</p>
<p>-<em>conkie: hari ini aku melamunkan kapan yah ada yang ngajak main ke gunung halimun&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faizal.web.id/tutorial/energi-alternatif-dari-gunung-halimun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
